Lakukanlah hal kecil dengan kasih yg besar
Kasih yang murni mampu melakukan perbuatan-perbuatan besar dan ia tidak dipatahkan oleh kesulitan atau penderitaan. Sebagaimana kasih tetap kuat di tengah kesulitan-kesulitan besar, demikian juga ia bertahan dalam nenghadapi kehidupan sehari-hari yang rutin dan membosankan. Ia tahu bahwa hanya satu hal yang diperlukan untuk menyenangkan Hati Allah: melakukan bahkan hal-hal yang paling kecil karena kasih yang besar- kasih, dan hanya kasih. (BHF 140)

Saya sangat tertarik dengan kalimat  “Kasih yang murni mampu melakukan perbuatan besar dan ia tidak dipatahkan oleh kesulitan dan penderitaan.” Dalam banyak hal, kadang saya mengira sudah menjiwai segala pekerjaan sederhana dengan cinta yang besar. Ternyata, kalau direnung lebih dalam, sepertinya itu pikiran dan ukuran saya. Kasih akan sungguh teruji saat ada kesulitan, penderitaan dan tantangan. Saat biasa-biasa, saya merasa bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar. Namun, saat hati menderita ( kesulitan yang lebih menyerang harga diri bukan beratnya pekerjaan tertentu), jangankan melakukan dengan cinta yang kecil apalagi besar, saya malah tersandung dengan keengganan untuk melakukannya. Nyata bagi saya bahwa melakukan hal kecil dengan cinta yang kecil pun butuh kerendahan hati yang besar. Apalagi dengan cinta yang besar, saya butuh berlaksa rahmat Allah agar dimampukan untuk melakukan semuanya.

Kalau membaca BHF, saya merasa membaca kisahku sendiri. Saya berjumpa dengan diriku sendiri, karena hampir semua pengalaman Faustina adalah pengalamanku. Begitulah hidup di biara, kalau diukur dengan cara pandang duniawi masa sekarang ini rutin dan membosankan. Kalau tidak memiliki iman yang besar, kasih yang murni dan harapan yang teguh, sudah lama angkat kaki. Syukur pada Allah sebab kasih karunia-Nya melimpah dan selalu tercurah paling berlimpah persis saat sedang mengalami pergumulan. Pergumulan utamanya adalah bagaimana sungguh-sungguh mengasihi dengan ukuran kasih yang dikehendaki Allah. Mengasihi sebagaimana Allah mengasihi.

Sekali lagi, syukur kepada Allah karena kasih kerahiman-Nya, sebab hanya kesadaran akan kerahiman ilahi yang besar yang memampukan untuk tetap melangkah maju.. Saya tetap belajar mencintai, membaharui diri dengan banyak belajar untuk melakulan karya kerahiman, meski sadar tidak sempurna. Saya percaya  Tuhan yang menyempurnakan kasihku yang suam-suam kuku. Saya membiarkan kasih-Nya yang tetap merengkuh aku untuk tetap mengasihi semampuku dalam semangat tobat, agar persembahan diri melalui hal-hal kecil dengan cinta kecil apa.adanya dari diriku berkenan pada Tuhan. Sekolah kehidupan ini, bagiku seperti oase di tengah ziarah jiwa, untuk  saling meneguhkan agar tetap terus berjalan maju karena Yesus andalanku.*hm