JUMAT, PEKAN BIASA XVII, PERINGATAN WAJIB ST. IGNASIUS DARI LOYOLA, IMAM
Yer 26:1-9; Mzm 69:5.8-10.14; Mat 13:54-58;
Hari ini Gereja merayakan St. Ignasius dari Loyola, imam yang mendirikan Serikat Yesus (Jesuit), seorang tokoh pembaharu rohani yang menekankan doa, discernment (pembedaan roh), dan pelayanan misioner. Bacaan liturgi menyingkapkan panggilan untuk setia pada kebenaran meski ditolak, serta meneladani Kristus yang menjadi sumber kekuatan dalam pelayanan.
Secara amat lugas nabi Yeremia menyampaikan Sabda Tuhan tentang bangsanya. Tuhan menegaskan bahwa jika umat tidak mau mendengarkan Sabda dan melakukannya niscaya mereka akan binasa. Rumah Tuhan serta kota kediaman mereka akan hancur. Akibat pewartaannya, nabi Yeremia justru diancam hukuman mati oleh bangsanya. Itulah risiko yang harus ditanggung oleh sang nabi.
Ketika mendengar pewartaan-Nya, orang tempat asal-Nya menjadi kagum. Namun, mereka segera menolak Yesus karena mereka merasa telah mengenal siapa Yesus itu. Orang-orang sekampung-Nya itu lupa bahwa pengenalan mereka terhadap Yesus amat dangkal. Misteri pribadi Yesus tidak mereka kenal secara sungguh-sungguh. Mereka hanya berhenti pada hal-hal lahiriah, formal, tidak sampai pada inti, hakikat pribadi Yesus itu.
Santo Ignasius Loyola adalah contoh dan teladan iman dalam keteguhan, kesetiaan, dan kesabaran. Berbagai rintangan dan godaan hidup ia hadapi dalam iman akan Allah. Semuanya itu akhirnya membuahkan hasil yang nyata dalam sikap serta prinsip imannya “Ad Maiorem Dei Gloriam”.
Sejauh mana aku telah mengenali secara utuh Tuhan yang aku imani itu? Apakah risiko yang harus aku hadapi karena imanku telah membuat aku bangga atau sebaliknya membuat aku bersembunyi dan mencari aman saja?
Hari ini kita diteguhkan untuk setia pada kebenaran meski ditolak, menjadikan doa sebagai kekuatan, dan meneladani St. Ignasius dalam discernment serta pelayanan. Mari kita hidup dengan semangat “Ad Maiorem Dei Gloriam,” agar seluruh karya kita memuliakan Allah. Mari meneladani St. Ignasius Loyola membuka diri untuk lebih mengenali siapa Tuhan yang kita imani itu, sehingga kita mampu menghadapi segala risiko yang menghadang kita dalam seluruh perjalanan hidup kita, menghasilkan buah yang nyata dalam sikap dan prinsip iman kita: “Ad Maiorem Dei Gloriam”.
Tuhan memberkati. RD AMT
Recent Comments