Masa Prapaskah yang Agung
Apabila aku membenamkan diri dalam sengsara Tuhan, dalam adorasi, sering kali aku melihat Tuhan Yesus seperti ini: sesudah didera oleh para algojo, Tuhan dibawa ke tempat lain. Mereka menanggalkan pakaian-Nya yang sudah melekat pada luka-luka-Nya; begitu mereka menanggalkannya, luka-luka itu terbuka kembali. Kemudian mereka mengenakan pada-Nya mantol merah yang kotor dan compang-camping, menutupi luka-luka segar itu. Pada beberapa bagian, mantol itu hampir tidak mencapai lutut Tuhan. Mereka memaksa Dia duduk di atas sepotong balok. Kemudian mereka menganyam sebatang mahkota duri yang mereka pasang pada kepala-Nya yang kudus. Mereka memasang sebatang buluh pada tangan Tuhan dan memperolok-olokkan Dia sambil memberi hormat kepada-Nya seperti kepada seorang raja. Mereka meludahi wajah-Nya, sementara orang lain mengambil buluh itu, lalu memukuli kepala-Nya. Beberapa orang lain menyakiti Dia dengan nenampar-Nya; yang lain lagi menutupi wajah-Nya lalu dengan kepalan tangan mereka meninju-Nya. Yesus menanggung semua itu dengan tenang. Siapa dapat memahami Dia – memahami penderitaan-Nya? Mata Yesus tertunduk.
Aku merasakan apa yang sedang terjadi dalam Hati Yesus yang teramat manis pada saat itu. Biarlah setiap jiwa merenungkan apa yang diderita Yesus pada saat itu. Mereka berusaha saling berlomba dalam menghujat Tuhan. Aku tak habis pikir: dari mana datangnya kejahatan sebesar itu dalam diri manusia? Semua itu disebabkan oleh dosa. Di sini, kasih dan dosa telah bertemu. BHF 408 •
Membaca dan merenungkan BHF hari ini, aku sungguh terlarut dalam sengsara Yesus, satu per satu, sebagaimana digambarkan Faustina. Gambaran sengsara Yesus yang sangat menyedihkan. Betapa besar sengsara yang Yesus alami namun diterima dan ditanggung-Nya dengan tenang. Pertanyaan Faustina mengguncang batinku: “Siapa dapat memahami Dia, memahami penderitaan-Nya?”
Bagiku, ini seolah Faustina berkata kepadaku: bila ingin mengenal Yesus lebih dalam, renungkan, pahami, resapkan, dan rasakan penderitaan-Nya. Tidak ada jawaban lain selain, semuanya karena kasih. Faustina menulis bahwa manusia saling berlomba menghujat Tuhan. Aku terdiam. Dari mana datangnya kejahatan sebesar itu?“Di sini, kasih dan dosa telah bertemu.” Hatiku menjawab pelan: karena tidak mengenal-Nya, maka tidak ada kasih kepada-Nya.
Dulu, dalam peristiwa sengsara Yesus, banyak orang mengolok, menghina, dan menghujat-Nya. Yesus menanggung semuanya. Aku sadar. Perlombaan menghujat Tuhan tidak berhenti di masa lalu. Tapi terus terjadi hingga hari ini yang terjelma dalam sikap tak tahu bersyukur, enggan berkorban, menghindar bahkan menolak untuk mengasihi, lebih suka memelihara dosa dengan sadar daripada memelihara rahmat Allah.
Aku menulis ini dengan sedih, sambil bercermin pada diriku sendiri. Yesus menderita karena dosaku, namun kasih-Nya tetap untukku selalu dsn selamanya. Dalam sengsara dan derita yang Ia terima dengan tenang, kasih Allah yang tak terbatas berjumpa dengan dosa manusia—termasuk dosaku. Kini, aku ingin tinggal sejenak di hadapan Yesus yang tertunduk, memandang luka-luka-Nya, dan membiarkan hatiku disentuh. Kubiarkan semoga permenungan sengsara-Nya membangkitkan dalam diriku pertobatan yang lebih jujur, syukur yang lebih dalam, dan kasih yang lebih nyata.
Yesus, Engkau andalanku.*hm
Recent Comments