JUMAT, PEKAN BIASA XIII
Kej. 23:1-4,19;24:1-8,62-67; Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5; Mat. 9:9-13

Iman Abraham tumbuh dan berkembang dalam berbagai dinamika peristiwa hidup. Kematian Sara, istrinya menjadi salah satu sendi perwujudan Perjanjian Allah. Tanah tempat Sara dikuburkan akan menjadi Tanah Perjanjian. Janji Allah itu juga semakin terwujud melalui perkawinan Ishak dan Ribka. Perkawinan itu dilihat sebagai penyelenggaraan Ilahi. Sebab, Ishak menemukan istrinya dari lingkungan keluarganya yang sama. Dengan demikian pemenuhan janji Allah semakin terbuka lebar.

Tindakan Yesus memanggil Matius, si pemungut cukai adalah sebuah sandungan yang amat sangat besar. Bagi orang Israel, pemungut cukai adalah pengkhianat bangsa, kaki tangan penjajah. Mereka digolongkan sebagai pendosa berat, najis dan harus disingkirkan. Lalu, mengapa Yesus memanggil Matius? Yesus mau menunjukkan belas kasih Allah. Pada Matius ditemukan sikap kesediaan dan kerelaan untuk mengubah diri dan mengikuti jalan dan cara yang dituntun oleh Yesus dalam belas kasih dan penyelenggaraan Ilahi.

Sejauh mana aku telah membiar diriku dituntun oleh daya penyelenggaraan Ilahi Allah bagi hidupku? Apakah aku selalu membuka diriku untuk dituntun dan digerakkan oleh belas kasih Allah?
Mari membiarkan diri kita dituntun oleh daya penyelenggaraan Ilahi Allah bagi hidup kita. Mari membuka diri kita untuk dituntun dan digerakkan oleh belas kasih Allah. Mari belajar dari iman Abraham dan Matius!
Tuhan memberkati. * RD AMT