SELASA, PEKAN BIASA XVI, PERINGATAN WAJIB ST. MARTA, MARIA, DAN LAZARUS
1Yoh. 4:7-16; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7, 8-9,10-11; Yoh. 11:19-27 Luk. 10:38-42
Pada tanggal 2 Februari 2021, Paus Fransiskus telah menyetujui perubahan pesta liturgi St. Marta dengan memasukkan pula nama saudara perempuan dan saudara laki-lakinya, Maria dan Lazarus, ke dalam Penanggalan Liturgi Gereja Katolik. Dengan persetujuan itu, nama saudari dan saudara Marta, yaitu Maria dan Lazarus ditambahkan ke dalam perayaan 29 Juli dalam penanggalan Pesta dan Hari Raya untuk ritus Latin Gereja Katolik.
Paus menetapkan perubahan itu setelah mempertimbangkan kesaksian yang perlihatkan dalam Injil (Yoh 11:1-44; Luk 10:38-42). Ketika menyambut Tuhan Yesus yang datang ke rumah mereka, Marta dan Maria mendengarkan Yesus dengan penuh perhatian, dan mengimani bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Ketika mendengar bahwa Yesus dan para murid-Nya datang, Marta berinisiatif segera menyambut mereka dengan murah hati dan ramah-tamah. Marta lalu sibuk melayani Yesus dan para murid-Nya. Sedangkan Maria duduk di dekat kaki Yesus untuk mendengarkan perkataan-Nya dengan penuh perhatian. Apa yang dilakukan Maria sebenarnya merupakan kebiasaan kaum laki-laki pada masa itu, yaitu: duduk berbicara dengan tamu. Sebaliknya, apa yang dilakukan Marta adalah pekerjaan kaum perempuan pada masa itu: sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menjamu tamu. Sedangkan Lazarus yang telah mati dan sudah dikuburkan segera keluar dari kubur atas perintah Yesus yang berkuasa mengalahkan maut. merupakan sebuah kebaruan yang diperlihatkan Yesus. Kehadiran Yesus membawa pembaruan bagi mentalitas lama. Ia memberi tempat pada peran perempuan yang setara dengan laki-laki: semua mempunyai hak yang sama dalam hal berbicara, mendengar maupun melakukan pekerjaan rumah tangga. Dengan demikian Yesus juga mengajarkan bahwa baik waktu khusus untuk mendengar Sabda Tuhan maupun untuk melakukan aktivitas pelayanan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Dan keduanya dapat dilakukan baik pria maupun wanita. Dengan kata lain, setiap orang beriman diingatkan bahwa dalam iman Kristiani, dimensi kontemplatif dan aktif merupakan satu-satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan atau dipertentangkan.
Apakah aku selalu mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan untuk menyatukan dimensi kontemplatif dan aktif dalam mewujudkan imanku?
Mari meneladani Santa Marta, Maria, dan Lazarus untuk selalu mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan, menyatukan dimensi kontemplatif dan aktif dalam mewujudkan iman kita.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments