SELASA, PEKAN BIASA XXV: PERINGATAN WAJIB ST. PADRE PIO DARI PIETRELCINA, IMAM
Ezr. 6:7-8,12b,14-20; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 8:19-21
Pembangunan bait Allah diselesaikan menurut perintah Allah. Perintah itu terlaksana melalui raja-raja Persia. Orang Israel lalu mentahbiskan rumah Allah itu dengan sukacita. Di rumah Allah itu mereka merayakan Paskah. Sebuah perayaan istimewa sebagai wujud pembaruan ikatan persekutuan dengan Allah yang menjadi dasar, pusat, arah, dan tujuan hidup umat terpilih.

Melalui pernyataan yang sangat singkat, Yesus menegaskan sebuah prinsip dasar bagi persekutuan dengan dirinya. Persekutuan itu tidak didasarkan pada hubungan darah dan daging, tetapi pada pelaksanaan kehendak Allah. Relasi persekutuan baru tersebut dicirikan oleh “mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah”.

Padre Pio adalah seorang imam dan mistik OFMCap. Ia mendapatkan stigmata hampir dalam seluruh hidupnya. Walau demikian ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Berbagai rintangan hidup dihadapinya dalam kesabaran iman. Ia menyerahkan diri sepenuhnya pada Alah yang Mahakuasa. Ia wafat pada tanggal 23 September 1968.

Sejauh mana aku telah membangun ikatan persekutuan hidupku dengan Allah? Apakah Allah telah menjadi dasar, pusat, arah, dan tujuan hidupku? Bagaimana aku memupuk kemampuan untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah?
Mari bersama St. Padre Pio membangun ikatan persekutuan hidupku dengan Allah, menjadikannya sebagai dasar, pusat, arah, dan tujuan hidup kita. Mari memupuk kemampuan untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah.
Tuhan memberkati.*RD AMT