MINGGU KELUARGA KUDUS
1Sam 1:20-22,24-28; Mzm 84:2-3,5-6,9-10; 1Yoh 3:1-2,21-24; Luk 2:41-52
Hana telah berdoa memohon kepada Allah untuk mempunyai seorang anak laki-laki. Ia berkaul, bila diperkenankan melahirkan seorang anak, maka anak itu akan diserahkannya ke Bait Allah untuk mengabdi Allah seutuhnya. Allah berkenan mendengarkan doanya. Atas perkenanan Allah Hana melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Samuel, yang berarti “ia yang berasal dari Allah”. Kini saatnya Hana untuk mewujudkan kaulnya itu. Ia membawa Samuel ke Bait Allah di Silo, menyerahkannya kepada Allah. Hana melakukan itu karena ia sadar bahwa untuk mendapatkan anak itu ia telah berdoa dan Tuhan telah memberikannya kepadanya. Maka, ia pun menyerahkan anak yang berasal dari Allah itu kepada Allah.
Lukas menceritakan bagaimana Yesus yang sudah berumur 12 tahun bersama kedua orang tuanya pergi ke Yerusalem untuk merayakan pesta Paskah. Setelah hari-hari perayaan Paskah ketika mereka kembali ke Nazaret, tinggalah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya. Mereka kembali ke Yerusalem mencarinya. Pada hari ketiga mereka menemukannya sedang duduk di tengah-tengah para ahli agama di Bait Allah. Ia mendengarkan mereka dan juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Semua orang yang mendengarkan Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya.
Cerita Lukas ini harus dilihat dalam konteks tradisi Yahudi, yaitu bahwa mulai umur 12 tahun semua anak Yahudi wajib mengikuti upacara agama. Pada usia itu mereka diresmikan masuk dunia orang dewasa dalam suatu upacara inisiasi. Dapat diperkirakan bahwa Yesus menerima upacara ini di Bait Allah di Yerusalem sebelum perayaan Paskah. Baru setelah ikut upacara itu, seorang anak dapat ikut serta penuh dalam perayaan Paskah. Ia juga boleh diterima dalam sekolah Taurat. Orang Yahudi mempunyai anggapan bahwa setiap anak mempunyai tiga guru utama. Guru pertama ialah ibunya sendiri, dialah yang membesarkan anaknya dari lahir hingga anak itu disapih. Selanjutnya, peran pendidik diambil alih sang ayah sebagai guru kedua hingga anak itu memasuki masa pubertas, yaitu pada umur 12-13 tahun. Pada usia itu seorang anak mulai masuk dunia orang dewasa dan wajib hidup menurut ajaran Taurat. Setelah umur 12-13 tahun, sang anak dididik oleh guru ketiga, yaitu ialah Taurat. Maka itu, pada umur-umur itu seorang anak diinisiasi dengan upacara sebagai ”Bar Mitzvah”, ungkapan Aram yang artinya ”anak ajaran Taurat”. Pada konteks inilah setelah dinyatakan sebagai Bar Mitzvah, Yesus dapat ikut mendalami Taurat dan karena itu Ia tinggal di Bait Allah, bertanya jawab dengan para ahli agama. Di Bait Allah ada kelompok-kelompok sekolah Taurat. Kita bayangkan Yesus berpindah-pindah mengikuti pelajaran dari kelompok satu ke kelompok berikutnya sehingga Ia terpisah dari orang tuanya.
Dalam gema tradisi dan di dalam kesadaran diri sebagai pribadi dewasa yang mulai tumbuh inilah kita dapat memahami mengapa Yesus menjawab secara tegas kepada ibu-Nya, ketika kedua orang tua-Nya menemukan-Nya di Bait Allah: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” melalui pertanyaan-Nya itu, Yesus menegaskan bahwa Maria dan Yosef seharusnya tahu bahwa Ia harus selalu ada dalam rencana dan kehendak Bapa-Nya. Sebab, begitulah kehendak Bapa-Nya yang harus Ia lakukan. Maria dan Yosef tidak sepenuhnya memahami misteri itu. Berhadapan dengan misteri yang tidak selalu dapat dipahami itu, Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Pada cara Maria itu, setiap orang beriman diajak bersikap seperti Maria untuk memahami seluruh misteri iman dalam rencana dan kehendak Allah.
Yohanes melalui suratnya yang pertama menyatakan secara tegas dan jelas bahwa setiap orang beriman memiliki martabat luhur dan istimewa sebagai anak-anak Allah. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.”Keanggotaan kita sebagai anak-anak Allah merupakan karunia yang amat istimewa. Martabat yang luhur dan istimewa ini membawa konsekuensi bahwa kita harus selalu hidup saling mengasihi dan setia menurut segala perintah Allah dan berbuat apa yang berkenan di hati-Nya. “Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.”
Sebagai orang beriman, apakah aku sungguh menyadari martabatku sebagai putera-puteri Allah yang sangat dikasihi oleh Allah? Apakah aku selalu bersyukur atas karunia yang luhur dan istimewa itu? Apa dan bagaimana wujud nyata syukurku itu? Bagaimana aku telah membangun dan mewujudkan keluargaku sebagai keluarga beriman, keluarga kudus pilihan dan rencana Allah? Apakah aku selalu bersyukur atas keluargaku, apa pun kenyataannya, sebagai keluarga terindah yang dianugerahkan secara khusus dan istimewa bagiku? Apa wujud nyata syukurku itu?
Mari meneladani Keluarga Kudus Nazaret, membangun diri dan keluarga kita dalam kekudusan iman….menyimpan segala perkara Tuhan dalam hati…berserah diri kepada Allah atas seluruh rencana dan kehendak Allah.
Tuhan memberkati.
Recent Comments