Ketika membaca Injil tentang orang-orang Majus yang datang dari Timur dalam Matius 2 : 1 – 12,  hati saya sungguh tergerak. Mereka berani menempuh perjalanan yang sangat jauh, meninggalkan kenyamanan, mengikuti bintang yang mereka percaya sebagai petunjuk. Semua itu mereka lakukan demi satu tujuan: mencari dan menyembah Raja yang baru lahir. Saya membayangkan betapa besar kerinduan di hati mereka. Mereka tidak sekadar ingin melihat, tetapi datang dengan sikap hormat dan penghargaan yang mendalam. Mereka membawa persembahan yang sangat berharga, bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai ungkapan iman dan penyembahan.

Namun yang paling menyentuh saya justru adalah sikap Maria dan Yosef. Injil tidak banyak berkisah tentang reaksi mereka. Tidak ada dialog panjang, tidak ada ekspresi yang digambarkan secara rinci. Hanya satu hal yang ditunjukkan: orang-orang Majus masuk, melihat Anak itu bersama Maria, lalu sujud menyembah dan mempersembahkan hadiah-hadiah mereka. Dalam keheningan Injil itu, saya membayangkan betapa besar sukacita Maria dan Yosef. Sukacita yang tidak meledak-ledak, melainkan sukacita yang hening, penuh syukur, dan rendah hati. Siapa yang pernah menduga bahwa rumah sederhana mereka akan dikunjungi oleh orang-orang dari negeri yang jauh? Siapa yang membayangkan bahwa Anak yang mereka rawat dengan penuh kesederhanaan kini disembah oleh para raja?

Saya percaya, seperti peristiwa-peristiwa sebelumnya, Maria dan Yosef menyimpan semuanya itu di dalam hati. Mereka tidak memegahkan diri, tidak merasa istimewa, tetapi semakin diteguhkan dalam iman. Kunjungan orang-orang Majus ini barangkali menjadi semacam peneguhan dan konfirmasi bahwa Anak yang mereka asuh sungguh adalah bagian dari rencana besar Allah.Di hadapan peristiwa ini, saya belajar bahwa karya Allah sering kali dinyatakan bukan melalui kegemerlapan, tetapi melalui perjumpaan-perjumpaan sederhana yang menyentuh hati. Allah meneguhkan iman orang-orang kecil melalui cara-cara yang tidak terduga.

Pesta Penampakan Tuhan mengajak saya merenung:
Tuhan menampakkan diri-Nya kepada siapa saja yang mau mencari dengan tulus.
Dan sering kali, mereka yang paling dekat dengan misteri Allah dipanggil untuk menyimpan, merenungkan, dan bersyukur dalam keheningan.Seperti Maria dan Yosef, semoga saya pun belajar menerima karya Allah dengan hati yang sederhana, penuh syukur, dan percaya—bahwa setiap perjumpaan adalah bagian dari penyelenggaraan-Nya. *hm