Menerima kepahitan.Kasih harus timbal balik. Kalau Yesus mengecap kepenuhan kepahitan demi aku, maka aku, mempelai-Nya, harus mau menerima semua kepahitan sebagai bukti kasihku pada-Nya. (BHF 389)
“Kasih harus timbal balik.” Kalimat St. Faustina hari ini sangat sederhana, tetapi menusuk hatiku. Jika Yesus mengecap kepenuhan kepahitan demi aku, maka aku pun—sebagai milik-Nya—diajak untuk mau menerima kepahitan sebagai bukti kasihku kepada-Nya. Aku menyadari bahwa aku telah menerima kasih dari Tuhanku bahkan sebelum aku sungguh mengenal apa itu kasih. Namun, acap kali kasih Tuhan itu kubalas dengan sikap yang kurang tahu terima kasih, kurang bersyukur, bahkan dengan kelalaian. Hati Tuhan terluka ketika aku mengabaikan kasih-Nya. Padahal Yesus rela menerima semuanya: kepahitan, sengsara, dan derita—demi kasih kepada diriku.
Hari ini aku belajar: jika aku melakukan perbuatan baik, kiranya itu bukan untuk mencari pujian atau sekadar memenuhi kewajiban, melainkan sebagai upaya membalas kasih Tuhan—kasih yang sebenarnya tidak akan pernah terbalaskan. Aku juga belajar untuk sabar terhadap diriku sendiri, karena Tuhan sendiri begitu sabar terhadapku. Aku belajar mengasihi diriku dengan bijak, karena Tuhan begitu mengasihi aku.
Dan ketika aku merasa bekerja berat, memikul banyak beban dan tanggung jawab, aku ingin menerimanya dengan hati yang lebih lapang. Bukan sekadar bertahan hidup, bukan sekadar “memang harus begitu”, tetapi karena aku percaya: Tuhan telah lebih dulu mengasihi aku, dan demi hidupku Ia menanggung segalanya.
Dari St. Faustina aku belajar betapa pentingnya motivasi dalam melakukan yang baik: kerelaan menanggung beban, semangat berkorban, dan kesediaan menerima kepahitan dengan kasih. Tidak ada satu pun kepahitan dan derita yang melebihi apa yang telah dialami Yesus. Aku hanya mengambil bagian kecil di dalamnya—sebagai tanda kasihku kepada-Nya.
Aku juga belajar bahwa pengalaman hidup yang dinamakan kepahitan bahkan tidak akan terasa sebagai kepahitan, jika diterima demi kasih kepada Tuhan. Kepahitan bisa menjadi “manis” ketika semuanya diterima bersama Tuhan. Kiranya demikianlah pengalaman Faustina: ia rela menerima semuanya—pahit menjadi manis, derita menjadi berkat, sengsara menjadi anugerah. Tidak mudah jika dipikirkan, tetapi adakah yang lebih kuat daripada kasih yang sungguh tulus kepada Tuhan? Kasih mampu mengatasi segalanya. Kasih memampukan untuk sabar menanggung semuanya, termasuk kepahitan. Maka hari ini aku belajar: bukan meratapi hidup yang penuh kepahitan, tetapi mengarahkan tatapanku kepada Salib Kristus, tempat kasih mengalir dengan deras dan tak pernah habis. Yesus, Engkau andalanku.*hm
Recent Comments