SABTU, PEKAN BIASA XV
Kel. 12:37- 42; Mzm. 136:1,23-24,10-12,13-15; Mat. 12:14-21

Saat keluar dari Mesir adalah saat berjaga-jaga bagi Allah untuk membawa dan membebaskan Israel dari perbudakan. Israel harus segera berangkat. Oleh karena itu mereka tidak sempat mempersiapkan segala bekal bagi perjalanan mereka. Roti tidak beragi menjadi tanda penyerahan diri sepenuhnya pada bimbingan dan tuntunan Allah. Israel hanya dituntut untuk memiliki kesediaan dan keterbukaan hati menempuh perjalanan dalam tuntunan Allah. Melalui peristiwa itu, Israel disadarkan bahwa Allah-lah yang menuntun dan menjamin hidup mereka sepenuhnya. Kebebasan dan pembebasan adalah anugerah istimewa dari Allah bagi Israel.

Bagi orang Farisi, pewartaan, karya dan cara hidup Yesus adalah sebuah sandungan. Oleh karena itu mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus. Namun Yesus tidak membalas tindakan mereka dengan kekerasan. Sebaliknya, Yesus justru menunjukkan bagaimana kekuatan dan kekuasaan Allah yang melakukan tindakan penyelamatan dalam kelembutan tanpa kekerasan. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya”.

Bagaimana aku telah memanfaatkan kebebasan hidupku? Apakah aku semakin bersedia dan tersedia untuk dituntun sepenuhnya oleh Allah? Bagaimana aku telah mengenali dan menyadari kekuatan dan kekuasaan Allah yang bekerja dalam diriku?
Mari semakin bersedia dan tersedia untuk dituntun sepenuhnya oleh Allah. Mari mengenali dan menyadari kekuatan dan kekuasaan Allah yang bekerja dalam diri kita.
Tuhan memberkati. *RD AMT