Ketika aku mengikuti misa di sebuah gereja bersama seorang suster lain, aku merasakan keagungan dan kemuliaan Allah; aku merasakan gereja ini dipenuhi dengan Allah. Kemuliaan-Nya menyelimuti aku. Meskipun menakutkan, kemuliaan itu memenuhi aku dengan damai dan sukacita. Aku memahami bahwa tak suatu pun dapat melawan kehendak-Nya. O, seandainya semua jiwa menyadari siapa yang bersemayam dalam gereja-gereja kita, pasti tidak akan ada begitu banyak prnghinaan dan sikap kurang hormat di tempat-tempat kudus itu! (BHF 409)
O Kasih Abadi dan tak terselami, aku mohon kepada-Mu satu rahmat; terangilah budiku dengan terang dari atas; tolonglah aku memahami dan menghargai semua hal sesuai dengan nilainya. Ketika aku mulai mengenal kebenaran, aku merasakan sukacita yang amat besar di dalam jiwaku. (BHF 410)
“Aku memahami bahwa tak satu pun dapat melawan kehendak-Nya.”“Seandainya semua jiwa menyadari siapa yang bersemayam dalam gereja-gereja kita…” Faustina mengalami kehadiran Allah yang begitu nyata di dalam gereja. Kemuliaan Allah menyelimuti dirinya, menakutkan, namun sekaligus memenuhi jiwanya dengan damai dan sukacita. Kesadaran akan kehadiran Allah tidak membuat Faustina takut untuk menjauh, melainkan justru menumbuhkan damai yang dalam.
Kalimat Faustina ini mengingatkanku bahwa jika semua jiwa sungguh menyadari siapa yang bersemayam di dalam gereja, tentu tidak akan ada begitu banyak sikap kurang hormat. Tak mengenal, membuat kita tak menghargai.Maka ketika kehadiran Allah tidak lagi disadari, segalanya menjadi biasa, bahkan bisa menjadi lalai. Faustina berdoa: “Terangilah budiku dengan terang dari atas; tolonglah aku memahami dan menghargai semua hal sesuai dengan nilainya.” Doa ini terasa sangat jujur. Menghargai segala sesuatu sesuai nilainya hanya mungkin bila budi diterangi oleh Allah. Tanpa terang itu, kita bisa jadi salah menilai, menganggap yang kudus sebagai biasa, dan yang ilahi sebagai hal sepele.
Aku belajar bahwa mengenal Allah membawa sukacita. Ketika Faustina mulai mengenal kebenaran, jiwanya dipenuhi sukacita yang amat besar. Aku rindu akan kesadaran yang sama yakni dianugerahi rahmat untuk selalu sadar akan kehadiran Allah di gereja, dalam Ekaristi, dan juga dalam setiap ruang hidupku, dalam relung hatiku. Kesadaran itulah yang kiranya menuntunku untuk menghormati, bersikap pantas, dan menata hidup dengan lebih bijaksana. Aku ingin belajar untuk lebih sadar akan siapa yang bersemayam bukan hanya di gereja, tetapi juga di dalam hatiku. Semoga terang Kristus menolongku memahami dan menghargai segala sesuatu sesuai nilainya, sehingga hidupku semakin selaras dengan kehendak Allah.Tidak mudah, namun rahmat memampukan. Yesus, Engkau andalanku.*hm
Recent Comments