Mengunjungi keluarga
15 Februari 1935. Kunjungan beberapa hari ke rumah orang tuaku untuk mendampingi ibuku yang menghadapi ajal. Ibuku sakit keras dan hampir meninggal. Ketika aku tahu bahwa ia minta agar aku pulang karena ia ingin melihat aku sekali lagi sebelum meninggal, suatu gejolak emosi muncul dalam hatiku. Sebagai seorang anak yang sungguh mengasihi ibunya, aku sangat ingin memenuhi harapannya. Tetapi aku menyerahkan ini kepada Allah dan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Tanpa memperhatikan rasa sakit dalam hatiku, aku mengikuti kehendak Allah.
Pada pagi hari pesta namaku, 15 Februari, Muder Superior memberiku surat kedua dari keluargaku dan nemberi izin untuk pergi ke rumah orang tua, untuk memenuhi harapan dan permintaan ibuku yang menghadapi ajal. Aku langsung mengadakan persiapan yang perlu untuk perjalanan itu dan meninggalkan Vilnius pada malam hari. Aku mempersembahkan seluruh malam itu untuk ibuku yang sakit parah, agar Allah berkenan memberi dia rahmat, tidak kehilangan suatu pun dari pahala penderitaannya.
BHF 395
Kalimat ini terasa begitu kuat bagiku: “Tanpa memperhatikan rasa sakit dalam hatiku, aku mengikuti kehendak Allah.”
Ini bukan sikap dingin, bukan menekan perasaan, bukan juga tidak peduli. Justru karena Faustina mengasihi, ia merasakan sakit itu. Tetapi ia tidak membiarkan rasa sakit itu memimpin langkahnya. Ia memilih iman. Iman yang memimpin langkah dan harapannya.
Dan yang membuatku semakin tersentuh: sepanjang perjalanan, Faustina mempersembahkan malam itu untuk ibunya—agar ibunya menerima rahmat dan tidak kehilangan pahala penderitaannya. Faustina tidak hanya hadir sebagai anak, tetapi juga hadir sebagai jiwa yang mendoakan. Sebagaimana Faustina mendoakan jiwa-jiwa, demikian Faustina mendoakan jiwa ibunya.
Hari ini aku belajar bahwa kasih yang sejati tidak selalu berarti memiliki, menahan, atau memastikan semuanya berjalan sesuai harapanku. Kasih sejati itu tidak selalu harus buru-buru. Kadang tidak perlu usul atau berharap rasa iba atau rasa prihatin dari yang lain.
Jalan kasih sejati yang dihayati Faustina adalah menyerahkan diri kepada Allah, dan percaya bahwa Allah yang memegang kendali, Allah melihat dan menyelidiki maksud hati , Allah yang paling tahu dsn memutuskan yang terbaik melalui yang berwewenang yakni pemimpin. Kasih yang total kepada Allah, tidak mengurangi kasih kepada keluarga yang merupakan bagian sentral dari jiwa-jiwa yang sangat dikasihi. Hadiah indah dari Tuhan bagi yang percaya, mengandalkan Tuhan dan taat pada-Nya, Tuhan penuhi kerinduannya, dengan cara yang lebih dalam daripada yang mampu kita lakukan. Sungguh sangat bersyukur, belajar dari Faustina dalam SKR ini. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments