SELASA, PEKAN BIASA III
2 Sam. 6:12b-15,17-19; Mzm. 24:7,8, 9,10; Mrk. 3:31-35

Bacaan-bacaan ini mengajak kita untuk melihat bahwa iman bukan sekadar ritual, melainkan relasi hidup dengan Allah yang hadir di tengah umat-Nya.
Setelah diangkat menjadi raja, Daud segera memindahkan Tabut Perjanjian ke Yerusalem. Ia menari dengan penuh sukacita ketika Tabut Allah dibawa masuk ke Yerusalem.Tindakan ini merupakan usaha untuk menjadikan Allah sebagai pusat hidup kerajaan Daud. Allah yang hadir di tengah-tengah bangsa Israel menjadi dasar, arah dan tujuan kehidupan. Kehadiran Allah tersebut menjadi keyakinan dan kebanggan Israel sebagai bangsa dan umat pilihan.

Kedatangan ibu dan saudara-saudara Yesus yang berusaha untuk menemui-Nya digunakan oleh Yesus untuk menegaskan kepada para pendengar-Nya tentang dasar, arah, dan tujuan baru kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus. Yesus tidak melandaskan pertalian persaudaraan hanya pada hubungan darah dan adat-istiadat. Ia memberikan dasar, arah, dan tujuan baru, yaitu ”Melakukan kehendak Allah”.

Apakah aku telah menyadari bahwa hidupku adalah karunia Allah? Apakah tindakanku sudah merupakan pelaksaan kehendak Allah? Bagaimana aku telah mewujudkannya.
Daud menari, Mazmur berseru, Yesus menegaskan: semuanya menunjuk pada satu hal—Allah hadir di tengah kita, dan kita dipanggil menjadi keluarga-Nya. Mari kita buka hati, rayakan kehadiran-Nya dengan sukacita, dan hidup sebagai saudara-saudari yang melakukan kehendak Allah.
Mari menyadari hidup kita sebagai anugerah Allah, mewujudkannya dalam setiap tindakan hidup kita demi kemuliaan Allah.
Tuhan memberkati.*RD AMT