SENIN, PASKAH VI, PERINGATAN WAJIB ST. FILIPUS NERI, IMAM
Kis. 16:11-15; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Yoh. 15:26-16:4a;
Yesus menjanjikan penghibur, yaitu Roh Kebenaran yang berasal dari Bapa. Roh itu akan memberi kesaksian. Namun, Yesus juga menegaskan tugas para murid-Nya, yaitu memberi kesaksian. Tugas itu diemban oleh para murid karena sejak semula mereka bersama-sama dengan Yesus. Untuk melaksanakan tugas kesaksian, para murid akan menghadapi berbagai tantangan, bahkan akan dibunuh.
Di kota Filipi, Paulus dan Silas diterima baik. Tuhan membuka hati Lidia, sehingga mereka didengarkan dan mendapat tumpangan. Inilah awal mula perkembangan Gereja di Filipi. Gereja yang akan patuh setia pada bimbingan Allah dalam Roh Kudus.
Filipus Neri dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1515 di Florence, Italia. Ayahnya, Fransiskus Neri, bekerja sebagai seorang notaris. Walau keluarganya termasuk golongan bangsawan, tetapi mereka hidup dalam kemiskinan. Ketika usianya delapan belas tahun Filipus dikirim ke San Germano untuk belajar berdagang. Tetapi tidak ada sama sekali minatnya dalam berdagang. Ia malahan lebih sering menggunakan waktunya untuk berdoa di sebuah kapel di atas bukit. Filipus memperoleh nubuat dalam suatu penglihatan bahwa ia mendapat panggilan merasul di Roma, jadi ia meninggalkan keluarganya dan pindah ke Roma. Di Roma, Filipus belajar Filsafat dan Teologi selama tiga tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk hidup layaknya seorang pertapa.
Karena merasakan panggilan yang kuat untuk menjadi imam, Filipus masuk biara dan pada tahun 1551 ditahbiskan menjadi seorang imam. Bagi umatnya, Filipus adalah seorang imam yang spontan, tak dapat ditebak, menyenangkan serta penuh humor. Semua orang kudus selalu penuh pengharapan dan sukacita, tetapi pada Neri pengharapan dan sukacita itu tampak lebih nyata. Ia selalu melihat sisi baik dari semua peristiwa, baik peristiwa gembira maupun sedih yang dialaminya.
Tuhan melakukan banyak mukjizat-Nya melalui Pastor Neri. Namun demikian yang ingin dilakukan Pater Filipus hanyalah membawa sebanyak-banyaknya orang kepada Yesus. Oleh karena itulah, guna menghindari rasa kagum umatnya, Pater Filipus seringkali berlagak tolol. Pater Filipus ingin orang lain menertawakannya dan dengan segera lupa bahwa ia adalah seorang kudus.
Kepada para pengikutnya Pater Filipus sering berkata, “Bersukacitalah senantiasa, karena sukacita adalah jalan untuk berkembang dalam kebajikan”. Meskipun Pater Filipus seorang yang penuh humor, tetapi ia sangat serius dalam kehidupan doanya; berjam-jam dalam sehari dihabiskannya untuk berdoa. Jika seseorang bertanya bagaimana caranya berdoa, Pater Filipus akan menjawab, “Rendah hati serta taat, maka Roh Kudus akan membimbingmu.”
Filipus memiliki semangat doa yang luar biasa. Pada tanggal 26 Mei 1595, setelah menderita sakit cukup lama, Filipus meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun. Ia dimakamkan di Chiesa Nuova. Seluruh kota Roma berduka. Sebagai ungkapan syukur, Paus menyatakan Santo Filipus Neri sebagai Rasul kota Roma yang kedua sesudah Santo Petrus. Dengan teladan St. Filipus Neri, kita semua disadarkan bahwa masing-masing dari kita dipanggil bukan saja untuk menjadi orang kudus, melainkan juga untuk senantiasa penuh sukacita.
Bagaimana aku telah memberikan tempat bagi Roh Kudus untuk berperan di dalam setiap peristiwa hidupku? Apakah aku telah patuh setia pada bimbingan Roh Kudus? Apa wujud kesaksian imanku?
Mari membuka diri seutuhnya pada bimbingan Roh Kudus sehingga kita dapat menjadi saksi cinta kasih Allah yang patuh setia. Mari memberi tempat seluas-luasnya bagi peranan Roh Kudus di dalam setiap peristiwa hidup kita.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments