KAMIS, PEKAN BIASA XVI
Kel. 19: 1-2,9-11,16-20b; MT T.Dan. 3:52,53,54,56; Mat. 13:10-17
Israel sebagai bangsa terpilih harus melintasi perjalanan yang panjang di padang gurun. Dalam perjalanan yang panjang itu dengan berbagai cara Allah menuntun dan mendidik Israel umat-Nya itu. Di Sinai, sekali lagi Allah mengajak Israel untuk memahami hubungan mereka dengan diri-Nya. Hubungan itu dirumuskan dalam bentuk perjanjian. Perjanian Sinai menjadi ciri khas bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Allah digambarkan sebagai Allah yang kuat dan perkasa. Dalam hubungan itu, Musa menjadi pengantara bagi Israel. Maka mereka harus mendengarkan dan melaksanakan apa yang difirmankan oleh Allah dengan perantaraan Musa.
Kepada orang banyak Yesus menyampaikan pengajaran-Nya melalui perumpamaan. Namun kepada para murid-Nya Ia menyampaikan pengajaran secara detail. Melalui cara itu, setiap orang beriman disadarkan bahwa pewartaan Yesus yang kelihatan sederhana dan kecil, bahkan tampaknya gagal ternyata memiliki daya tumbuh yang amat dahsyat. Namun, hanya mereka yang memiliki keterbukaan hati dan pikiran akan menemukan daya tersebut. Bila orang membuka diri seutuhnya maka ia akan menjadi lahan yang amat subur tempat benih Sabda Allah itu berkembang dan menjadi kekuatan yang menyelamatkan. Ia akan menghasilkan buah yang berlimpah dalam daya kasih dan kesetiaan Allah yang menyelamatkan.
Sebagai orang beriman, sejauh mana aku telah membangun relasi kasih dan kestiaanku kepada Allah yang aku imani? Apakah aku telah membuka hati dan pikiranku seutuhnya bagi daya Sabda Allah yang ditaburkan ke dalam diriku? Apakah aku telah menjadi lahan yang subur, tempat tumbuh dan berbuahnya Sabda Allah itu?
Mari membangun kasih dan kestiaan kita kepada Allah yang kita imani. Mari membuka hati dan pikiran seutuhnya bagi daya Sabda Allah yang ditaburkan ke dalam diri kita. Mari menjadi lahan yang subur, tempat tumbuh dan berbuahnya Sabda Allah, sumber air hidup kita.
Tuhan memberkati.* RD AMT
Recent Comments