MERENUNGKAN SENGSARA YESUS
Yesus mengatakan kepadaku bahwa Hati-Nya paling senang kalau aku merenungkan sengsara-Nya yang memilukan. Berkat renungan seperti itu, cahaya cemerlang menerangi jiwaku. Barangsiapa mau mempelajari kerendahan hati yang sejati hendaklah ia merenungkan sengsara Yesus. Ketika aku merenungkan sengsara Yesus, aku memperoleh pemahaman yang jelas mengenai banyak hal yang sebelumnya tidak dapat kupahami. Aku ingin menyerupai Engkau, ya Yesus, yang disalibkan, disiksa, dan dihina. Yesus, ukirlah kerendahan Hati-Mu sendiri pada hati dan jiwaku. (BHF 267a)

Ketika aku merenungkan sengsara Yesus, aku memperoleh pemahaman yang jelas mengenai banyak hal yang sebelumnya tidak dapat kupahami.Luar biasa tepat ungkapan pengalaman Faustina yang gemar merenungkan sengsara Yesus. Yesus senang karena Faustina merenungkan sengsara-Nya, masuk dalam kedalaman kasih-Nya yang paling agung dan nyata. Sengsara, derita yang luar biasa. Kalau kita mengingat penderitaan kita di masa lampau, barangkali cuma sedikit manfaat, antara lain kita merasakan peran Allah dan sesama juga perjuangan kita mengatasi derita. Kalau kita merenungkan Sengsara Yesus, berlaksa rahmat kita terima. Kita akan memahami, betapa kasih Tuhan tak terbatas untuk kita. Betapa besar pengorbanan untuk kita, dibayar dengan darah yang mahal. Betapa kita sungguh, sahabat-Nya sehingga Yesus mempertaruhkan dan mempersembahkan nyawa-Nya untuk kita.

Bagi saya, merenung sengsara Yesus, bukan sekadar menyegatkan ingatanku akan kasih Tuhan semata-mata..Tetapi terutama menghidupkan, merasakan, hadir sungguh, mengalami.sendiri betapa luar biasa dan tak terkira sengsara Yesus. Yesus yang adalah Allah, mengosongkan diri, menghampakan diri , merendahkan diri menjadi seorang hamba yang taat sampai wafat, sampai wafat di kayu salib. Merenung sengsara Tuhan Yesus, menyenangkan hati-Nya dan mendatangkan berkat.

Dalam pengalaman hidupku, ada saat tertentu renungan sengsara Yesus begitu merasuk, menyentuh hatiku. Di saat lain seperti formalitas saja. Di lain waktu, bahkan tidak bisa merenung sama sekali, berlalu begitu saja, biasa-biasa. Bagaimana pun tetap merenung sengsara Yesus terutama pada jam kerahiman. Meski tidak lengkap atau utuh, satu dua kisah sengsara yang sedang tersentuh, sangat berguna. Tampaknya renungan sengsara Yesus ini, begitu menyentuh dan real saat ada pergumulan tertentu. Dan selalu saja tepat, sesuai dengan pergumulanku dalam pengalaman dan seakan “bertemu, berpadu” dengan salah satu kisah sengsara Yesus.

Sekedar contoh. Aku ingat suatu waktu pasca covid saya mengadakan jakan salib di sebuah tempat ziarah. Tiba-tiba sangat tertarik dan berhenti lama di stasi kelima Simon dari Kirene yang membantu memikul Salib Yesus. Kupandang gambar dan dengan sendirinya air mata haru mengalir deras tanpa kuduga. Muncul pencerahan dalam hatiku. Siapakah yang menjadi Simon dari Kirene dalam hidupku selama ini? Yamg membantu memikul salib hidupku dan salib dalam pelayananku? Sekilas muncul para susterku, sebab mereka hidup bersamaku, dulu, sekarang dan nanti, mereka yang menolongku sampai akhir hidupku. Muncul juga nama donatur-donatur yang tidak pernah kujumpau dalam hidupku tetapi begitu bertekun berbagi kasih dengan kami untuk mempertahankan keberadaan sekolah kecil di Pulau terpencil. Salibku, mereka yang bantu pikul. Saya merasakan, inilah rahmat penerangan yang kuperoleh, yang membuat aku sadar akan kasih Tuhan dan peran sesamaku. Berbuah dalam hidupku rahmat ini, di mana aku menjadi lebih menghargai dan mencintai suster-susterku. Aku menjadi makin bertekun dan berdoa untuk para penderma. Aku juga tercengang, mendengar suara dalam hatiku, apakah aku juga menjadi Simon Kirene untuk orang lain, yang dapat mereka rasakan? Tak tahu seberapa aku berdiri di depan stasi kelima dan stasi sisanya hanya berjalan saja. Kenangan itu begitu membekas dan berdampak dalam hidupku. Itulah rahmat merenungkan sengsara Tuhan.

Aku juga ingat, sangat tertarik dengan stasi keenam, Veronika mengusap wajah Yesus..wajah yang berlumuran darah, tertutup oleh keringat dan debu, mata yang sudah nyaris tak dapat dibuka, tak dapat melihat jalan ke depan di tengah siksaan serdadu tampil Veronika gadis pemberani dan bersahaja, mengusap wajah-Nya menjadi bersih dan dapat memandang dengan lebih jelas. Aku memperoleh pencerahan dari memandang gambar dari stasi ini. Bahwa semua pendidik, pengajar, pendamping, pembimbing, penasihat penghibur, siapa pun mereka yang hadir dalam hidupku, merekalah Veronika yang telah membuka mataku untuk dengan jelas melihat jalan di depanku, mengapus ketakutanku, mengeyahkan kelemahanku, membuka pikiran dan wawasanku, mereka yang hadir sekilas, esaat dengan penuh keberanian. Sungguh indah rahmat yang diperoleh saat merenung sengsara Tuhan. Bukan berpikir atau mereka – reka sendiri tetapi memandang saja gambar, memandang dalam diam, hadir , dan semua akan tampil dalam benak. Dan akhirnya muncul dalam diriku, apakah aku juga menjadi seorang Veronika bagi yg lain? Yg sedang patah semangat, yang susah, yang sakit, yang sedih ,yang peling membutuhkan pertolongan? Apa yang kulakukan utk mereka?

Rahmat yg diperoleh dengan merenung sengsara Tuhan, selalu berdampak. Karena itu, saya selalu berdoa, ketika akan kunjungan keluarga atau dalam perjalanan, Tuhan jadikan aku berkat bagi yang lain. Kalau saya berani menulis dan syering di SHR ini, atau biasa dalam website, saya selalu ingat “Veronika”. Siapa tahu, Tuhan barangkali akan memakainya untuk org lain . Saya senang bergabung dalam beberapa WA group baca Kitab Suci..merenung, katekese Paus. Saya yakin di sana Tuhan pasti mempertemukan saya dengan Veronika yang akan membantuku untuk terbuka mata, menemukan jalan untuk sesuatu yg akan kujalani ke depan.

Aku senang merenung, karena aku tahu banyak rahmat kuperoleh. Aku tidak merasa rugi waktu. Aku juga lebih banyak tidak.merenung semua stasi jalan salib, tapi satu dua pokok yang menyentuh hati. Berjumpa dengan Yesusku. eh…lebih tepat Yesus yang menjumpai aku yang membuat aku berjumpa sesama dan diriku sendiri. Indah dan mengagumkan. Aku bersyukur. Banyak contoh jalan salib singkat yang ditulis dalam buku Bpk Stefan Leks, belajar dri jalan salib singkat , aku memilih lebih hening, kontemplasi dan berdoa dengan versiku sendiri.
Terima kasih ya Yesus, sengsara-Mu menguatkanku. Yesus, Kau andalanku.