30 Juni 1935. Tepat pada awal misa kudus pada hari berikutnya, aku melihat Yesus dalam segala keindahan-Nya yang tak terperikan. Ia berkata kepadaku, Dirikanlah suatu Kongregasi seperti itu secepat mungkin, dan engkau akan hidup di dalamnya bersama beberapa temanmu. Roh-Ku akan menjadi patokan hidupmu.
Hidupmu harus dibentuk seturut hidup-Ku, mulai dari palungan sampai ke kematian-Ku di salib. Resapilah misteri-misteri-Ku dan engkau akan mengetahui lubuk kerahiman-Ku yang tak terselami – dan ini akan engkau perkenalkan kepada dunia. Lewat doa-doamu, engkau akan menjadi perantara antara surga dan bumi. ( BHF 438)
Setiap kalimat yang diungkapkan Faustina hari ini bagiku padat makna. Kehendak Tuhan tampak begitu jelas baginya. Yesus tidak hanya menyampaikan rencana, tetapi juga cara hidup di mana Faustina harus hidup, seturut hidup-Nya sendiri, dari palungan hingga salib. Inilah inti panggilan kristiani dan secara khusus panggilan Faustina pasti bagiku juga. Hidup yang diresapi Roh Kristus bukan pertama-tama tentang karya besar, dan mengagumkan, melainkan sebuah cara hidup, yang bagiku mencakup tiga keutamaan penting yakni taat, rendah hati, dan penuh kasih.
Taat kepada kehendak Bapa, seperti Yesus yang berinkarnasi dan tinggal di antara kita dan dalam seluruh hidup-Nya sampau wafat di kayu salib. Rendah hati dalam kenosis—pengosongan diri—menjadi hamba yang setia dan taat. Dan semuanya dijalani semata-mata karena kasih: kasih yang berkorban, kasih yang menyerahkan nyawa (lih. Yoh 3:16).
Yesus meminta Faustina meresapi misteri-misteri-Nya dari palungan sampai Salib. Bukan untuk sekadar tahu dan mengerti, tetapi lebih untuk mengenang, menghayati, dan menghidupi dalam hidupnya sendiri sehari-hari. Dengan itu, terbukalah lubuk kerahiman-Nya yang tak terselami dan dari sanalah pewartaan mengalir melalui kesaksian hidupnya. Hidup yang diresapi Roh Kristus dengan sendirinya menjadi terang bagi dunia. Inilah hidup Faustina, sudah lulus.Semua itu ada konsekuensinya yakni ada pengorbanan dan penderitaan. Tetapi penderitaan yang lahir dari kasih bukanlah beban hidup yg berat atau sesuatu yg hampa. Justru pengorbanan yg dijiwai semangat taat rendah hati, dan penuh kasih menjadi persembahan diri yang penuh sukacita.
Memang tidak enak dan ingin dihindari. Apa yang ditakuti manusia dan dihindari daging, justru diingini jiwa murni yg hatinya selalu terarah kepada BAPA. Mengapa? Karena dia tahu, ini sangat berharga di mata Allah. Doa, korban, laku tapa, singkatnya karya KI jasmani maupun rohani, yang lahir dari peresapan misteri kasih ini menjadikan Faustina perantara antara surga dan bumi. Doa dan korban yang menyelamatkan, serupa Yesus sendiri. Faustina telah sampai pada keberanian itu dan kini mendoakan kita. Pasti juga Faustina berharap aku dan jiwa-jiwa berani menyusuri jalan yg sama.
Hari ini, giliran kita dipanggil untuk menapaki jalan yang sama, bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan iman yang berpengharapan. Jika Allah menghendaki, dan jika hatiku terbuka untuk berjuang dengan sungguh, pasti ada jalan. Aku tahu diriku pendosa. Namun aku juga percaya: aku dipandang dan dipilih Allah untuk tugas yang mulia ini yakni mewartakan kasih-Nya kepada dunia lewat doa dan karya Kerahiman Ilahi, yang dijiwai semangat ketaatan, kerendahan hati, dan kasih. Tugasku adalah terus maju berjuang dgn keyakinan iman yang besar bahwa pertolongan Tuhan melalui bimbingan Roh Kudus, doa para kudus, akan terus mendampingi. Yang menaruh kepercayaan pada Allah tidak akan pernah dikecewakan.
Semakin mengandalkan Allah, bukankah semakin menyenangkan hati-Nya? Meski aku lemah, papa, dan kadang merasa berat dan sulit, aku akan terus berjalan melangkah di jalan kebaikan, sebab Tuhan menyertai, turut bekerja dan menyempurnakan segalanya.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments