Baik sukacita maupun penderitaan, baik pujian maupun penghinaan, aku terima dengan keterbukaan hati yang sama. Aku sadar bahwa semua itu akan berlalu. Apa peduliku dengan apa yang dikatakan orang tentang aku? Sudah lama sekali aku membuang segala sesuatu yang menyangkut pribadiku.
Namaku adalah Hosti, artinya kurban, bukan dalam perkataan tetapi dalam perbuatan – yakni dalam menghampakan diriku sendiri dan menjadi seperti Engkau di salib, Yesus yang baik, Guruku .BHF 485
Membaca dan merenungkan BHF 485, saya memiliki kesan bahwa sungguh Faustina telah menjadi “manusia baru”, yang memilih hidup dalam Roh dan tidak menuruti keinginan daging. Hal ini nyata dari ungkapannya: “sudah lama sekali aku membuang segala sesuatu yang menyangkut diriku.”
Faustina berani mengisahkan bahwa sudah lama sekali ia membuang segala sesuatu yang menyangkut dirinya. Berarti pula sudah lama sekali ia memilih hidup yang hanya berfokus dan terarah kepada Allah saja. Faustina memelihara hidup yang menyenangkan hati Allah saja. Maka sudah pasti, untuk apa menyimpan segala sesuatu dari manusia yang hanya mengotori jiwa? Sukacita dan penderitaan, pujian dan penghinaan, tidak ada artinya jika dibandingkan dengan memiliki Allah yang adalah segalanya, dan itu sudah lebih dari cukup. Sangat pantas Faustina menyebut dirinya hosti atau kurban. Karena untuk hidup dalam Roh, menjadi manusia baru, tidak sedikit ia harus mengorbankan dirinya sendiri, dengan segala keinginan dan kecenderungan manusiawi. Semua menjadi mungkin dengan pengorbanan yang tulus, penyerahan diri yang total kepada Allah, dan perjuangan yang tidak kenal lelah.
Faustina sadar bahwa segala sesuatu itu fana. Ia melihat dengan jernih bahwa sukacita dan penderitaan, pujian dan penghinaan, semuanya akan berlalu dan tidak layak untuk dilekati. Kesadaran ini membebaskan hatinya dari keterikatan, sehingga ia tidak lagi dikuasai oleh situasi atau penilaian manusia. Dalam kebebasan batih itu, Faustina memilih menjadi kurban kasih., hosti hidup melalui perbuatan dan tindakan kasih, doa dan silih. Ia menyerahkan seluruh hidupnya sebagai persembahan kepada Allah, dengan melekat hanya kepada Dia yang kekal.
Merenung ini, saya merasa ditantang, apa saja yang kubawa dalam hidupku ini, yang membuat langkah kaki jadi berat dan kurban kasih menjadi sulit. Selama aku terikat dengan hal remeh temeh yang menyangkut diriku, langkah menuju kebebasan batin terseok-seok. Syukur kepada Allah yang penuh kasih, dan maha baik yang tahu segala seuatu tentang diriku namun tetap memlihara aku dengan cintaNya. Aku dibimbing dengan firmanNya dan SKR ini untuk lebih mengenal jalan kebenaran dan berani hidup di dalamnya.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments