Pernah, setelah komuni kudus, saya mendengar kata-kata ini, Engkau adalah tempat kediaman Kami.  Ada saat itu, aku merasakan dalam jiwaku kehadiran Tritunggal Kudus, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.  Aku merasa bahwa aku adalah anak Bapa. Aku tidak bisa menjelaskan semua ini, tapi rohku memahaminya dengan baik.  Wahai Kebaikan yang tak terbatas, betapa rendahnya Engkau merunduk kepada ciptaan-Mu yang papa ini!

Kebaikan yang tak terbatas, betapa rendahnya Engkau merunduk kepada ciptaan-Mu yang papa ini! ( BHF 451)

Betapa indahnya mengutip doa atau ucapan terima kasih Faustina kepada Tritunggal yang dikirimkan dengan Sang Kebaikan yang tak terbatas.
Faustina tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan pengalaman syukur kegembiraan kasih yang dialaminya setelah mengalami pengalaman rohani batin, di mana dia mendengar pernyataan kasih sayang dari Allah Tritunggal dan mengalami berdiam dalam hati, hati yang menjadi tempat kediaman Tritunggal. Sungguh indah pengalaman ini.
Aku jadi ingat Yoh 14:23, “Barangsiapa mencintai Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Aku dan Bapa-Ku akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Sungguh Faustina memang layak, sebab besar kasihnya akan Allah, tulus, total, tuntas, dan radikal. Bukan wacana tentang cinta atau kata-kata cinta, tetapi Faustina sungguh sangat taat dengan rendah hati menuruti firman Tuhan. Hatinya layak jadi kediaman Tritunggal. Tuhan suka berdiam dalam jiwa yang taat, bersyukur, dan penuh cinta.

Aku ikut menyampaikan bersama Faustina, sambil merenungkan dan meresap-resapkan pengalaman Faustina ini dalam batinku. Aku sangat terkesan dengan ungkapan akhir dalam SKR hari ini: “Betapa rendahnya Engkau merunduk dalam ciptaan-Mu…” Bagiku, ini sungguh warta gembira yang layak disebarkan, karena tidak banyak yang memahami, mengerti, apalagi merasakan betapa terjadinya Allah kita dengan jiwa kita. Allah tidak berdiri jauh di sana, hanya memandang atau mengintip, atau menitipkan rahmat-Nya saja.

Allah sungguh ada, hadir, dan menyertai. Allah tidak hanya ada sesewaktu saat kita membutuhkan atau saat kita memberi izin dalam doa-doa kita. Tidak! Allah ada sepanjang waktu, sejarah, dan kekekalan.
Kalau sampai kita tidak merasakannya, bukan karena Allah hilang atau pergi atau menjauh, tetapi kita sendiri yang tidak menyadari kehadiran-Nya. Mengapa? Barangkali kita terlalu sibuk dengan diri sendiri, dengan dunia kita, dengan kepentingan kita, sibuk dengan rahmat dan anugerah yang kita terima dari Allah, sampai lupa siapa pemberi dan pelimpah segala anugerah itu.

Hari ini, Faustina alami secara langsung setelah komuni kudus. Namun bayangkan, dalam seluruh kisah Faustina, dialognya, kedekatannya dengan Yesus, sudah nyata menunjukkan betapa Allah merunduk rendah dekat dengan ciptaan-Nya, bahkan menarik ciptaan-Nya bersatu dengan diri-Nya. Merenung ini, saya merasa dikirimkan. Sungguh tidak ada Allah lain seperti Allah kita yang tidak hanya begitu dekat, tetapi selalu ada, tinggal di antara kita, diam di tengah kita, bahkan hati kita adalah kediaman-Nya… BAIT ROH KUDUS. Sudah ada tempat khusus di dalam hati kita sebagai umpan Allah. Hanya saja, apakah kita selalu sadar dan menjaga hati agar selalu layak jadi kediaman-Nya? Faustina menjadi tempat kediaman Tritunggal. Kita tahu kisahnya… hatinya, seluruh dirinya untuk Allah saja dan jiwa-jiwa.

Aku berpikir, apakah hatiku juga mungkin jadi kediamannya? Jawabnya: iya… karena memang hati adalah bait Roh Kudus. Tempatnya sudah ada, hanya apakah Tuhan hadir di sana? Di hati? Apakah aku sadar? Bagaimana aku tahu Dia ada? Atau jangan-jangan saya mengabaikan kehadirannya? Atau memang Dia tidak ada, tidak terasa, karena memang saya jarang mengundang-Nya, jarang menemani dan bercakap-cakap dengan-Nya.

Dalam pengalaman manusiawi kita sehari-hari, dalam keluarga atau di tempat kerja, orang ada bersama, tetapi bisa saja sibuk sendiri. Bahkan tidak tahu, tidak sadar ada sesama yang hadir. Tentu saja tidak akan ada komunikasi, hubungan yang baik, apalagi dialog dari hati ke hati. Saya membayangkan demikian. Bagaimana jadinya dengan Tuhan? Jangan-jangan sesekali mirip pengalaman manusiaku dengan pengalamanku akan Tuhan.
Tuhan sudah rendah merunduk, datang, menyapa, dan mau tinggal. Aku yang perlu merespons dengan kesungguhan dan ketulusan hati untuk menerima dengan iman.

Bagiku cocok bacaan Injil hari ini dengan SKR .. bagaimana Yesus yang mendatangi si lumpuh yang sudah 38 tahun dalam keadaan demikian dan menawarkan penyembuhan: “Maukah kamu sembuh?” Si lumpuh tidak langsung menjawab iya aku mau, tapi berkisah tentang pengalamannya selama bertahun-tahun berjuang dan menanti kesembuhan. Yesus sudah tahu semuanya, dan dengan sabda-Nya yang penuh daya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Si khayalan percaya akan sabda ini, segera bangun, dan sungguh ajaib… bisa berjalan, sembuh.

Inilah saat yang sangat konkret di mana Allah rendah merunduk kepada ciptaan-Nya, dengan segala cara dan dalam setiap situasi. Yesus merunduk, mendatangi, menyapa si lumpuh. Saya juga lumpuh dalam banyak hal dalam konteks tertentu secara sosial, rohani. Tuhan selalu datang, menyapa.dan menawarkan pemulihan.. Hanya saja… apakah aku sungguh mengimani atau tidak sabda dan kehadiran-Nya?

Setiap hari aku memikirkan Injil dan SKR, aku menerima.komuni dan mengungkapkanNya dalam adorasi 1 jam setiap hari dan doa-doa lainnya. Sudah seperti ini pun, aku belum melek juga akan kehadiran-Nya. Aku belajar menyiapkan diri di hadapan Penciptaku, memahami dan bersyukur…agar hatiku juga layak jadi kediaman-Nya. Yesus, Engkau andalanku.