SENIN PEKAN BIASA I
1Sam. 1:1-8; Mzm. 116:12-13,14,17,18-19; Mrk. 1:14-20.

Bacaan hari ini menghadirkan tiga wajah iman: Hana (1Sam. 1:1-8) yang bergumul dalam penderitaan, tetapi tetap setia berdoa dan berharap kepada Allah. Mazmur 116 yang mengajarkan kita untuk merespons kasih Allah dengan syukur, nazar, dan kesaksian. Yesus (Mrk. 1:14-20) yang memanggil murid-murid pertama untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti Dia. Ketiganya membentuk satu benang merah: iman yang bertahan dalam kesetiaan, diwujudkan dalam syukur, dan akhirnya berbuah dalam keberanian mengikuti panggilan Kristus.

Hana menjadi tokoh sentral dalam kisah awal kitab Samuel. Ia sangat rindu melahirkan seorang anak kandungnya. Walau ia sangat dikasihi oleh Elkana, suaminya namun ia merasa sangat menderita. Penderitaan itu dialaminya karena Penina, isteri muda Elkana selalu menghina dirinya, karena ia mandul. Penderitaan dan kerinduan Hana ini dijadikan oleh penulis kitab Samuel sebagai gambaran penderitaan dan kerinduan Israel akan Sabda dan kehadiran Allah di tengah-tengah kehidupan mereka sebagi bangsa terpilih.

Kepada orang Israel yang sedang mengalami penderitaan dan kerinduan tersebut, Yesus tampil memenuhinya. Yesus memulai penampilan-Nya di muka umum dengan pewartaan yang sangat penting dan menakjubkan. Ia mewartakan dan menandaskan hadirnya Kerajaan Allah. Berita gembira kehadiran Allah dan Kerajaan-Nya mulai bergema ketika kata-kata Yesus pertama terdengar: “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat!”. Namun Yesus juga menghubungkan berita baik tersebut dengan seruan yang sama pentingnya juga: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil!”. Warta dan sikap tersebut menuntut jawaban dan sikap radikal. Terhadap warta itu setiap orang ditantang dan dituntut untuk mengikuti-Nya dan bekerja bersama-Nya. Melalui warta, tuntutan dan tindakan-Nya itu, Yesus mau menandaskan bahwa penderitaan dan kerinduan manusia hanya dapat diatasi dan diwujudkan oleh mereka yang membuka diri terhadap Yesus dan Injil-Nya dalam jalan pelayanan yangpenuh kasih. itulah makna yang terpatri pada panggilan para murid pertama.

Apakah gerak hidup dan kerinduan yang sudah dan selalu terjadi di dalam diri dan hidupku? Sejauh mana aku telah membuka diri terhadap Yesus dan Injil-Nya di dalam seluruh perjalanan hidupku? Bagaimana usahaku untuk membarui diriku dalam wujud Kerajaan Allah?
Mari membangun iman yang bertahan dalam kesetiaan yang diwujudkan dalam syukur, dan akhirnya berbuah dalam keberanian mengikuti panggilan Kristus.
Tuhan memberkati. * RD AMT