Kini, aku memahami dengan baik bahwa yang paling menyatukan jiwa kita dengan Allah adalah penyangkalan diri, artinya memadukan kehendak kita dengan kehendak Allah. Inilah yang membuat jiwa sungguh-sungguh bebas. Inilah yang mampu menciptakan permenungan roh yang mendalam, dan ini pulalah yang membuat semua beban hidup menjadi ringan, dan kematian menjadi manis.( BHF 462)

Kini, aku memahami lebih dalam, bahwa yang paling erat menyatukan jiwaku dengan Allah adalah penyangkalan diri, yaitu memadukan kehendakku dengan kehendak Allah. Merenungkan ini, aku membengkokkannya. Rasanya butuh banyak waktu untuk.merenung sebelum menulis. Kalimat-kalimat singkat tapi sangat mendalam. Sebuah pemaknaan mendalam.twntang bagaiamana melakukan kehendak Allah mencerahkan aku. Ternyata jalan persatuan dengan Allah bukan pertama-tama soal melakukan banyak hal untuk Tuhan, tetapi soal menyelaraskan kehendakku dengan kehendak-Nya Aku bertanya dalam hatiku, apakah selama ini aku sungguh menghendaki apa yang Tuhan kehendaki?
Atau aku masih lebih sering memaksakan kehendakku sendiri, lalu berharap Tuhan mewujudkan rencanaku?

Penyangkalan diri yang dimaksud di sini, bukan sekedar menahan diri atau berkorban secara lahiriah. Namun lebih dalam dari itu, yakni tentang melepaskan “aku mau ini dan itu”, dan belajar berkata dengan jujur ​​dalam hati:
Tuhan, jadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku.
Tidak mudah! Mungkin mudah untuk berkata atau berdoa seperti selancar berdoa doa Bapa Kami, tetapi.menjadikannya sebagai pilihan untuk dihayati dan dihidupi dalam keseharian membutuhkan niat yang teguh, rahmat yang besar. Karena sering kali kehendakku terasa lebih masuk akal, lebih cepat, lebih nyaman. Namun justru di situlah pengaturannya.

Aku mulai mengerti kini seperti ungkapan Faustina. Ketika kehendakku dipadukan dengan kehendak Allah, disitulah aku mengalami kebebasan batin. Bebas…Bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena saya tidak lagi terikat pada keinginanku sendiri. Aku tidak lagi harus memaksa semuanya berjalan sesuai rencanaku. Aku tidak lagi mudah kecewa ketika kenyataan tidak sesuai harapanku. Ada damai yang perlahan mengalir… karena aku percaya, Tuhan tahu yang terbaik. Rencana dsn kehendak-Nya adalah yang terbaik.

Aku merasakan bahwa hatiku lebih menjadi tenang dan hening… Doaku tidak lagi penuh kata-kata, tetapi lebih banyak diam dan tinggal bersama-Nya. Permenungan menjadi lebih dalam, karena tidak lagi dipenuhi oleh suara keinginanku sendiri, yang condong untuk mengajar, menasihati, tetapi lebih untuk mewartakan kasih dan kebaikan Allah. Dalam saat yang sama, sungguh beban hidup yang sama terasa lebih ringan. Masalah tetap ada..tantangan tetap datang…tetapi aku tidak lagi memikulnya sendirian. Aku belajar menerima dengan hati lapang , menjalani demgan rasa syukur dan menyerahkan dengan sepenuh hati. Dan di situlah beban itu menjadi ringan.

Terlebih lagi, ketika membaca bahwa kematian menjadi manis, hati menyentuh di dalamnya. Bagaimana mungkin kematian menjadi manis? Kini aku mulai mengerti…Jika sejak hidup saat ini, aku sudah belajar menyerahkan kehendakku kepada Tuhan, maka pada saat kematian pun, aku hanya melanjutkan untuk memberikan itu. Tidak ada lagi ketakutan yang berlebihan, karena aku tahu siapa yang akan menyerahkan hidupku.

Merenungkan ini semua, saya merasa diundang Tuhan melalui Faustina. Bukan untuk menjadi sempurna seketika, namun untuk mulai perlahan belajar menyangkal diri, melepaskan kehendakku, dan memadukannya dengan kehendak Allah. Saya bertekad memasuki pekan suci mau memikirkan lebih dalam dsn belajar dari Sang Guru Agung yang menderita, bagaimana melakukan kehendak Allah. Hari ini, aku hanya ingin berkata sederhana: Tuhan, ajarilah aku untuk menghendaki apa yang Engkau kehendaki. Sebab aku percaya… di situlah kebebasan, di situlah damai, dan di situlah persatuan sejati dengan-Mu. Yesus, Engkau andalanku.