11 Oktober 1933. Kamis. Aku berusaha melaksanakan Jam Kudus, tetapi aku mengalami kesulitan besar untuk memulainya. Suatu kerinduan mulai menyayat hatiku. Pikiranku memudar sehingga aku tidak dapat memahami bentuk-bentuk doa yang paling sederhana sekalipun. Dan demikianlah, doa, atau lebih tepat pergulatan, sudah satu jam lewat. Aku nemutuskan untuk berdoa satu jam lagi, tetapi penderitaan batinku semakin meningkat – kegersangan dan keputusasaan semakin berat. Aku nemutuskan untuk berdoa satu jam lagi. Pada jam ketiga ini, yang aku putuskan untuk tetap berlutut tanpa alas dan penopang apa pun, tubuhku mulai berontak untuk beristirahat. Tetapi, aku sama sekali tidak mengendur. Aku merentangkan tangan dan meskipun tidak mengucapkan sepatah kata pun, aku bertahan dengan kemauan yang kuat. Tidak lama kemudian, aku melepaskan cincin dari jariku dan meminta kepada Yesus untuk memandang cincin itu, yakni tanda kesatuan abadi kami dan aku mencurahkan kepada Yesus perasaan-perasaan yang memenuhi hatiku pada hari kaul kekal. Tak lama kemudian aku merasa hatiku diterpa oleh gelombang kasih. (BHF 268a) [2.9.2025]

Merenung pergulatan Faustina pada jam kudus, seperti melihat pengalamanku sendiri. Bagi yang biasa berdoa, tekun berdoa, gemar berdoa, pasti tahu betul betapa tidak mudah untuk memulai berdoa dan setia berdoa. Mungkin untuk saat tertentu, mudah untuk memulai, merasakan kehadiran Tuhan dan merasa tenanh, nyaman. Suatu kedekatan hati dengan Tuhan yang bisa dirasakan. Di waktu yang lain, tidak mudah untuk berdoa. Mungkin bisa mulai tetapi sepanjang jam doa, begitu besar perjuangan untuk bisa berdoa. Di lain waktu, bahkan untuk mulai berdoa pun begitu sulit, ada banyak godaan. Sadar ada godaan namun tidak berdaya untuk melawannya. Banyak jenis godaan antara lain kesibukan, ingin berhenti sejenak untuk berdoa, di sisi lain hati berbisik, tak apa-apa, sebentar saja. Dan akhirnya tidak jadi berdoa. Ada godaan pikiran yang kacau, perasaan tidak tenang, ngelantur ke mana-mana, tidak fokus sama sekali. Ingin cepat -cepat tinggalkan jam doa. Ada juga, tetap berdoa tapi terburu-buru, mempersingkat waktu doa, mengurangi jam doa, dan macam-macam hal lainnya. Saya bisa memahami bagaimana pergumulan Faustina pada jam kudus, seperti itulah yang terjadi pada semua kita yang berdoa, dan berjuang untuk tetap berdoa, selalu berdoa.

Semua model godaan juga aku alami. Banyak nasehat rohani bagaimana seharusnya supaya tetap setia dan tekun berdoa. Apa pun terjadi, tetap duduk dan berdoa, di tempat dan waktu yang sama. Bergulat itu biasa bagi semua pendoa. Belajar bertahan itu rahmat bagi seorang yang berdoa.
Bagiku, belajar berdoa tiap hari, jatuh bangun dengan banyak godaan, tetap berdoa. Sungguh, akhirnya akan alami seperti yang dikisahkan Faustina tak lama kemudian aku merasa hatiku diterpa oleh gelombang kasih.

Selalu ada buah dari doa sebagai anugerah. Berdoa bukan tentang seberapa banyak doa yang diungkapkan. Bukan seperti apa hasilnya, seberapa banyak mukzijat doa yang diterima. Bukan!, agiku doa itu tentang cinta..belajar mencintai Tuhan, belajar berdoa. Sebab dalam doa dan melalui doa , saya berjumpa dan mengalami Tuhan. Saya boleh berkisah dan merenung atau menulis banyak hal tentang Tuhan, tapi kalau tidak berdoa, belum lengkap. Sama halnya seperti saya kini senang berbagi di SKR, tapi jika saya tidak duduk setia pada jam kerahiman dan melakukan karya kerahiman ilahi melalui  perbuatan, perkataan dan doa, semua sia-sia.

Pergumulan dalam doa memang lebih sulit dibandingkan dengan menulis atau berkisah tentang Tuhan. Tetapi jika bertahan, ada hadiah indah di sana..Saya percaya penuh, Tuhan melihat semuanya dan pasti mengganjari dengan rahmat berlimpah. Tetap berdoa, sehebat apapun pergumulan dalam doa. Apa pun cara menghadapi pergumulan, semua indah di mata Tuhan. Syukur pada Tuhan yang sungguh penuh kasih setia dan cinta yang tidak memperhitungkan kelemahan dan dosa- dosa tetapi memandang iman dan cinta. Inilah misteri kasih kerahiman Tuhan yang besar. Tuhan tahu aku lemah, aku tak mampu, tak berdaya, tetap mencintaiku. Yesus Kau andalanku.