Ketika bapak pengakuanku pergi (beliau pergi ke Tanah Suci Israel), aku mengaku dosa kepada uskup Agung (kota Vilnius). Ketika aku mengungkapkan pengalaman jiwaku kepadanya, aku mendapat jawaban ini: “Putriku, persenjatailah dirimu dengan kesabaran yang besar. Kalau hal-hal ini datang dari Allah, cepat atau lambat akan terlaksana. Maka, tenangkanlah hatimu. Dalam masalah ini, aku memahami engkau sepenuhnya, Putriku. Dan, sekarang mengenai gagasanmu untuk meninggalkan kongregasi dan mendirikan suatu kongregasi lain, jangan menuruti gagasan-gagasan seperti ini karena ini bisa menjadi suatu godaan batin yang serius.”

Sesudah pengakuan dosa ini, aku berkata kepada Tuhan Yesus, “Mengapa Engkau menyuruh aku melaksanakan hal-hal yang sedemikian, tetapi tidak membuka kemungkinan untuk melaksanakannya?” Kemudian, sesudah komuni kudus, aku melihat Tuhan Yesus di kapel kecil yang sama tempat aku pergi mengaku dosa. Ia menampakkan diri dengan cara yang sama sebagaimana dilukis dalam gambar kerahiman ilahi itu.

Tuhan berkata kepadaku, Jangan bersedih, Aku akan membuat dia memahami hal-hal yang Aku minta darimu. Ketika kami keluar, Uskup agung tampak sangat sibuk, tetapi ia menyuruh kami kembali dan menunggu sebentar.• BHF 473

Persenjatailah dirimu dengan kesabaran yang besar. Kalau hal-hal ini datang dari Allah, cepat atau lambat akan terlaksana, maka tenangkanlah hatimu.
Kalimat ini indah sekali bagiku dan sangat hidup, sebab inilah yang aku hidupi selama ini, teristimewa dalam menghadapi hal-hal penting, yang urgen, yang mendapat banyak tantangan, yang seolah tidak ada jalan keluar. Di tengah kebingungan dan harapan, nasihat indah ini sangat tepat. Betapa pentingnya untuk sabar, tidak buru-buru, tidak lekas merespons meski sudah merasa tahu. Tentu saja, waktu tunggu, saat jeda, memberi banyak kesempatan untuk lebih tenang, hening, merenung, dan terutama mendengarkan suara Tuhan: apakah yang direncanakan sungguh sesuai dengan kehendak-Nya?

Dalam banyak pengalaman hidupku, salah satu pegangan adalah ini. Apalagi kalau dalam biara, kita tidak pernah bisa memutuskan sendiri apa pun. Meski kita yang diberi tugas dan tanggung jawab, selalu ada orang lain bersama kita dan di atas kita. Bahkan ketika kita merasa persiapan dan pertimbangan sudah cukup matang pun, tetap saja butuh waktu jeda. Kami biasa menamainya: ‘setelah semua diputuskan kita tetap bawakan dalam doa sebab kita yang merencanakan tetapi Tuhanlah yang punya kiasa dan kendali untuk menentukan. Pasti akan ada petunjuk dan untuk itu perlu sabar.

Di sisi lain, mempersenjatai diri dengan kesabaran juga merupakan saat diskresi, baik pribadi maupun komunal. Tidak hanya sekadar untuk mengurangi kekeliruan atau kesalahan dalam mengambil keputusan, tetapi esensinya adalah memberi ruang bagi Allah Tritunggal untuk berperan. Entah nanti jadi atau tidak, itu urusan kemudian. Tetapi kami dilatih untuk belajar taat dan melihat semua itu sebagai bagian dari Penyelenggaraan Ilahi, agar kami terbebas dari perasaan berjasa karena memiliki peran di dalamnya.

Indah nasihat ini yang dialami Faustina. Mempersenjatai diri dengan kesabaran besar juga berlaku ketika apa yang kita tahu itu benar, tetapi sulit diterima oleh orang lain. Kita tidak perlu memaksakan diri, membela diri, atau memaksakan kehendak. Karena sudah pasti setiap orang memiliki sudut pandang sendiri dalam memandang sesuatu dan mengambil keputusan. Belajar rendah hati dan memberi ruang dna waktu bagi Allah untuk berkarya. Saya percaya, Tuhan tidak pernah mempermalukan orang yang menyerahkan segalanya kepada-Nya, yang mengandalkan-Nya. Di bagian yang harus kulakukan ada juga bagian Allah.

Tuhan punya segala cara untuk melakukan karya kasih dan kebaikan-Nya bagi setiap anak-Nya, setiap keluarga, setiap organisasi, dan setiap komunitas. Bahkan mungkin saat kita keliru, ragu-ragu atau bahkan tidak cukup persiapan, atau tidak punya modal sama sekali, Tuhan yang maha baik akan melakukan segala sesuatu untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Bagiku, mengasihi Allah yang sangat konkret dalam konteks ini adalah menghargai, menghormati, memuliakan Allah, menempatkan Allah sebagai Yang maha kuasa, yamg maha kasih , murah hati dan maha rahim. Percaya penuh, berani mempercayakan diri dan semuanya kepada-Nya.dan mempercayai bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik. “Tenangkanlah hatimu,” nasihat yang sangat bagus. Sebab sehebat apa pun, atau sepintar apa pun, jika dalam ketenangan, semua akan dapat dilihat lebih jelas, lebih jernih, bening, dan bermakna.

Renungan SKR hari ini sedang mengingatkan saya akan sesuatu yang sedang menjadi pergumulan. Indah karena ini adalah sebuah jawaban atas kebimbangan hati dan keraguan. Meski belum buat dan terjadi sesuatu, hatiku sudah menangkap sinyal, apa yang seharusnya aku lakukan. Membaca dan merenungkannya, bagaikan sebuah jalan keluar yang indah: berhenti berpikir terlalu banyak, tenangkan hati, persenjatai diri dengan kesabaran, dan nantikan Tuhan. Yang mengandalkan Tuhan tidak pernah dikecewakan. Banyak kali orang buru-buru mengambil keputusan yang terlalu gegabah, mungkin juga tergesa-gesa. Hasilnya belum tentu baik untuk kebaikan banyak orang dan keselamatan jiwa-jiwa. Belum lagi kalau ditelusuri, dari mana sumber keputusan itu diambil: sekadar pertimbangan akal budi, hati nurani, kebutuhan banyak orang, atau sungguh melibatkan Tuhan di dalamnya? Ada juga yang merasa terlalu percaya diri dalam mengambil keputusan, takut dianggap lamban atau kurang cerdas, padahal memiliki wewenang karena mendapatkan mandat atau kepercayaan. Segala sesuatu yang diputuskan tanpa melibatkan Tuhan, bisa jadi bukan kehendak-Nya.

Kalau boleh jujur, satu hal yang saya takutkan selama di biara adalah salah mengambil keputusan yang bukan kehendak Tuhan, padahal untuk kebaikan banyak orang dan keselamatan banyak jiwa. Puji Tuhan, kebaikan Tuhan dan karya kasih Kerahiman Ilahi selalu menyertai dalam setiap tindakan penting. Sehingga, entah butuh pertimbangan dan pergumulan yang cepat atau lambat, semua kelak akan terlihat dari buahnya. Terpujilah nama Tuhan atas kasih dan kebaikan-Nya yang terus-menerus mengalir dalam hidupku.

Terima kasih, Faustina, atas pengalamanmu hari ini, yang membuat aku mengenang semuanya dan bersyukur atas kasih dan kebaikan Tuhan untukku dan kami. Tetaplah mendoakan kami agar kami mempersenjatai diri dengan kesabaran dalam segala hal, supaya hati kami damai, keluarga kami aman, komunitas kami bertumbuh, karya kami maju, dunia kami tenteram, dan nama Tuhan dimuliakan dalam seluruh hidup dan karya kami.
Yesus, Engkau andalanku.