Tetapi, aku mau langsung berbicara mengenai peraturan kedua, yakni berbicara. Berdiam diri ketika harus berbicara adalah suatu kekurangan, bahkan kadang merupakan suatu dosa. Maka, hendaknya semua suster ambil bagian dalam rekreasi. Dan superior hendaknya tidak membebaskan mereka dari kewajiban ini kecuali karena suatu hal yang sangat penting.
Rekreasi hendaknya berlangsung dalam kegembiraan tetapi menurut semangat ilahi. Rekreasi adalah kesempatan untuk semakin saling mengenal. Hendaknya setiap suster mengungkapkan pikirannya dengan segala kesederhanaan hati untuk pembangunan hidup sesama suster dan bukan dengan semangat kesombongan atau yang dilarang oleh Allah dengan cara bertengkar karena cara ini tidak selaras dengan kesempurnaan dan tidak selaras dengan semangat panggilan kita yang secara istimewa hendaknya ditandai dengan kasih.
Dua kali sehari akan ada rekreasi selama setengah jam. Kalau seorang suster melanggar silentium di luar waktu rekreasi, seketika itu juga ia harus mengakui kesalahannya di hadapan superior dan minta hukuman, dan superior hendaknya menghukum pelanggaran-pelanggaran ini dengan hukuman publik; kalau tidak, ia harus mempertanggungjawab-kannya di hadapan Tuhan. • BHF 553
“Rekreasi hendaknya berlangsung dalam kegembiraan tetapi menurut semangat ilahi.” Semakin aku merenungkan permenungan Faustina, semakin aku menyadari bahwa setiap waktu dalam hidup bakti adalah anugerah. Kemarin merenung tentang waktu silentium. Hari ini tentang waktu rekreasi. Bagiku, silentium dan rekreasi bukan sekedar peraturan yang mesti ditaati dengan ketat. Tapi layak dipandang sebagai anugerah.
Silentium adalah anugerah. Saat di mana jiwa dengan sengaja memberi ruang bagi Roh Kudus untuk berbicara dan jiwa belajar membuka hati untuk mendengarkan kehendak Allah. Rekreasi juga anugerah. Bahkan dua kali sehari. Waktu di mana Tuhan memberi kesempatan kepada para suster untuk saling berjumpa dalam kegembiraan. Rekreasi yang dimaksud Faustina bukan hanya sekadar waktu untuk berbicara setelah hampir seluruh waktu diisi dengan keheningan dan doa yang telah dijalani.
Rekreasi merupakan saat di mana jiwa yang telah diresapi oleh Roh Kudus dalam keheningan dan doa-doa, mulai mewartakan kasih secara nyata kepada sesama.
Perjumpaan kasih dengan Allah dalam keheningan, kini diwujudkan pertama-tama kepada saudari serumah pada saat rekreasi.
Dapat berupa sebuah kalimat yang menguatkan.Mungkin melalui pujian tulus atas keberhasilan sederhana seorang saudari. Boleh jadi dengan mendengarkan penuh perhatian, menatap dengan mata yang berbinar. Ada senyum indah dan ikut bersukacita atas pengalaman hidup sesama.
Dalam kehidupan membiara, rekreasi sering berlangsung sambil melakukan pekerjaan tangan seperti merajut, menyulam, membuat rosario, atau pekerjaan sederhana lainnya. Jarang dilewati hanya sekedar tangan kosong. Namun yang terpenting bukanlah pekerjaan tangan itu, kebersamaan kebersamaan yang dibangun dalam semangat kasih.
Sebab, hidup bersama tidaklah mudah dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Rekreasi menjadi bagaikan jembatan penghubung untuk saling mengenal, mengerti, memahami, merasakan perhatian, dan kepedulian. Jiwa tidak merasa sendirian berjalan dalam kebersamaan, tetapi kebersamaan menopang perjalanan jiwa menuju Allah. Tepatnya, bersama sesama berjalan bersama menuju Allah. Saya memahami apa yang dimaksud Faustina dengan semangat ilahi. Semangat ilahi adalah semangat kasih. Kasih yang lebih dahulu diterima dalam keheningan, lalu dibagikan dalam kebersamaan antara lain melalui rekreasi.
Maka, silentium dan rekreasi bukanlah dua hal yang bertentangan tetapi saling saling melengkapi. Dapat dikatakan, mirip maknanya jika kita katakan, bahwa kontemplasi dan aksi dalam hidup membiara yang saling melengkapi. Dalam silentium, aku mendengarkan Allah. Dalam rekreasi, aku menghadirkan Allah kepada sesama. Sebab kasih yang sejati selalu lahir dari hati yang telah lebih dahulu mendengarkan Tuhan dalam keheningan. Jika tidak demikian, semuanya semu dan hampa belaka.
Terima kasih, Faustina untuk dua tema indah ini, yang mengingatkan aku untuk selalu kembali mawas diri dan menemukan semangat untuk membaharui diri. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments