MINGGU BIASA XIII
2Raj. 4:8-11,14-16a; Mzm. 89:2-3,16-17,18-19; Rm. 6:3-4,8-11; Mat. 10:37-42.

Liturgi Minggu ini menyingkapkan panggilan untuk mengutamakan Kristus di atas segalanya. Bacaan menegaskan bahwa Allah setia pada janji-Nya, Kristus memberi kita hidup baru melalui baptisan, dan Yesus mengajak kita untuk berani mengutamakan Dia meski harus meninggalkan kenyamanan dunia.
Wanita Sunem mengakui dengan tulus bahwa Elisa itu adalah abdi Allah yang kudus. Maka, ia bersama suaminya yang sudah tua menyambut Elisa dengan ramah tama, memberi tumpangan dan makanan banginya. Mereka bahkan menyediakan kamar khusus bagi sang nabi. Terhadap kebaikan dan ketulusan mereka itu, nabi Elisa menjanjikan seorang anak bagi wanita Sunem yang mandul itu. Melalui tindakannya itu, Elisa memberikan arti namanya: “Tuhan membantu”. Ia menjadi perantara Tuhan, pemberi kehidupan.

Kepada para rasul-Nya, Yesus menuntut loyalitas (mutu dari kesetiaan) mutlak kepada diri-Nya. Loyalitas demikian harus melampaui tuntutan erat dan intimnya ikatan keluarga sekalipun. Bahkan demi mutu loyalitas kemuridan tersebut, setiap murid-Nya harus berani menghadapi perpecahan dari erat dan intimnya ikatan keluarga. Itu berarti, sebagai murid Kristus, setiap orang beriman harus menaruh mutu kesetiaan cinta kepada Yesus melebihi keluarga, melebih segala-galanya, bahkan melebihi hidup murid itu sendiri. Sebab, bagi setiap orang beriman, sebagai murid Kristus, hidup sejati yang bersumber dari Kristus akan mengalir berlimpah dari pada-Nya berkat pengorbanan setiap orang beriman sebagai murid Kristus.

Tetapi untuk itu, sebagai murid Kristus, setiap orang beriman harus mati dan dikuburkan bersama Kristus supaya dapat bangkit dan hidup bersama Kristus. Sebab, sebagai murid Kristus, setiap orang beriman tidak akam mungkin memperoleh kebangkitan dan kehidupan tanpa salib dan kematian. Dengan pembaptisan, setiap orang beriman mengingkari dan mati terhadap dosa agar selanjutnya dapat bangkit dan memperoleh kehidupan bagi Allah. Dengan demikian, sebagai orang beriman, setiap murid Kristus dapat menerima kehidupan sejati dari Tuhan memberi kehidupan!

Apakah aku telah menyadari identitas diriku sebagai orang beriman, murid Kristus? Apakah aku telah membangun mutu kesetiaan cintaku kepada Yesus melebihi keluarga, melebih segala-galanya, bahkan melebihi hidupku sendiri? Apa wujud nayata usahaku untuk mengingkari dan mati terhadap dosa agar selanjutnya aku dapat bangkit dan memperoleh kehidupan bagi Allah?
Hari ini kita diteguhkan untuk mengutamakan Kristus di atas segalanya, percaya pada kesetiaan Allah, dan hidup dalam kebaruan kasih-Nya. Dengan demikian, kita menjadi saksi nyata bahwa hidup sejati hanya ada dalam Kristus.
Mari menyadari identitas diri kita sebagai orang beriman, murid Kristus. Mari membangun mutu kesetiaan cinta kita kepada Yesus melebihi keluarga, melebih segala-galanya, bahkan melebihi hidup kita sendiri. Mari mengingkari dan mati terhadap dosa-dosa kita agar selanjutnya kita dapat bangkit dan memperoleh kehidupan bagi Allah.
Tuhan memberkati.RD AMT