Pekerjaan. Sebagai orang-orang miskin, para suster akan mengerjakan sendiri semua pekerjaan di dalam biara. Setiap suster hendaknya senang kalau diberi beberapa pekerjaan yang merendahkan atau yang bertentangan dengan kodratnya karena semua itu akan sangat membantu pembinaan batinnya.
Superior akan sering mengubah tugas para suster, dan dengan cara ini membantu mereka untuk melepaskan diri sama sekali dari hal-hal kecil sebab pada hal-hal ini para perempuan biasa memiliki keterikatan yang besar.
Sungguh, aku sering geli menyaksikan dengan mataku sendiri jiwa-jiwa yang telah meninggalkan hal-hal yang sungguh besar namun melekatkan diri pada hal-hal kecil yang tidak berarti, yakni hal-hal yang tampak sepele.
Setiap suster, termasuk juga superior, akan bekerja di dapur selama satu bulan. Setiap orang hendaknya mendapat giliran pada setiap pekerjaan yang hanya dilakukan di dalam biara. Kapan saja dan dalam hal apa saja, maksud mereka hendaknya murni karena setiap jenis motif yang tidak murni tidak menyenangkan Allah. • BHF 549
“Sungguh, aku sering geli menyaksikan dengan mataku sendiri jiwa-jiwa yang telah meninggalkan hal-hal yang sungguh besar namun melekatkan diri pada hal-hal kecil yang tidak berarti.” Kalimat ini membuatku tersenyum, Faustina begitu jujur mengungkapkan apa yang dilihat dan dialaminya yang sekaligus mengajak aku bercermin dan periksa batin. Benar! Betapa sering hal itu terjadi dalam hidup rohani.
Namun tanpa disadari, hati masih dapat melekat pada hal-hal kecil yang remeh-temeh.
Melakukan tugas secara bergilir, tampaknya sebuah kebiasaan yang sejak zaman dulu, sampai hari ini kami.alami. Pertama-tama bukan dimaksudkan supaya setiap orang merasakan pekerjaa tertentu, tetapi terutama membina batin dalam hal ini mengembangkan sikap lepas bebas, tidak terikat dengan apapun di dunia ini, entah yang berharga maupun hal-hal sepele. Latihan ini,sekaligus untuk mengingatkan kami bahwa kebahagiaan utama adalah keterikatan dengan Tuhan sendiri. Hal lain kiranya jangan sampai menjadi sandungan, meski pada kenyataanya tersandung. Sering bukan menabrak batu besar tetapi tersandumg kerikil kecil.
Seseorang telah meninggalkan rumah, keluarga, harta benda, kenyamanan, bahkan masa depan yang mungkin sangat berbeda demi mengikuti Tuhan. Namun, bisa jadi betah, terikat, pada tugas tertentu; kebiasaan tertentu; pendapat sendiri;mungkin pada kenyamanan tertentu. Pada hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Faustina merasa geli karena melihat suatu ironi. Kita mampu melepaskan hal-hal yang besar, tetapi terkadang sulit melepaskan hal-hal yang kecil. Aku juga jadi ingat dan merasa geli seperti Faustina, tentang kemelekatan, terhadap hal-hal yang disayangi secara khusus, antara lain, hewan peliharaan, sebuah gelas hadiah, barangkali juga pot bunga bagus, yang memiliki kenangan tersendiri yang tak boleh disentuh, apalagi dipakai orang lain. Memang ironi dan menggelikan sekaligus menggelisahkan.
Padahal keterikatan tetaplah keterikatan, entah pada hal yang besar maupun yang kecil.
Semakin aku merenungkan kalimat ini, dan ingat semua pengalamanku, semakin aku sadar bahwa kebebasan hati tidak diukur dari seberapa banyak yang telah kutinggalkan, melainkan dari seberapa besar aku bersedia dan berani menyerahkan diri kepada Tuhan setiap hari dan mengandalkan Tuhan. Kalau Tuhan yang diandalkan, sejatinya tidak perlu apa-apa lagi. Jadi untuk apa? Tahu bagaimana seharusnya, tapi belum tentu mampu menjaga hati. Tuhan, ampuni aku orang berdosa ini. Yesus Engkau andalanku.
Recent Comments