SABTU, PEKAN BIASA XII
Rat 2:2.10-14.18-19; Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21; Mat 8:5-17.

Liturgi hari ini menyingkapkan dua wajah iman: ratapan umat yang mengalami kehancuran dan penderitaan, serta kasih Yesus yang menyembuhkan dengan kuasa-Nya. Bacaan ini mengajak kita untuk membawa segala kesedihan kepada Allah, dan percaya bahwa Yesus hadir untuk memulihkan hidup kita.

Israel mengalami kehancuran yang sangat parah. Hal ini terjadi karena Israel gagal melaksanakan kehendak Allah mereka. Israel telah diperdaya oleh nabi-nabi palsu. Karena itu, mereka harus menanggung penderitaan, kesengsaraan, bahkan kehancuran. Namun dalam situasi seperti itu nabi Yeremia tampil menyerukan pertobatan. Sang nabi mengajak mereka untuk berani menerima kenyataan itu, menjadikan penderitaan, kesengsaraan, dan bahkan kehancuran sebagai titik balik untuk bertobat, terbuka untuk dibimbing dan diperbarui dalam kasih Allah.

Kisah penyembuhan hamba seorang perwira asing menunjukkan bahwa warta kasih Allah sangat terbuka bagi semua orang. Iman perwira asing itu telah menjadi jalan penyembuhan bagi hambanya. Penyembuhan mertua Simon Petrus membuatnya siap untuk melayani. Pada kenyataan ini kita diingatkan akan daya kasih Allah yang mampu menyembuhkan dan menggerakkan setiap orang, asal ia mau terbuka pada daya kasih Allah itu.

Sejauh mana aku telah membuka diriku bagi daya kasih Allah yang selalu di tawarkan kepadaku? Apakah daya imanku telah menggerakkan aku untuk mampu menyembuhkan dan melayani orang lain?
Hari ini kita diajak untuk membawa ratapan kita kepada Allah, percaya pada belas kasih-Nya, dan mengalami kasih Yesus yang menyembuhkan. Kehancuran bukanlah akhir, sebab Allah selalu hadir untuk memulihkan dan memberi harapan baru.
Mari mengembangkan iman kita dalam daya kasih Allah yang menyembuhkan dan menggerakkan kita untuk mampu melayani Tuhan dan sesama kita.
Tuhan memberkati. RD AMT