Mereka harus mengakui kesalahan atas segala pelanggaran eksternal, dan minta hukuman kepada superior. Mereka hendaknya melakukan hal ini dalam semangat kerendahan hati. Mereka hendaknya saling mengasihi dengan kasih yang luhur, dengan kasih yang murni, sambil menyimak wajah Allah dalam diri setiap suster.
Kasih hendaknya menjadi ciri khas dari kongregasi kecil ini; karena itu, mereka tidak boleh menutup hati mereka, tetapi harus terbuka bagi seluruh dunia, sambil memohon kerahiman bagi setiap jiwa kewat doa, sesuai dengan panggilan mereka.
Kalau kita hidup dalam semangat kerahiman, kita sendiri akan memperoleh kerahiman. BHF 550
“Mereka hendaknya saling mengasihi dengan kasih yang luhur, dengan kasih yang murni, sambil menyimak wajah Allah dalam diri setiap suster.” Sebelum setiap suster diutus membawa dan mewartakan kasih kerahiman kepada dunia, Faustina terlebih dahulu menghendaki agar kasih dan kerahiman itu sungguh hidup di dalam komunitas. Komunitas memang sekolah kasih satu sama lain.
Mengapa? Sebab jiwa-jiwa pertama yang Tuhan percayakan kepadaku adalah saudari-saudariku sendiri, yang hidup serumah, yang sangat mengenal baik burukku, cacat celaku. Aku dan mereka sama. Mereka adalah hadiah istimewa dari Tuhan. Mereka dapat menjadi berkat bagiku.
Mereka juga dapat menjadi salib bagiku. Demikian juga, aku adalah berkat dan salib bagi mereka. Tak terhindarkan. Karena itulah, kasih harus dimulai dari dalam rumah sendiri. Dari dan melalui mereka aku belajar mengasihi.
Menarik bagiku, Faustina tidak hanya berkata, “kasihilah”, tetapi “kasihilah dengan kasih yang luhur dan kasih yang murni.” Tampak ada perbedaan tekanan kasih di sini yang barangkali diinginkan Faustina. Kasih yang luhur itu, kasih yang mengangkat martabat sesama sebagai anak Allah.
Kasih yang murni adalah kasih yang tidak mencari kepentingan diri sendiri, egois, tetapi yang berani mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi. Kasih yang luhur menekankan mutu atau kualitas kasih yang harus dibangun dalam komunitas. Kasih yang murni mengedepankan motivasi hati dalam mengasihi.
Semua itu hanya mungkin jika aku mau belajar melihat lebih dalam, melampaui yang sekedar kelihatan. Bukan hanya melihat kelemahan saudariku, tetapi menyimak wajah Kristus yang hadir dalam dirinya. Memperhatikan dengan cermat, sambil menimbang lalu meyakini bahwa Allah sungguh hadir dalam diri saudariku, serapuh apa pun keadaannya. Tidak mudah, jika tanpa kerendahan hati. Ya…bagaimana pun aku harus belajar. Dan aku selalu ingat, Yesus katakan kepada Faustina,”seluruh hidup-Ku sejak lahir sampai di salib harus menjadi model bagimu..Tataplah aku.” Menatap Yesus sesering dalam kontemplasi batin, dalam doa-dalam merenung Sabda-Nya, kiranya semakin dimampukan untuk menatap wajah sesama yang dijumpai sehari-hari.Menatap untuk menemukan dan untuk dicintai.
Aku bertanya diri, seberapa sering aku melihat Kristus, atau menemukan Kristus yang ‘hadir’ dalam wajah/diri sesamaku? Kiranya sesering aku menatap Kristus, sesering pula kutemukan wajah-Nya yang tersembunyi namun nyata dalam diri sesamaku terutama dalam rumahku.Yesus, bukalah mataku hatiku agat mampu menyimak wajah-Mu dalam diri sesamaku.Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments