Di samping kaul, aku melihat satu peraturan yang amat penting. Memang semua peraturan itu penting, tetapi aku menempatkan yang satu ini pada tempat pertama dan peraturan itu adalah silentium. Sungguh kalau peraturan silentium itu ditaati secara ketat, aku tidak risau mengenai hal-hal yang lain.
Para perempuan sangat senang berbicara, tetapi Roh Kudus tidak berbicara kepada jiwa yang tidak tenang dan bawel. Roh Kudus berbicara lewat bisikan-bisikan yang lembut kepada jiwa yang hening, kepada jiwa yang tahu bagaimana berdiam diri. Kalau silentium dipatuhi secara ketat, tidak akan ada gerutu, kebencian, caci maki, atau gosip, dan kasih kepada sesama tidak akan ternodai.
Singkat kata, banyak kesalahan akan dihindarkan. Bibir yang diam adalah emas murni, dan ia memberikan kesaksian tentang kesucian yang ada di dalam hati. •BHF 552
“Roh Kudus berbicara lewat bisikan-bisikan yang lembut kepada jiwa yang hening, kepada jiwa yang tahu bagaimana berdiam diri.” Kalimat ini membantuku memahami mengapa Faustina menempatkan silentium sebagai peraturan yang paling penting lebih dari peraturan lainnya. Silentium bukan sekadar aturan untuk tidak banyak berbicara, agar terhindar dari dosa karena lidah. Silentium lebih merupakan sebuah disposisi batin, sikap hati yang dengan sengaja memberi ruang dan tempat yang istimewa bagi Allah untuk menyatakan kehendak-Nya.
Faustina seolah mengatakan bahwa silentium adalah pintu masuk kehidupan rohani. Di balik pintu itulah Roh Kudus menantikan kita.
Namun kalau pintu itu selalu tertutup oleh keramaian, kegaduhan, kesibukan, keluh kesah, keinginan-keinginan diri, kecenderungan tidak teratur, dan kata-kata yang tidak perlu, bagaimana mungkin kita mendengar bisikan Roh Kudus yang begitu lembut?
Roh Kudus tidak memaksa masuk. Tetapi Ia menunggu. Roh Kudus berbicara kepada jiwa yang membuka pintu hatinya melalui keheningan. Kami mengenal istilah keheningan adalah bahasa Allah.
Semakin aku merenungkan hal ini, semakin aku sadar bahwa Tuhan tidak pernah berhenti berbicara. Justru aku yang terlalu gaduh dengan pikiran, perasaan dan sibuk dengan aksi – aksi sehingga tidak ada lagi waktu atau bahkan tidak mampu mendengar suara-Nya.
Jika aku tidak mendengar suara-Nya, bagaimana aku tahu kehendak-Nya? Kalau tidak tahu, bagaimana aku melaksanakan kehendakNya? Lalu, kehendak siapa yang aku lakukan? Jangan-jangan, kehendak dunia, dan kehendak diriku sendiri. Demikian, sedemikian penting dan sentralnya silentium itu, sebab dengannya memungkinkan kehendak Allah dinyatakan. Aku mawas diri: apakah aku sungguh menyediakan ruang bagi Roh Kudus? Yesus Engkau andalanku..
Recent Comments