MINGGU PENTAKOSTA
Kis 2:1-11; Mzm 104:1ab, 24ac, 29c-30, 31, 34; Rm 8:8-17; Yoh 14:15-16, 23b-26
Empat puluh hari setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus berulang-ulang menampakkan diri kepada para murid-Nya. Sepuluh hari setelah kenaikan-Nya, Yesus memenuhi janji-Nya. Itu berarti lima puluh hari sesudah kebangkitan-Nya, Yesus mengutus Roh Kudus. Janji untuk mengutus Roh Kudus itu dihubungkan dengan kasih para murid kepada Yesus, yaitu menuruti segala perintah-Nya. Janji itu telah ditegaskan oleh Yesus menjelang akhir hidup-Nya: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Melalui pernyataan-Nya itu, Yesus menegaskan bahwa Roh Kudus itu adalah Roh Kebenaran. Roh Kudus itu adalah Penolong yang menyertai dan diam di dalam diri para murid-Nya selama-lamanya. Roh Kudus itu tidak dapat diterima oleh dunia, sebab dunia tidak mengenal Dia.
Kisah para Rasul menceritakan bagaimana murid-murid Yesus menerima pemenuhan janji Yesus itu. Ketika mereka sedang berkumpul tiba-tiba turunlah dari langit suatu tiupan keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus! Lalu, mereka mulai berkata-kata dalam berbagai bahasa, seperti diberikan oleh Roh itu kepada mereka. Peristiwa Pentakosta ini bertolak belakang dengan peristiwa menara Babel dalam kisah Perjanjian Lama. Dalam peristiwa menara Babel manusia diceraiberaikan sehingga tidak saling mengenal bahasa mereka. Peristiwa Pentakosta Roh Kudus menghimpun mereka dalam satu kesatuan cinta kasih Allah. Mereka saling mendengarkan satu sama lain dan mendengarkan kisah perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah dalam bahasa mereka masing-masing.
Paulus menegaskan bahwa sebagai pengikut Kristus, Roh Allah diam di dalam diri kita. Karena itu setiap pengikut Kristus dituntut untuk hidup menurut tuntunan Roh Kudus. Sebab, Roh-lah yang menghidupkan dan menghidupi kita. Ia menjadikan kita milik Kristus. Sebagai milik Kristus, kita adalah anak-anak Allah, yang bisa berseru: “ya Abba, ya Bapa!”. Jika kita anak, maka kita juga adalah ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan kita terima bersama-sama Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama Dia.
Apakah aku selalu menyadari kehadiran Roh Kudus di dalam diri dan hidupku? Sejauh mana kehadiran Roh Kudus itu telah mendorong aku untuk secara setia melaksanakan perintah cinta kasih Allah? Bagaimana aku telah menumbuhkembangkan karunia-karunia Roh Kudus yang ada di dalam diri dan hidupku? Apa wujud konkretnya?
Mari membuka diri dan hati kita sepenuhnya bagi kehadiran Roh Kudus Allah di dalam diri dan kehidupan kita. Mari menumbuhkembangkan karunia-karunia Roh Kudus yang ada di dalam diri dan hidup kita. Mari secara giat melaksanakan perinta cinta kasih Allah di dalam hidup kita setiap hari. Mari berseru dan memohon bersama pemazmur: “UTUSLAH ROHMU YA TUHAN, DAN JADI BARU SELURUH MUKA BUMI”.
Tuhan memberkati. *RD AMT
Recent Comments