Hati-hari di rumah penuh dengan ramah tamah karena setiap orang ingin melihat dan bercakap-cakap denganku seperlunya. Sering aku dapat menghitung sebanyak 25 orang berkumpul di sana. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan cerita-ceritaku mengenai kehidupan orang-orang kudus. Aku merasa bahwa rumah kami sungguh menjadi rumah Allah karena setiap petang kami berbicara hanya mengenai Allah

Ketika letih karena percakapan ini dan ingin menyendiri dalam keheningan, diam-diam aku menyelonong ke kebun pada petang hari sehingga aku dapat berbicara dengan Allah meskipun dalam hal ini aku tidak berhasil; serta merta saudara dan saudaraku datang dan mengajak aku masuk ke rumah dan, sekali lagi, aku harus berbicara, dengan semua mata menatap aku. Tetapi, saya tetap mencari satu cara untuk beristirahat; aku minta kepada sadara-saudaraku untuk melambungkan suasana dingin karena mereka memiliki suara yang indah; dan di samping itu, satu orang memainkan biola dan yang lainnya memainkan mandolin. Dan selama waktu itu aku dapat membaktikan diriku kepada doa batin tanpa menghindari kehadiran mereka.(BHF 401a )

Kisah Faustina hari ini membuatku tersenyum sekaligus merenung. Aku merasa mirip sekali dengan setiap kali pengalamanku ketika cuti. Selama berada di rumah, ia menjadi pusat perhatian. Banyak orang yang datang, bercakap-cakap, dan ingin mendengarkan kisahnya. Suasana rumah dipenuhi ramah tamah. Namun yang paling menarik perhatian adalah kesadaran Faustina: rumah mereka sungguh-sungguh menjadi Rumah Allah, karena setiap petang pembicaraan mereka selalu tentang Allah. Tentu, ini cukup berbeda dengan pengakaman Faustina yang selalu mewartakan tentang Allah.

Di tengah keramaian itu, Faustina tetap berusaha mencari waktu untuk menyendiri dan berdialog dengan Tuhan. Ia mencoba ke kebun di petang hari, ingin berada dalam ketenangan. Menariknya, Faustina tidak melarikan diri dari kehadiran mereka. Ia justru menemukan cara lain untuk beristirahat dalam Tuhan: ia meminta saudara-saudarinya bernyanyi dan memainkan alat musik, sementara ia membaktikan dirinya pada doa batin, tanpa menghindari kehadiran siapa pun.

Ungkapan Faustina ini sangat menyentuhku: “Selama waktu itu aku dapat membaktikan diriku kepada doa batin tanpa menghindari kehadiran mereka.” Doa batin itu sungguh indah. Faustina tetap bisa berdialog dengan Tuhan meski berada di tengah keluarganya. Bukan untuk menjauh, bukan untuk mengabaikan, tetapi untuk menghadirkan Tuhan di tengah kebersamaan. Bisa jadi, kehadiran keluarga dan para sahabatnya menjadi bahan dialog doa batin itu sendiri.

Pengalaman ini meneguhkanku. Doa batin hanya mungkin bila kita membiasakan diri dengan dialog singkat dan jujur ​​dengan Tuhan, kapan pun dan di mana pun. Saya yakin, kita semua di SKR telah membiasakan diri dengan doa batin; Bahkan membaca renungan sederhana di SKR pun bisa menjadi pintu masuk dialog batin dengan Tuhan.

Kisah Faustina hari ini menguatkanku untuk semakin tekun melakukan doa batin di tengah kesibukan. Tuhan tahu segalanya. Kita tetap hadir bagi orang lain, menghargai kehadiran mereka, namun hati tetap terarah kepada Tuhan. Betapa indahnya bila setiap melompat dengan sesama membuat hati kita peka pada kebutuhan mereka, sekaligus peka pada kehadiran Tuhan yang selalu menyertai.

Bagiku, doa batin membantuku untuk selalu berdialog dengan Tuhan tentang apa saja. Dan di sanalah aku belajar satu hal sederhana namun mendalam yakni belajar mengandalkan Tuhan, di tengah keramaian maupun kesunyian. Tuhan hadir, dan saya butuh waktu untuk menyadari kehadiran-Nya dan bersyukur atas semuanya.Yesus, Engkau andalanku.*hm