Ketika aku harus meninggalkan orang tuaku dan ketika aku memohon berkat dari mereka, aku merasakan kekuatan rahmat Allah yang luar biasa dicurahkan atas jiwaku. Ayahku, ibuku, dan ibu baptisku memberkati aku sambil mencucurkan air mata mereka, nemohon bagiku kesetiaan yang paling besar kepada rahmat Allah, dan meminta kepadaku untuk tidak pernah melupakan betapa banyak rahmat Allah yang telah diberikan kepadaku dengan memanggil aku nerengkuh kehidupan membiara. Mereka minta kepadaku untuk mendoakan mereka. Meskipun setiap orang menangis, aku tidak meneteskan setitik air mata pun; aku berusaha untuk tegar dan menghibur mereka sebaik mungkin, sambil mengingatkan mereka akan surga di mana tidak akan ada lagi perpisahan.

Stasio mengantarkanku ke mobil. Aku berkata kepadanya bahwa Allah sangat mengasihi jiwa-jiwa yang murni dan meyakinkan dia bahwa Allah sangat senang dengan dia. Ketika aku berbicara dengannya tentang kebaikan Allah dan tentang bagaimana Ia memikirkan kita, mendadak ia menangis seperti seorang anak kecil, dan aku tidak heran karena ia adalah seorang yang murni jiwanya sehingga dengan mudah mengenali Allah. (BHF 402 )•

Membaca kisah Faustina pada saat-saat terakhirnya di rumah, ketika mereka saling mendoakan dan saling memberkati sebelum berpisah, hatiku dipenuhi rasa haru. Aku merasakan betapa keluarga ini sungguh diberkati. Ada kasih dan sukacita yang nyata mengalir di antara mereka. Faustina sendiri menyadarinya dan mengungkapkannya dengan sederhana: “Aku bersukacita luar biasa bahwa kasih yang sedemikian besar meraja di tengah keluarga kami ( 401b).” Sukacita itu terasa semakin kuat justru pada saat saling melepaskan.

Faustina meninggalkan orang tuanya dengan menerima berkat mereka. Ada kekuatan rahmat Allah yang besar dicurahkan saat itu. Orang tua dan ibu baptisnya tidak meminta Faustina kembali, tidak menahannya dengan rasa memiliki, tetapi justru memohon baginya kesetiaan yang paling besar kepada rahmat Allah dan mengingatkannya untuk tidak pernah melupakan betapa banyak rahmat Allah yang telah diberikan kepadanya dengan memanggilnya ke hidup membiara. Mereka bahkan meminta Faustina untuk mendoakan mereka. Bagiku, ini sungguh indah. Suatu pesan indah yang sangat berharga.

Aku merenung: apa rahasia keluarga ini? Bukan soal kelimpahan materi, melainkan kesederhanaan batin. Hidup mereka tampak berakar pada kesederhanaan Injili, cara pandang yang terarah kepada Allah, hidup yang sungguh mengandalkan-Nya. Ungkapan orang tua Faustina itu hanya mungkin lahir dari hati yang dekat dengan Allah dan percaya penuh pada karya rahmat-Nya. Mereka seolah berkata: semua ini karena rahmat, dan karena itu tidak boleh mengecewakan Allah yang telah memberi begitu banyak. Sikap hati orang tua Faustina sungguh mengagumkanku. Mereka mendukung panggilan Faustina sepenuhnya, mempercayakan hidup anak mereka ke dalam rangkulan rahmat Allah sendiri. Barangkali karena itu jugalah Faustina dapat dengan bebas dan total mengabdikan dirinya sebagai rasul Kerahiman Ilahi. Keluarganya berdiri di belakangnya, dalam doa, berkat, dan penyerahan.

Bagian lain yang menyentuhku adalah perjumpaan Faustina dengan Stasio. Faustina berbicara tentang kebaikan Allah dan tentang betapa Allah mengasihi jiwa-jiwa yang murni. Stasio pun menangis seperti anak kecil. Faustina tidak heran, sebab jiwa yang murni mudah mengenali Allah. Satu hal indah, Faustina tidak menghibur keluarganya dengan kata-kata manis, tetapi selalu mengarahkan mereka kepada kebaikan Allah dan surga, tempat di mana tidak ada lagi perpisahan.

Merenungkan kisah ini, aku teringat kembali seluruh sejarah panggilanku sendiri. Tidak ada yang bisa kukatakan selain syukur atas kasih Tuhan yang begitu besar dalam hidupku. Hari ini aku belajar dari Faustina bahwa jika kasih meraja dalam hati dan dalam rumah, maka berkat dan sukacita akan mengalir dengan sendirinya. Di mana ada kasih, di situ Allah hadir. Dan ketika seseorang sadar akan kehadiran Allah, damai dan sukacita sejati akan memenuhi batin.

Faustina bersukacita. Ia tidak larut dalam kesedihan karena perpisahan, sebab ia sungguh sadar bahwa semua ini adalah wujud kasih dan kebaikan Allah. Jiwanya yang terawat oleh cinta dan disiram oleh rahmat berbuah kasih yang tulus dan murni—bagi Tuhan dan bagi sesama. Melalui Faustina, Gereja, banyak jiwa, dan aku yang papa ini semakin mengenal kasih dan kebaikan Allah. Hari ini, kasih dan kebaikan Allah sungguh nyata dalam kisah hidupnya. Aku berdoa, semoga jiwaku dan jiwa-jiwa para pilihan Allah selalu terbuka pada gerakan Roh Kudus dan rahmat-Nya, agar senantiasa mewartakan dan memberi kesaksian tentang kasih dan kebaikan Allah. Yesus, Engkau andalanku.*hm