5 Agustus 1935. Pesta Santa Perawan Maria, Bunda Kerahiman. Aku mempersiapkan pesta ini dengan gairah yang lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Pada hari pesta ini, pagi-pagi, dan aku mengalami suatu pergulatan batin karena memikirkan bahwa aku harus meninggalkan Kongregasi yang menikmati begitu banyak perlindungan istimewa dari Maria ini. Pergulatan itu berlangsung selama meditasi dan juga selama misa pertama. Dalam misa kedua, aku berpaling kepada Bunda kita Tersuci, sambil memberitahukan kepadanya bahwa sangat sulit bagiku untuk memisahkan diri dari Kongregasi. …“yang kaulindungi secara istimewa ini, ya Maria.” Kemudian, aku melihat Sang Perawan Kudus, elok tak terperikan. Ia turun dari altar ke tempat aku berlutut, merangkul aku erat-erat dan berkata kepadaku,
“Aku adalah Bunda bagi kamu semua berkat kerahiman Allah yang tak terselami. Yang paling menyenangkan hatiku adalah jiwa yang dengan setia melaksanakan kehendak Allah.” Ia membuat aku memahami bahwa dengan setia aku telah memenuhi Allah dan dengan demikian aku berkenan di hatinya. “Jangan takut. Jangan takut akan halangan-halangan yang demikian, tetapi tetapkan pandanganmu pada sengsara Putraku, dan dengan cara ini engkau akan menang.” ( BHF 449)
Bunda Maria selalu ada untuk Faustina… kapan dan di mana pun. Siapa saja yang berniat dengan tulus ikhlas melakukan kehendak Allah sangat menyenangkan hati Bunda dan berada dalam kepastian perawatan dan pengasuhan cinta keibuan Bunda Maria.Faustina tahu bagaimana menghormati Sang Bunda. Mempersiapkan diri secara khusus untuk merayakannya dengan penuh sukacita sebagai ungkapan syukur sekaligus membawa sejuta harapan kepadanya.
Sebagai Ibu, Bunda tahu apa yang paling perlu saat anaknya datang mengeluh dan mengadu: menenangkan hati, menghibur, memberi harapan, bahkan jika perlu menyelesaikan segala masalahnya.Faustina mengalami kasih keibuan yang istimewa dari Bunda Kerahiman, yang membuat hatinya tenang, damai, dan semakin bertekun melaksanakan kehendak Allah.
Saya yakin saya dan kita semua memiliki pengalaman istimewa bersama Bunda dalam berbagai peristiwa hidup, Bunda dengan gelar apa pun. Merenung pengalaman Faustina, saya ingat pengalamanku bersama Bunda. Saya sangat suka menyapa Bunda sebagai Bunda Perawan yang Dikandung Tanpa Noda, Bunda Keluarga Kudus Nazaret, Bunda Penolong Abadi, Bunda Pengurai/penyelesai segala masalah, yang selalu menjadi penolong, perantara, pembela, dan pengantar harapan dan doa-doa kepada Yesus Kristus Putranya.
Bagiku, menyapa saja sudah memenangkan hati, membuat merasa nyaman dan damai, memasuki hari baru dan melewati peziarahan hidup harian yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi satu menit ke depan.
Menyapa Bunda, berdoa, berharap, dan meletakkan segala harapan, serta berjalan bersama Bunda membuatku memiliki keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan hidup.
Hari ini, sabda Bunda kepada Faustina, “Jangan takut, jangan takut akan halangan-halangan yang demikian…” rasanya tertuju kepadaku dan meyakinkan aku untuk memiliki keberanian iman seperti Bunda agar rencana dan kehendak Allah untuk diriku terlaksana. Saya sadar, keraguan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran yang membelenggu pikiran dan perasaan menjadi pergumulan serius yang berpotensi membuatku memilih untuk menghindar, tidak berbuat apa-apa, atau sebaliknya bisa terlalu nekat melakukan hal yang tidak berkenan di hadapan Allah.
Memiliki Ibunda yang memandu hidup, yang hadir sebagai sahabat dan menerima dengan terbuka sebagai seorang Bunda… selalu dan selamanya hadir…Berbahagialah yang selalu dekat dengan Ibunda. Doakan kami ya Santa Bunda Allah, Bunda Kerahiman. Doakan kami agar menikmati janji Kristus Raja Kerahiman Ilahi. YESUS, ENGKAU ANDALANKU.
Recent Comments