Sejak saat Engkau membiarkan aku menambatkan mata jiwaku kepada-Mu, ya Yesus, aku telah menikmati ketenangan dan tidak menginginkan sesuatu lain apa pun. Aku menyadari nasibku pada saat jiwaku kehilangan dirinya di dalam Engkau, satu-satunya sasaran kasihku. Dibandingkan dengan Engkau, segala sesuatu itu hampa belaka. Penderitaan, permusuhan, penghinaan, kegagalan, dan kecurigaan yang menghadang jalanku adalah ibarat serpihan kayu yang membuat api kasihku bagi-Mu, ya Yesus, tetap berkobar. (BHF 57)

Aku menyadari nasibku pada saat jiwaku kehilangan dirinya di dalam Engkau, satu-satunya sasaran kasihku. Dibandingkan dengan Engkau, segala sesuatu itu hampa belaka. Benar adanya, ungkapan Faustina yang bagiku merupakan keberuntungan awal, ketika aku menyadari bahwa segala yang di dunia berasal, berproses, menuju satu tujuan atau sasaran yakni Tuhan dan kemuliaan kerajaan-Nya. Aku pun sadar dalam pikiranku bahwa segalanya tertuju kepada Allah, untuk kemuliaan Allah. Allah yang adalah alfa dan omega, awal dan akhir harus menjadi sasaran cintaku. Mestinya cintaku tidak menyimpang sana-sini atau berbelok arah kalau hanya menuju satu sasaran yakni Allah.

Kuasa dosa dan kelemahan telah membelokkan arah sasaran cintaku.  Aku sering tersesat tanpa tahu arah? Mengapa? Karena kadang terlalu lama menikmati sesuatu yang saya senangi. Kadang terlalu kuat menggenggam apa yang diberikan kepadaku, sehingga aku nyaris lupa melepaskannya. Mataku dan indraku yang lain terlalu bebas melihat sehingga berlama-lama dalam kesenangan, keindahan, kenikmatan hidup. Kadang dengan dalih, hidup cuma sekali, sayang kalau tidak dinikmati dibiarkan berlalu. Jangan lewatkan kesempatan! Kesempatan tidak datang dua kali. Berbagai bisik rayu bujukan dunia melalui indra sungguh memikat hati, yang kalau dituruti berujung pada tak tahu arah jalan bahkan untuk kembali.

Barusan tadi sore, kami ikuti Perayaan Ekaristi sakral pengikraran kaul kekal kedua suster yuniorku. Mengikuti seluruh upacara ini, teringatlah aku akan tema renungan kita hari ini. Yesus satu-satunya sasaran cintaku. Seperti itulah janjiku dulu, hanya Dialah kekasih jiwaku, cintaku dan sasaran kasihku. Demi Dia aku rela tinggalkan segalanya. Dengan mantap berucap janji, seolah merasa sudah selesai. Batinku bergumul sendiri, di tengah sakralnya upacara meriah ini. Doa singkatku dalam hati.  “Yesus, dulu aku juga begitu. Sangat semangat dan menyakinkan berjanji pada-Mu. Hari ini Engkau tahu, Engkau tahu segala sesuatu tentang aku. Tentang ketersesatan jiwaku, penyangkalan dan pengkianatanku. Seperti Petrus, seperti Yudas, seperti Thomas. Karakter mereka telah kulakoni juga. Tapi, Engkau tahu aku mencintai-Mu. Sungguh mencintai-Mu, hanya seringkali tidak tahu bagaimana terus -menerus mempertahankan fokus sasaran cintaku.

Bagaimana pun, aku bersyukur, dalam ketersesatan aku telah selalu dibawa pulang. Dalam ketertinggalan, aku selalu dicari untuk mulai lagi dan berjalan terus. Dalam kelelahan nyaris menyerah, Engkau duduk bersamaku, menantiku, mengulurkan tangan, memapahku untuk berjalan terus. Aku yang berpikir dan merasa Engkau adalah sasaran cintaku, ternyata aku salah. Sesungguhnya, aku adalah sasaran cinta-Mu yang tak terbatas. Semuanya nyata tetapi juga tersembunyi. Hatiku tahu dan merasakannya berkali-kali seperti inilah alur hidupku. Hari ini aku diingatkan oleh tema renungan sekolah ini, juga diteguhkan dengan upacara sakral tadi. Bukan suatu kebetulan, tapi rahmat besar bagiku.

Merenung semua ini, bagaimana mungkin aku tak memuliakan kerahiman-Mu. Semua telah terjadi karena kemurahan dan kerahiman kasih ilahi-Mu. Sekarang, aku makin mengerti dan dicerahkan bahwa betapa indahnya memuliakan kerahiman Ilahi. Betapa beruntungnya aku mengenal  kerahiman ilahi dan diundang untuk masuk semakin dalam, ke dalam misteri  ini.
Semoga makin berkobarlah kasih dan hormatku pada kerahiman ilahi; semakin bergemarlah jiwaku untuk.memuliakan kerahiman-Mu dengan karya -karya Kerahiman Ilahi. Semoga kesadaran ini, semakin membaharui seluruh diriku, bahwa berdoa koronka, berdevosi kepada kerahiman Ilahi bukan lagi dengan sejumlah harapan, tapi lebih menjadi sebuah ungkapan kasih yang tulus dan mesra karena memang DIALAH sasaran cintaku Yesus Kau andalanku.*hm