Serahkan segalanya kepada Allah!
Aku tidak pernah boleh menghakimi seorang pun. Aku harus memperlakukan orang lain dengan lemah lembut, tetapi diriku sendiri harus kuperlakukan dengan keras. Aku harus menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, dan dalam pandanganku sendiri, aku harus menyadari diriku sendiri seperti adanya: melulu kepapaan dan kehampaan. Dalam menghadapi penderitaan aku harus sabar dan tenang karena sadar bahwa segala sesuatu akan berlalu pada waktunya. (BHF 253)
Serahkan SEGALANYA kepada Allah! Apa yang perlu dan harus kuserahkan kepada Allah? Jawabannya : SEGALANYA. Saya sangat tertarik merenung hari ini muatan yang terkandung dalam kata SEGALANYA . Salah satu yang diserahkan kepada Allah seperti dalam renungan kemarin adalah tentang penderitaan.Dalam kata segala yang diserahkan, termasuk, masa depan, nasib hidup, kelemahan, kekurangan, dosa-dosa. Pada dasarnya menyerahkan seluruh hidup ke dalam tangan Tuhan.
Namun, saya penasaran dengan pengalaman Faustina dalam BHF 253 ini, sebab di dalamnya ada banyak muatan kalimat inti yang bagiku menjadi acuan mengapa perlu menyerahkan segalanya kepada Allah! Termasuk di dalamnya : jangan menghakimi seorang pun. Harus memerlakukan orang lain dengan lemah lembut. Sadar diri apa adanya, melulu kepapaan dan kehampaan. Serta keyakinan bahwa segala sesuatu akan berlalu pada waktunya. Sebab di dunia ini tidak ada satu pun yang abadi.Saya merasa kisah Faustina yanh direnungkan hari ini tentang menyerahkan segalanya kepada Allah berkaitan erat dengan kehendak diri, kehendak bebas.
Sebagai seorang yang hidup di biara sudah hampir seusia Faustina, saya merasa cukup pasti bahwa yang cukup sulit untuk diserahkan kepada Allah adalah kehendak bebas diriku. Menyerahkan penderitaan jauh lebih mudah dibandingkan hal ini. Saya sangat memahami bagaimana seluk beluk, lika liku dan problema dalam hidup membiara. Memang indah tetapi juga menuntut banyak pengurbanan. Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya digumuli Faustina dalam BHF nomor 253 ini, saya bisa merasakan sedikit bahwa Faustina mungkin sedang bergumul dengan antara kehendak bebas, kehendak pemimpin, barangkali kehendak sesama dan kehendak Tuhan.
Mengetahui kehendak Tuhan bagi diri sendiri, tidak mudah dalam hidup membiara, karena pelaksanaan kehendak Tuhan, harus berada dalam koridor kaul ketaatan. Bisa jadi tidak banyak para pemimpin atau pembesar mengerti, memahami intuisi batin, relasi intim seseorang dan kehendak Allah baginya. Apalagi sesama yang lain. Yang terlihat dalam hidup harian adalah yang lahiriah, tapi dunia batin tidak ada yang tahu, jika Allah tidak menyingkapkan sedkit terang.
Dalam hal ini, seingat saya dalam kisah pergumulan Faustina seperti itu. Belum lagi, bagaimana sesama memandangnya. Sungguh, tidak mudah melaksanakan kehendak Allah dalam hidup membiara. Semua harus tetap dalam konteks ketaatan. Bahkan jika seandainya sehebat dan sebagus apa pun, ide, pendapat, kemauan baik, terang ilahi yang diperoleh dan ingin dibagikan dan diabdikan untuk sesama, jika TIDAK SEIZIN PIMPINAN, tidak ada makna sama sekali. Mengapa? Karena sebagai seorang yang berkaul, sejatinya tidak memiliki kehendak sendiri. Semua sudah diserahkan kepada Allah dengan janji atau ikrar. Yang dilakukan adalah kehendak Allah melalui perutusan resmi dari pimpinan.
Bagaimana jadinya sekiranya, kita tahu yang baik yang dikehendaki Allah tetapi ‘dibatasi, terbatas atau bahkan tidak diizinkan atau dilarang untuk dilakukan?? Inilah letaknya bagaimana awal munculnya pergumulan menyerahkan SEGALANYA kepada Allah. Secara manusiawi, bisa merasa dipersulit, bodoh, atau bisa berspekulasi macam-macam tentang pemimpin. Namun, justru di sini lah letak kesejatian dan kemurnian motivasi melaksanakan kehendak Allah yang diperhadapkan dengan penghayatan ketaatan. Tidak mudah, tapi harus berjuang. Bukan untuk memaksa diri melakukan tapi terutama untuk mengosongkan diri, menanggalkan kehendak diri sendiri dan menyerahkan segalanya kepada Allah.
Faustina mengingatkan dirinya, aku harus sabar dan tenang. Karena segala sesuatu akan berlalu pada waktunya.Benar, jika Tuhan menghendaki, apa pun hambatan, halangan, rintangan , sebesar dan sesulit pun, pasti ada jalan. Memang, barang kali sedikit lambat arena perlu kesabaran.
Bukankah Tuhan tidak semata-mata menghendaki kesuksesan, kehebatan dalam waktu singkat tetapi lebih ingin kesetian kita pada Tuhan.
Aku ingat, kadang orang menjadi begitu kecewa bila merasa ada sedikit tantangan, lalu menyerah dan tidak mau terlibat lagi. Merasa orang lain menghambat karyanya melaksanakan kehendak Tuhan. Barangkali ini konsep duniawi yang banyak dianut orang pada umumnya. Namun, jika kita cermati jalan cinta Faustina untuk melaksanakan kehendak Allah yang penuh tantangan tetapi akhirnya tetap Allah dan kehendak-Nya yang menang.
Saya senang dengan ungkapan Faustina : ” Aku harus menyadari diriku sendiri seperti adanya : melulu kepapaan dan kehampaan.” Yang bagiku artinya seperti ini, siapakah aku ini, aku bukan siapa-siapa dan apa-apa. Kalau Tuhan tidak pakai, mau apa? Namun, kalau Tuhan yang mau, pantas dihadapi dan belajar untuk sabar dan tenang.
Merenung ini, saya sangat terharu, mengingat kisah Yesus pada permulaan sengsara di taman Getsemani. Bergumul, tetapi akhirnya menyerahkan segalanya kepada Allah. Allah yang akhirnya pegang kendali atas semuanya. Maka, bagi saya, menyerahkan segalanya pada Allah, bukan sekedar seruan verbal dalam doa : “Tuhan, ke dalam tangan-Mu aku serahkan semuanya”. Doa verbal sungguh baik dan sangat perlu. Namun, yang lebih perlu adalah bagaimana tindakan yang mengikuti penyerahan diri kepada Allah. Menyerahkan segalanya kepada Allah adalah TAAT, ikut, patuh nurut dengan kesadaran penuh. Maka, terbebas dari pikiran untuk menghakimi sesamaku, pemimpin, atau menyalahkan situasi atau lainnya.
Tidak gampang untuk taat, apalagi jika memiliki banyak hal dan peran. Tetapi bukan tidak mungkin. Yesus saja Putra Allah rela TAAT sampai wafat bahkan wafat di kayu salib. Buah ketaatan memang manis tapi mesti melewati salib, derita karena harus mengosongkan diri. Sulit? Tdak juga. Jika bersama Tuhan Yesus, dalam Tuhan Yesus dan melalui Yesus. Sulit, jika mau nekat jalan sendiri dan paksa diri. Menderita? Sudah pasti dan bukankah biasa? Karena ikut Tuhan yang menderita. Tapi pasti semua akan berlalu pada saatnya. Memang untuk masuk Kerajaan Allah kita harus menanggung banyak sengsara ( Kisra 14 :22 ).
Tema hari ini, sungguh menghibur hatiku, meneguhkan dan mengingatkan aku dengan cukup tegas agar selalu kembali ketika pikiran mulai tergoda dengan paham duniawi umumnya. Untung ada Sekolah Kehidupan Rohani, ada kesempatan untuk merenung, menulis di akhir hari sama seperti sebuah diskresi. Betapa indahnya mengawali hari dengan renungan Injil dalam liturgi harian dan memgakhiri hari dengan mawas diri bersama Faustina. Yesus, Kau andalanku.* hm
Recent Comments