SABTU PASKAH III
1Ptr 5:5b-14; Mzm 89:2-3.6-7.16-17; Mrk 16:15-20.
Hari ini kita merayakan pesta St. Markus, penulis Injil. Markus bukanlah seorang rasul yang langsung mengikuti Yesus, tetapi ia menjadi saksi iman melalui pelayanan dan tulisan yang diwariskan kepada Gereja. Injil Markus dikenal sebagai Injil yang lugas, penuh semangat, dan menekankan Yesus sebagai Mesias yang menderita, tetapi juga penuh kuasa. Melalui Markus, kita belajar bahwa setiap orang, meski dengan latar belakang berbeda, dapat menjadi alat Allah untuk mewartakan kabar gembira.
Markus sudah bertemu dengan Yesus, namun ia tidak menjadi murid Yesus. Dalam Injil tulisannya ia bercerita bahwa ketika Yesus ditangkap dan digiring ke hadapan Mahkama Agung, seorang anak muda mengikuti-Nya dari belakang. Para serdadu hendak menangkapnya, namun ia meloloskan diri. Besar kemungkinan orang muda itu adalah Markus.
Markus adalah keponakan Barnabas. Ia dipermandikan oleh Petrus. Ia kemudian menjadi orang yang setia menemani pewartaan beberapa rasul: Barnabas, Petrus dan Paulus. Setelah Petrus dan Paulus dibunuh oleh Kaisar Nero, Markus berangkat ke Mesir. Ia menjadi bapa para pertapa di gurun Mesir. Ia kemudian diangkat menjadi uskup Alexandria dan mati dibunuh. Ia adalah penulis Injil dengan lambang singa, raja gurun pasir, yang diambil dari permulaan Injilnya yang menyinggung gurun pasir.
Surat pertama Petrus hari ini meneguhkan kita: “Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Hidup beriman menuntut kerendahan hati, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap teguh meski menghadapi penderitaan. Markus sendiri pernah mengalami kelemahan—ia sempat meninggalkan Paulus dalam perjalanan misi—tetapi kemudian dipulihkan dan menjadi rekan setia dalam pelayanan. Kasih Allah selalu memberi kesempatan baru.
Mazmur mengingatkan kita akan kasih setia Tuhan yang kekal: Dialah yang meneguhkan umat-Nya, memberi sukacita, dan menjadi kekuatan dalam perjalanan hidup. Kasih Allah adalah dasar dari setiap perutusan.
Injil Markus menutup dengan perintah Yesus: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Perintah ini bukan hanya untuk para rasul, tetapi juga untuk kita semua. Markus menulis Injil agar kabar gembira Kristus terus hidup dan menjangkau banyak orang. Dan janji Yesus jelas: “Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” Perutusan kita tidak pernah berjalan sendiri, sebab Allah selalu menyertai.
Sejauh mana aku telah mengikuti Yesus Tuhanku? Sejauh mana aku telah menggunakan segala daya, bakat, dan kemampuanku untuk mewartakan Injil Tuhan kepada sesamaku?
Dalam dunia yang penuh tantangan, kita sering merasa kecil atau tidak layak untuk mewartakan Injil. Namun pesta St. Markus mengingatkan bahwa Allah dapat memakai siapa saja yang mau setia. Markus yang pernah gagal, akhirnya menjadi penulis Injil yang menguatkan Gereja sepanjang zaman. Kita pun dipanggil untuk rendah hati, setia, dan berani mewartakan Kristus melalui kata-kata, tindakan, dan kesaksian hidup.
Pesta St. Markus mengingatkan kita bahwa setiap orang dapat menjadi saksi Injil bila setia dan rendah hati. Mari kita membuka hati bagi kasih Allah yang memulihkan, dan berani melangkah dalam perutusan, sebab Kristus yang bangkit selalu menyertai kita. Mari membangun daya dan semangat kita untuk mengikuti Yesus Tuhan kita, menjadi pewarta cinta kasih-Nya kepada sesama kita. Mari belajar pada St. Markus!
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments