Setiap jiwa yang telah Engkau percayakan kepadku, ya Yesus, akan kubantu dengan doa dan pengurbanan sehingga rahmat-Mu dapat bekerja di dalam mereka. Ya Yesusku, Pengasih jiwa yang agung, aku bersyukur kepada-Mu atas kepercayaan yang luar biasa ini karena Engkau telah berkenan menempatkan jiwa-jiwa itu di dalam perlindungan kami. Hai kamu, hari-hari kerja dan hari-hari yang membosankan, bagiku kamu sama sekali tidak membosankan karena setiap saat membawa kepadaku rahmat dan kesempatan baru untuk berbuat baik. (BHF 245).

Setiap jiwa yang telah Engkau percayakan kepadaku, ya Yesus, akan kubantu dengan doa dan pengurbanan sehingga rahmat-Mu dapat bekerja di dalam mereka. Sungguh indah, sebuah komitmen cinta yang tegas dari Faustina kelada Yesus. Komitmen ini pasti lahir dari hati yang berkobar-kobar oleh kasih akan Allah. Faustina telah mengalami kasih akan Allah yang sangat intens dan istimewa, layaknya sahabat. Cinta ini yang memancar keluar, menyebar ke sekitarnya dan seluruh dunia.

Memang, cinta yang benar dan sejati tak dapat ditahan dan disembunyikan. Pasti akan memancar keluar dan memengaruhi sekitarnya. Hati Faustina berbunga-bunga karena cinta, maka doanya begitu indah. Ya Yesus, akan kubantu dengan doa dan pengurbanan sehingga rahmat-Mu bekerja di dalam mereka. Menarik, penjelasan tema ini ; Tuhan harus tetaplah nomor satu. Langsung sesudah Tuhan, uruslah sesamamu yang terdekat, bukan dirimu sendiri. Tuhan dan jiwa-jiwa.

Merenung semua ini, aku tiba-tiba ingat kisah dalam Injil tentang ibu mertua Petrus yang sakit demam keras. Setelah disembuhkan Yesus, dia langsung bangun dan melayani mereka. Entah, mengapa merenung tema kita,saya jadi ingat kisah ibu mertua Petrus. Tampak bagiku ada sedikit mirip. Disembuhkan Yesus BUKAN sekadar untuk jadi orang sehat di dunia ini, tapi disembuhkan untuk melayani Tuhan dan sesama. Sekarang, aku ingat tema ini, dicintai Tuhan bergaul karib dengan Tuhan dalam doa dan melalui perenungan Sabda-Nya, merayakan Ekaristi dan latihan rohani lainnya, BUKAN untuk sekedar menjadi orang saleh, tapi dicintai untuk mencintai seperti Tuhan mencintai.

Faustina sampai  berdoa dan berjanji demikian kepada Yesus, setiap jiwa yang Engkau percayakan kepadaku, ya Yesus, akan kubantu dengan doa dan pengurbanan sehingga rahmat-Mu dapat bekerja di dalam mereka. Iya, sangat jelaspFaustina telah selalu dibantu Tuhan ( kita bisa ingat kisahnya awal mula sebelum masuk biara dan saat awal). Faustina sudah selalu didoakan Yesus ( seperti kita ingat dalam Injil Lukas ungkaoan Yesus kepada Petrus : ‘Aku telah berdoa untukmu, …)’. Dan kini Faustina berdiam dalam hati Yesus. Faustina mengalami kasih dan pergurbanan Yesus yang menyelamatkan kita dengan sengsara, wafat-Nya di kayu Salib. Sangat luar biasa, sungguh layak Faustina rindu membantu jiwa-jiwa yang dipercayakan kepadanya memeroleh rahmat Allah. Sungguh indah dan mengagumkan cinta Faustina begitu tulus dan murni untuk jiwa -jiwa.

Siapakah jiwa – jiwa yang dipercayakan kepadanya? Yang hidup bersamanya satu rumah, para suster, yang dilayaninya, anak asrama dan yang lainnya. Orang terdekat, sekitar kita yang dijumpai setiap hari. Sampai di sini, aku tercengang, lalu ingat siapa saja jiwa-jiwa yang dipercayakan kepadaku? Para susterku sekomunitas, sekongregasi, para karyawan di biara. Karena saya dipercayakan mengurus karya pendidikan, para guru karyawan, para muridku, para calon, oma opa di panti kami dengan karyawannya, belum lagi dalam pelayanan org sakit, oma opa lansia, dstnya. Saya terkejut sendiri. Ternyata banyak jiwa yang dipercayakan kepada saya. Entah yang sungguh-sungguh dirawat atau yang sekedar ada bersama, atau sesekali bertemu, yang menggantungkan nasib hidupnya pada pelayanan bersama kami atau yang sesewaktu butuh ditolong. Apa yang sudah kulakukan untuk jiwa-jiwa ini???

Hatiku jadi sedih, sebab ada jiwa yang ternyata kuabaikan, ada yang selalu didoakan, yang sering dibantu, tetapi juga ada yang jarang sekali aku bahkan hanya dalam doa umum tanpa menyebut nama mereka. Padahal mereka ada bersama kami, bekerja untuk kami dan layak dibantu. Aku juga ingat, ternyata aku telah melewatkan banyak waktu tanpa sungguh membantu jiwa-jiwa dengan doa dan sedikit kurban. Dan aku tahu, siapakah yang diabaikan? Mareka yang biasa-biasa, yang kurang menonjol dan berperan banyak, yang hina dina. Sungguh, aku merinding sendiri mengingat mereka. Kapan aku terakhir kali mendoakan mereka? Kapan aku terakhir menyapa mereka? Kapan aku pernah sekedar tersenyum atau menawarkan bantuan ringan? Juga jiwa-jiwa yang menyebalkan, yang buat masalah, yang tidak menarik. Aku lebih banyak tertarik dan bersimpati  dengan  jiwa-jiwa yang menyenangkan dan semuanya baik.

Ya Yesus, ampun, sungguh-sungguh aku mohon ampun. Merenung tema ini, aku merasa seperti didakwa. Ini bukan sekadar memperlihatan kepadaku, tapi aku merasa seperti dihakimi. Aku ingat kisah pengadilan terakhir. Segala sesuatu yang kau lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kau lakukan untuk Aku. Dan sebaliknya.

Di hadapan gambar Faustina yang kebetulan sudah lama terpampang di wisma ini, aku hanya bisa menatap sendu. Terima kasih Faustina untuk doa indah, komitmen cinta bagi jiwa-jiwa dan teladan kasihmu yang lembut memesona jiwa. Aku merasa kini, Faustina pasti sudah  lama berdoa untukku dari. surga, sehingga rahmat-Nya bekerja dalam diriku untuk menyadarkan dan mempertobatkan aku. Aku mau bertobat.  Tidak pilih kasih terhadap jiwa-jiwa supaya semua mendapatkan rahmat cinta.

Aku mengira selama ini, sudah cukup baik dalam doa dan kurban, cinta dan pengabdian. Ternyata renungan ini memporak-porandakan perasaan hati dan keyakinanku. Aku harus bongkar semua kemapanan pikiran dan tindakanku. Membiarkan jiwaku dibentuk ulang jadi baru, berjuang menomorsatukan Tuhan dan jiwa-jiwa tanpa memilih dan memilah, tetapi semuanya dibawa kepada Tuhan
Yesus maha rahim, ampunilah aku orang berdosa ini. Yesus Engkau andalanku. Kasihanilah jiwaku. Amin.*hm