Setiap perpindahan adalah suatu novisiat
Hari-hari kerja, pergulatan, dan penderitaan sudah dimulai. Segala sesuatu berlangsung menurut acara rutin biara. Orang selalu menjadi seorang novis, meskipun telah mempelajari banyak hal dan sudah mengetahui banyak hal sebab meskipun peraturan tetap sama, setiap rumah memiliki kebiasaan-kebiasannya sendiri; oleh karena itu, setiap perpindahan adalah suatu novisiat.

5 Agustus 1933. Pesta Bunda Allah Kerahiman. Hari ini, aku menerima rahmat yang besar dan tak terselami, suatu rahmat yang murni batiniah; atas rahmat ini aku akan bersyukur kepada Allah sepanjang hidupku, bahkan sampai ke alam abadi. (BHF 265-266)

 

Setiap perpindahan adalah suatu novisiat. Orang selalu menjadi seorang novis, meskipun telah mempelajari banyak hal dan sudah mengetahui banyak hal sebab meskipun peraturan tetap sama, setiap rumah memiliki kebiasaan-kebiasaannya sendiri; oleh karena itu, setiap perpindahan adalah suatu novisiat. Sungguh amat bagus dan mendalam pengalaman yang diungkapkan Faustina. Kenyataan memang demikian meski barangkali tidak banyak yang hidup dalam biara. Termasuk saya jarang menyandari bahkan sudah lupa apalagi saya termasuk yang agak lama di suatu komunitas, baru  dipindahkan. Kisah Faustina ini sungguh-sungguh masuk meresap dalam relung batinku. Orang selalu menjadi seorang novis

Memang menjadi seorang novis itu sungguh suatu pengalaman yang luar biasa, yang tidak bisa terulang kembali, karena ini pengalaman sangat istimewa. Dalam masa ini, terutama novis pertama yang biasa disebut tahun kanonik, seluruh waktu untuk belajar mengenal, mencintai Yesus Kristus. Waktu yang dipenuhi dengan doa-doa, renungan, meditasi, kontemplasi. Seluruh hari, hati, pikiran dan semuanya diarahkan kepada Tuhan. Pada masa ini, memang rasanya seperti di surga. Bagi saya, masa novis tahun kanonik meskipun banyak perjuangan, pergumulan dan tantangan tetapi indah. Semua terbimbing dan terpimpin, teratur dan tertata. Sebab masa ini menjadi dasar bagi pemula hidup membiara. Masa ini seperti masa ketika orang pacaran, penuh sukacita, kegembiraan, karena merasa sangat dekat dengan Yesus. Hati, pikiran jernih, murni, lurus, belum terkontaminasi dengan apa pun. Merasa akrab, karib dengan Yesus. Tidak heran, pengalaman masa ini menjadi penentu bagi novis untuk mengambil keputusan mau lanjut ikut Yesus dalam tarekat tertentu, setelah belajar dan mengalami sendiri atau mundur.

Masa ini indah, hati kami terbuka lebar, semangat membara, kemauan belajar yang tinggi, olah hidup rohani yang teratur, banyak waktu untuk berdoa, sungguh-sungguh hening, merenungkan firman Tuhan, refleksi. Banyak keutamaan hidup dilatih dan terbentuk dalam masa ini. Intinya berelasi dengan Tuhan yang intens. Setelah menyelesaikan masa novisiat, mengucapkan kaul perdana dan mulai berkarya, pindah dari komunitas novisiat ke komunitas karya, sudah sangat berbeda situasinya.

Faustina menguraikan dengan sangat baik dan tepat menjadi pengalamanku juga. Jika semangat seorang novis di komunitas baru, tidak seperti dalam masa novisiat, kita bisa kehilangan arah dan tujuan. Jika seorang suster yunior atau medior atau sudah senior sekali pun yang sudah banyak pengalaman hidup dan tahu banyak hal, tidak hidup dengan semangat seorang novis, bisa dipastikan mengalami banyak hambatan dalam hidup rohani. Barangkali maju dalam karya-karya tertentu yang diemban, namun belum tentu maju dan berkembang dalam kebajikan -kebajikan hidup membiara dan cinta kepada Tuhan. Sebab tuntutan seorang yang hidup membiara, barangsiapa mengikuti Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan mengikuti Aku. Hidupnya seutuhnya dipersembahkan kepada Tuhan, terserah Tuhan mau tuntun ke mana. Dengan penuh hormat, taat dan siap sedia penuh kasih.

Dari pengalaman aku alami, dalam masa novisiat itulah paling nyata bagaimana menyangkal diri, pikul salib, ikut Yesus. Melalui pemimpin novis, pembimbing rohani, bapa pengakuan dan pengajar, novis mengenal dan belajar menyusuri jalan ini. Masa-masa sesudah novisiat , rutinitas hidup harian : berdoa, bekerja, hidup bersama ( makan bersama, rekreasi bersama, pertemuan bersama) tuntutan karya yang makin rumit, relasi dengan sesama dengan aneka karakter, figur para pembesar/pemimpin, menjadi tantangan tersendiri yang tidak kalah serunya seperti dalam keluarga dan rumah tangga. Tuntutan, konflik, ketegangan menjadi bagian dari perjuangan hidup harian. Bila tidak memiliki semangat novis ( terbuka, taat, siap menerima, rendah hati, rela mengampuni, saling menghargai, menyangkal diri, mau mengalah, berpikir positif, tekun berdoa, saling percaya, saling memberi kesempatan kepada sesama yang lain, mendahulukan kepentingan sesama, jujur, bergembira, setia examen, dll), akan mengalami konflik batin, jenuh, membosankan,bahkan  tidak jarang bisa  angkat kaki. Kalau pun bertahan, menjadi orang sulit dalam biara, dan menjadi sumber salib bagi yang lain. Yang lain harus memikul salib karena kelemahan sesama. Dan inilah yang dialami Faustina dalam kisah-kisah hidupnya, dalam relasinya dengan sesama suster yang tidak memahaminya tetapi mempermainkannya. Andaikan tak bersemangat seorang novis, yang bergaul karib dengan Yesus dan olah laku tapa keutamaan, barangkali  bisa merasa seperti  di neraka.

Dalam semangat kasih yang tulus, niat yang murni dan hati penuh kasih yang berkobar-kobar kepada Yesus yang dicintai, Faustina mengalami sentuhan kasih yang istimewa dan rahmat yang luar biasa besar yang tak terungkapkan. Rahmat batiniah yang (kalau boleh ) saya namai rahmat kekuatan istimewa merasakan kehadiran Tuhan yang merasuk dalam jiwanya.  Sebagaimana kita renungkan, yang diminta dalam doanya Engkau, Yesus, harus terus-menerus berdiri di sampingku. Juga renungan dua hari lalu, tidak hanya Faustina mendengar sabda-Nya: “Jangan takut, Aku tidak akan membiarkan engkau sendirian!” Tetapi kini, secara nyata Faustina merasakannya, sungguh-sungguh dirasakan, dialami, sehingga secara tiba-tiba, segala hal yang lain, seolah hilang, tak berarti, lenyap dan tidak ada yang ditakuti. Dan ini dialami persis pada Pesta Bunda Allah Kerahiman. Faustina menerima rahmat istimewa dari kasih keibuan Bunda Maria.

Saya kira, kita semua pernah mengalami dalam suatu masa hidup kita, pada saat-saat terendah sekaligus saat di mana kita sangat berharap akan kasih Tuhan. Entah bagaimana kisahnya, suatu keajaiban kecil terjadi dan ini membuat kita sangat bersyukur dan mengubah hidup. Saya pernah alami saat seperti ini, yang bagiku menjadi suatu pengalaman puncak dan istimewa yang sangat meneguhkan  meyakinkan. Tak terungkapkan tapi berdampak dalam hidup.Saya jadi ingat, barangkali seperti tiga murid Yesus yang menyaksikan transfigurasi , Yesus dimuliakan di atas gunung. Menyaksikan, merasakan bahagia mendalam “sekilas saja” tetapi membekas dalam ingatan, merasuk dalam jiwa dan pada saatnya berbuah dalam realita.

Saya melihat korelasi indah dan erat antara semangat untuk selalu tetap menjadi seorang novis sampai kapan pun (akhir hayat) dengan rahmat istimewa yang diterima Faustina ada pesta Bunda Allah Kerahiman. Di mana letak kolerasinya?  Dalam semangat hamba, kedinaan, kesederhanaan dan kesahajaan Bunda Maria. Bunda Maria, gadis sederhana, penuh iman, dalam seluruh masa hidupnya. Semangat Bunda tidak pernah berubah, tetap memposisikan diri sebagai hamba Allah  sejak awal, bahkan dipilih jadi Bunda Allah, ikut menderita dan sampai Yesus wafat dan bangkit, sampai Pentakosta. Bunda tidak berubah. Tetap bunda yang sahaja, penuh iman dan cinta. Sejak fiatnya : “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu”,  terbukti, fiatnya mewujud untuk selamanya.

Menjadi biarawati hakekatnya menjadi hamba. Seorang novis belajar menjadi hamba sejak masa itu, dan seyogyanya tetap berlaku sebagai hamba yang makin sederhana, rendah hati selanjutnya dan selamanya. Seorang hamba , memang harus terus-menerus belajar menyesuaikan diri,untuk hanya melaksanakan kehendak tuannya saja seperti Bunda Maria. Dan persis , model ini pula menjadi model Faustina, tetap menjadi seorang novis meskipun telah mempelajari dan mengetahui banyak hal.

Merenung semua ini,  saya malu sendiri.  Sebab sudah lama saya lupa kalau di mana pun saya berada saya mestinya tetap bersemangat seorang novis. Terima kasih Faustina, kisahnya menyadarkanku. Bantu saya dengan doamu, supaya melalui SKR ini, saya boleh mengalami kembali inilah masa novisiat seperti pernah aku alami 30 tahun yang lalu. Yesus Kau andalanku.*hm