Aku tahu bahwa aku hidup bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk sejumlah besar jiwa-jiwa. Aku tahu bahwa rahmat Yesus diberikan kepadaku bukan hanya untuk diriku, melainkan juga untuk jiwa-jiwa. Ya Yesus, lubuk kerahiman-Mu sudah ditumpahkan ke dalam jiwaku yang adalah lubuk kepapaan belaka. Syukur kepada-Mu, ya Yesus, atas rahmat dan butir-butir salib yang Kauberikan kepadaku setiap saat dalam hidupku.
Kalimat Faustina yang langsung menyentuh hatiku hari ini adalah doanya: “Syukur kepada-Mu, ya Yesus, atas rahmat dan butir-butir salib yang Kauberikan kepadaku setiap saat dalam hidupku.”Aku merenung, mengapa Faustina bersyukur bukan hanya atas rahmat, tetapi juga atas butir-butir salib? Perlahan aku belajar memahami bahwa bagi Faustina, salib bukan lawan dari rahmat. Barangkali justru dalam butir-butir salib lah, rahmat bekerja paling nyata. Kesadaran bahwa hidupnya bukan untuk dirinya sendiri membuat Fautina rela menerima salib sebagai bagian dari pemberian diri untuk Tuhan dan jiwa-jiwa.
Salib bukan dicari, tetapi diterima; bukan dibanggakan, tetapi dipersembahkan. Dari sanalah kerahiman Allah mengalir bagi jiwa-jiwa.
Butir-butir salib itu sering kecil dan tersembunyi. Tidak selalu dimengerti orang lain, namun memiliki makna besar di hadapan Allah. Terutama ketika salib diterima dengan iman dan syukur. Salib tidak berhenti pada penderitaan, melainkan menjadi saluran rahmat. Di sanalah persembahan diri menjadi lebih nyata: rahmat membentuk hati, salib memurnikannya.
Dalam terang itu, aku kembali pada tulisan Faustina yakni ia tahu bahwa ia hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk sejumlah besar jiwa. Rahmat Yesus yang diterimanya tidak berhenti padanya; rahmat itu dititipkan untuk dibagikan melalui hidup yang dijalani dengan setia termasuk melalui butir-butir salib setiap hari. Hari demi hari.
Aku pun belajar melihat hidupku dengan lebih jujur. Yang Tuhan isi bukan kelebihanku, melainkan kepapaanku. Dan mungkin justru lewat hal-hal kecil yang berat, yang kupeluk sebagai salib, Tuhan sedang bekerja bagi diriku dan bagi jiwa-jiwa yang Ia percayakan kepadaku. Aku harus terus belajar mempercayainua, supaya tidak.mudah menolak salib tapi menerimanya dengan sukarela, suka hati dan sukacita, sebab pada saatnya, rahmat Allah akan bekerja, melampaui segala kelemahanku demi keselamatan jiwa – jiwa yang dicintai-Nya.
Yesus, Engkau andalanku.*hm
Recent Comments