RABU, PEKAN BIASA XVI
Kel. 16:1-5,9-15; Mzm. 78:18-19,23-24,25-26,27-28; Mat. 13:1-9.
Di padang gurun umat Israel mulai bersungut-sungut. Mereka tidak dapat menahan hati mereka untuk memberontak terhadap Allah karena persoalan makanan. Namun, Allah tidak menghukum mereka. Kepada mereka Allah bahkan menyediakan manna dan burung puyuh untuk memenuhi rasa lapar mereka. Manna dan burung puyuh menjadi tanda perhatian Allah kepada mereka. Dengan itu mereka diingatkan bahwa perjalanan mereka bisa berlanjut kalau mereka mau bertumpu pada bimbingan dan perhatian Allah. Pada kenyataan ini kepercayaan dan kesediaan untuk memerima kebaikan dan perhatian Allah dituntut.
Melalui perumpamaan tentang benih yang ditaburkan dan jatuh di pinggir jalan, di semak berduri, bebatuan dan tanah yang subur, Yesus mau menegaskan bahwa Allah dengan segala kekuatan dan kekuasaan-Nya memberikan dan menyelenggarakan yang terbaik bagi hidup manusia. Namun, kebaikan itu sangat tergantung pada sikap penerimaan setiap orang. Siapa yang mau menyediakan diri dan terbuka pada kebaikan Allah itu, dia akan tumbuh dan menghasilkan buah berlipat ganda.
Apakah aku telah membuka diriku seutuhnya sehingga Allah mampu berkarya di dalam diri dan hidupku? Bagaimana aku telah menumbuhkembangkan benih kebaikan yang telah ditaburkan Allah dalam diri dan hidupku?
Mari membuka diri kita seutuhnya sehingga Allah mampu berkarya di dalam diri dan hidup kita. Mari menumbuhkembangkan benih kebaikan yang telah ditaburkan Allah dalam diri dan hidup kita.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments