Perumpamaan tentang penabur  ( Markus 4 : 1-20) selalu menghadirkan gambaran yang sangat hidup. Saya terkesan pada sosok penabur yang menabur dengan sukacita, tanpa banyak perhitungan tentang untung dan rugi. Benih-benih itu jatuh di berbagai tempat: di pinggir jalan, di tanah berbatu, di semak belukar, dan di tanah subur. Penabur tahu bahwa tidak semua benih akan tumbuh dengan baik, namun ia tetap menabur.

Dari banyak benih yang dibawa dan ditaburkan, tampaknya hanya sedikit yang benar-benar jatuh di tanah subur. Ada benih yang sempat bertumbuh, tetapi tidak bertahan lama. Ada yang terhimpit semak belukar, ada yang kekurangan air, ada yang tidak tahan panas terik. Lingkungan dan media tanah sangat memengaruhi pertumbuhan. Namun justru di tengah kenyataan itu, Injil menegaskan bahwa meski sedikit, benih yang tumbuh subur mampu menghasilkan buah yang berlimpah.

Saya membayangkan kerinduan sang penabur: bukan sekadar menabur, tetapi melihat benih bertumbuh, terpelihara, dan menghasilkan buah. Namun penabur juga sadar bahwa pertumbuhan adalah sebuah proses panjang. Ia membutuhkan waktu, perhatian, dan banyak faktor lain yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Yang paling menyentuh saya adalah sikap penabur yang tidak berhenti menabur. Ia tidak menyeleksi tanah terlebih dahulu. Ia tidak menyerah karena hasil yang sedikit. Ia tidak menunggu kondisi yang ideal. Tugasnya tetap satu: menabur. Soal hasil, itu bukan wilayahnya sepenuhnya.

Bagi hidup beriman, perumpamaan ini menjadi penguatan yang mendalam. Kita dipanggil untuk terus menabur benih kasih dan kebaikan, apa pun situasi dan respons yang kita terima. Tidak semua benih akan langsung bertunas. Ada yang mungkin baru tumbuh esok hari, minggu depan, atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Ada pula yang seolah hilang begitu saja. Namun berhenti menabur berarti menutup kemungkinan berbuah.

Penabur menabur dengan iman yang berpengharapan. Ia percaya bahwa Allah sendiri yang memelihara benih-benih itu. Pada waktunya, Allah yang memberi pertumbuhan dan menghasilkan buah. Tugas manusia adalah setia pada panggilan: tetap menabur, meski hasilnya sedikit, meski prosesnya panjang, meski tidak selalu terlihat.  Renungan ini mengajak saya untuk tidak lelah berbuat baik. Jangan berhenti menabur kasih, perhatian, pengampunan, dan kebaikan. Karena benih yang hari ini tampak kecil dan tersembunyi, suatu saat—di waktu yang ditentukan Tuhan—dapat bertumbuh dan menghasilkan buah yang melimpah.*hm