Sungguh, saat yang mengerikan ketika orang wajib menyaksikan segala perbuatannya dalam kenistaan dan [kehinaan]; tidak satu pun dari perbuatan-perbuatan itu akan tersembunyi; semuanya akan menyertai kita menghadap penghakiman Allah. Aku tidak dapat menemukan kata-kata dan perbandingan untuk mengungkapkan hal-hal yang mengerikan seperti itu. Memang, aku mendapat kesan bahwa jiwa itu tidak dikutuk. Tetapi, jenis siksaan yang ditimpakan kepadanya sama sekali tidak berbeda dari siksaan neraka; perbedaannya hanyalah suatu hari siksaan ini akan berakhir. BHF 426

Kalimat ini langsung mengguncang hatiku: “Tak satu pun dari perbuatan-perbuatan itu akan tersembunyi; semuanya akan menyertai kita menghadap penghakiman Allah.”

Membaca pengalaman Faustina hari ini, aku merinding. Gambaran tentang jiwa yang menghadapi ajal, tentang kesaksian perbuatan-perbuatannya sendiri, sungguh mengerikan. Tanpa sadar, aku langsung teringat pada penghakiman terakhir dalam Matius 25. Segala sesuatu menjadi nyata. Bukan hanya perbuatan, tetapi juga pikiran, perasaan, niat, bahkan gerak batin yang tersembunyi—semuanya tampak di hadapan Allah.
Aku merasa tegang, bahkan takut. Tetapi di balik kengerian itu, ada kesadaran lain yang muncul dengan kuat: Allah begitu dekat. Sangat dekat. Bukan Allah yang jauh dan dingin, melainkan Allah yang Maha Tahu, yang menyelidiki hati dan menguji batin, seperti yang diungkapkan Pemazmur (Mzm 139). Masalahnya bukan Allah yang jauh, melainkan aku yang sering tidak sadar akan kehadiran-Nya.
Andaikan aku selalu sadar bahwa Allah hadir, tentu aku akan lebih berhati-hati, lebih jujur, lebih bertanggung jawab dalam hidup. Tetapi kenyataannya, aku adalah manusia lemah—lahir dalam dunia yang berdosa, hidup bersama orang-orang berdosa, dan sering tergoda oleh dosa yang terasa nikmat dan menyenangkan.

Membaca kisah Faustina, hatiku sedih dan iba terhadap jiwa yang digambarkannya. Namun pada saat yang sama, aku juga bercermin: bagaimana dengan diriku sendiri?
Syukur kepada Allah, di tengah ketegangan dan rasa takut itu, hatiku justru dihibur. Aku mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Selama aku masih hidup, selalu ada kesempatan untuk bertobat. Aku masih diberi waktu—di sini dan saat ini—untuk menata hidupku kembali.

Betapa indahnya Gereja dengan kekayaan kerahiman Allah: Sakramen Tobat yang merangkul dan menyembuhkan, Ekaristi yang menguatkan dan menyelamatkan, Sakramen Pengurapan Orang Sakit yang menopang dalam kelemahan. Bahkan setelah kematian pun, Gereja masih mendoakan jiwa-jiwa agar dilepaskan dan diselamatkan. Sungguh agung karya kerahiman Allah.

Hari ini aku menyadari: apa yang dilihat Faustina bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti aku , tetapi untuk membangunkan kesadaranku agar aku menata hidup dengan lebih serius, hidup dalam terang kasih, dan belajar melakukan karya kerahiman ilahi, baik jasmani maupun rohani. Agar jiwaku dan sebanyak mungkin jiwa lain, tidak jatuh ke dalam kebinasaan.

Pagi ini, di hari kedua masa Prapaskah ini, aku membaca dan merenung SKR sambil duduk menunggu keberangkatan di bandara. Aku memandang orang-orang di sekitarku—semua asing, tak kukenal, namun aku tahu, masing-masing membawa pergumulan dan harapan. Dalam hati, aku menyelipkan mereka dalam doaku.
Yesus, buatlah kami semua menggunakan waktu yang masih Engkau berikan ini untuk memuliakan kasih dan kerahiman-Mu dgn kata, tindakan dan doa.
YEsus, Engkau andalanku.Aku berharap padaMu, kasihanilah aku orang yang berdosa ini. Selamatkan aku oleh karena kasih setia-Mu.