SENIN PRAPASKAH V
Dan. 13:1-9,15-17,19-30,33-62 (panjang) atau Dan. 13:41c-62 (singkat); Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11
Bacaan hari ini menghadirkan dua kisah dramatis: Susana yang difitnah namun diselamatkan oleh Allah (Dan. 13), dan perempuan yang berbuat dosa yang diampuni Yesus (Yoh. 8). Kedua kisah ini berpadu dengan Mazmur 23 yang menegaskan: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Tema yang paling cocok adalah Tuhan sebagai Gembala yang membebaskan dari fitnah dan dosa, serta mengampuni dengan kasih-Nya.
Karena tidak mau menuruti keinginan dua orang tua-tua, Susana lalu diajukan dengan tuduhan palsu bahwa ia telah berbuat zinah. Atas tuduhan palsu tersebut ia dijatuhi hukuman mati. Dalam keadaan seperti itu, Susana hanya bisa berharap pada Allah untuk membebaskannya. Memang, Allah tidak tinggal diam! Dalam diri Daniel, Allah menyatakan diri-Nya menyelamatkan Susana.
Orang Farisi dan ahli Taurat ingin menjebak Yesus. Oleh karena itu, mereka membawa kepada Yesus seorang wanita yang kedapatan berzinah. Mereka sangat yakin bahwa Yesus akan terjerat oleh jebakan mereka. Yesus akan menghukum wanita itu, sebagaimana telah diatur oleh hukum Musa. Namun, di luar dugaan, Yesus justru menantang mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu!”. Mereka yang ingin menjebak Yesus itu pun pergi seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Lalu, kepada wanita itu dengan tegas Yesus mengatakan: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Sejauh mana aku telah membangun dan memiliki harapan yang teguh akan Allah dalam hidupku? Apakah aku sering menghakimi dan menyalahkan orang lain atau dengan rela mengampuni mereka? Apakah aku selalu mendengar penegasan Yesus ini: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”?
Allah adalah Gembala yang membebaskan dan mengampuni. Ia membela orang benar seperti Susana, Ia menuntun kita seperti dalam Mazmur 23, dan Ia mengampuni kita seperti perempuan dalam Injil. Mari kita hidup dengan iman teguh, hati penuh pengampunan, dan keberanian membela kebenaran.
Mari membangun harapan yang teguh akan Allah yang selalu menolong kita. Mari membangun sikap untuk rela saling mengampuni sesama kita, satu sama lain. Mari membangun hidup baru dalam semangat pertobatan.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments