29 Juli 1935. Ketika aku berbicara dengan pembimbing rohaniku mengenai berbagai hal yang diminta Tuhan dariku, aku pikir ia akan mengatakan kepadaku bahwa aku tidak mampu memenuhi semua hal itu, dan bahwa Tuhan Yesus tidak akan menggunakan jiwa-jiwa yang papa seperti aku untuk karya-karya yang ingin Ia laksanakan. Tetapi, aku mendengar kata-kata ini: bahwa hanya jiwa-jiwa seperti itulah yang paling sering dipilih Allah untuk melaksanakan rencana-rencana-Nya.
Imam ini pasti dibimbing oleh Roh Allah; ia telah menyelami rahasia-rahasia jiwaku, rahasia-rahasia terdalam yang ada antara aku dan Allah yang belum pernah aku katakan kepadanya sebab aku sendiri belum memahaminya, dan Tuhan belum memerintahkan aku dengan jelas untuk mengatakannya kepadanya.
Rahasia itu adalah: Allah menuntut agar ada suatu Kongregasi yang akan memaklumkan kerahiman Allah kepada dunia, dan dengan doa-doanya memperolehnya bagi dunia. Ketika imam bertanya kepadaku apakah aku tidak mempunyai ilham-ilham seperti itu, aku menjawab bahwa aku belum memiliki perintah-perintah yang jelas; tetapi pada saat itu juga suatu terang menembus jiwaku, dan aku tahu bahwa Tuhan sedang berbicara lewat dia. ( BHF 436)
“Aku tahu bahwa Tuhan sedang berbicara lewat dia.” Ini kalimat yang sangat menyentuh hatiku dari sekian semua permenungan hari ini.
Faustina datang dengan hati yang papa, membawa pergumulan tentang hal-hal besar yang diminta Tuhan darinya. Ia mengira akan diteguhkan dengan kalimat yang menenangkan hatinya bahwa ia tidak mampu, bahwa Tuhan tidak memakai jiwa-jiwa seperti dirinya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya yang ia dengar: Allah paling sering memilih jiwa-jiwa yang papa untuk melaksanakan rencana-rencana-Nya. Da Faustina termasuk jiwa yg dipilih Allah.
Di sini aku belajar bagaimana cara Allah bekerja dengan suatu cara yang sering tidak terpikirkan oleh manusia. Bahkan Faustina sendiri tidak memikirkannya. Namun ketika Allah menghendaki sesuatu, rencana-Nya akan berjalan—entah cepat atau lambat—dan pada waktunya akan terwujud. Yang diminta dari manusia bukanlah kemampuan luar biasa, melainkan keterbukaan hati untuk mendengarkan.
Faustina mengalami terang batin yang sangat jelas. Iia tahu bahwa Tuhan berbicara kepadanya lewat pembimbing rohaninya. Ini bukan sekadar nasihat manusia, tetapi sungguh merupakan sabda Allah yang disampaikan melalui orang yang dipakai-Nya. Rahasia yang belum ia pahami sepenuhnya, tentang panggilan untuk memaklumkan Kerahiman Allah kepada dunia mulai perlahan disingkapkan.
Merenungkan kisah ini, aku pun merasakan hal yang sama. Aku percaya bahwa Tuhan juga berbicara kepadaku, melalui Bpk Stefan dan teman-teman penulis SKR, para pendoa, pembaca. Ini nyata sekali bagiku. Kerahiman itu diwartakan terlebih dahulu kepadaku, menyentuh hidupku, lalu mengalir keluar dengan cara yang sederhana. Aku belajar juga untuk membagikannya dengan cara sederhana semampuku.
Aku semakin yakin bahwa kita semua, dalam cara yang kecil dan sederhana, menjadi bagian dari karya pewartaan Kerahiman Allah itu. In i sungguh nyata dan sedang berlansung. Sesuatu yang ada, hadir dan hidup yakni karya Kerahiman Ilahi, yang dipahami, dihayati, dihidupi, yang memancar keluar dari diri menuju dunia. Bukan sebagai kongregasi dalam pengertian formal, tetapi sebagai persekutuan jiwa-jiwa yang disentuh oleh kasih-Nya, yang memuliakan Kerahiman Ilahi dan mau membagikannya: melalui tindakan, doa dan perkataan.
Hari ini aku hanya bisa bersyukur. Tertegun menyaksikan dan mengalami bagaimana Allah bekerja dalam keheningan, diam-diam, lembut, dalam kelompok kecil sekolah kita, tetapi pasti. Dan aku percaya, jalan kecil yang sedang kita tempuh bersama dalam wadah SKR ini adalah salah satu cara Allah mewartakan Kerahiman-Nya bagi dunia. Dan warta sukacita KI itu telah kita alami dan bagikan. Semoga dengan bantuan doa Faustina, dan perkenaan Ilahi, semakin bertumbuhkembanglah karya Kerahiman Ilahi yang makin terbuka dan menjangjakau lebih banyak jiwa di dunia ini, saat ini dan nanti. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments