Sungguh, aku tahu bahwa Allah, karena Dia Allah, sudah berbahagia dalam diri-Nya dan sama sekali tidak membutuhkan suatu ciptaan pun. Meskipun demikian, kebaikan-Nya memaksa Dia untuk memberikan diri-Nya kepada ciptaan, dengan kemurahan hati yang tak dapat dipahami. (BHF 244).
Tuhan memberikan diri-Nya kepada ciptaan. Kebaikan_Nya memaksa Dia untuk memberikan diri-Nya kepada ciptaan, dengan kemurahan hati yang tak dapat dipahami. Sungguh indah dan mengagumkan misteri kasih Allah yang tak terbatas. Merenung dua teks ini, saya langsung teringat dengan inkarnasi Yesus Kristus. Allah menjadi manusia, tinggal di antara kita. Saya juga jadi ingat misteri kasih paling agung – sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.
Saya juga ingat misteri kasih yang selalu kita rayakan dalam Ekaristi bahkan setiap hari yang bagiku adalah pemberian diri Allah yang sempurna bagi ciptaan, dulu, sekarang dan selamanya. Renungan ini membangkitkan rasa syukur dalam jiwaku. Syukur, pujian, hormat dan kemuliaan bagi Allah Tritunggal maha kudus yang penuh kasih, rahim, dan murah hati yang memberikan segalanya dan terutama diri-Nya kepada ciptaan.
Tetapi, saya penasaran dengan kalimat “meski pun demikian, kebaikan-Nya memaksa Dia untuk memberikan diri-Nya kepada ciptaan, dengan kemurahan hati yang tak dapat dipahami. Kata memaksa ini sejak pagi saat membaca secara singkat sekilas agak sedikit mengganggu perasaan saya, karena tak baca keseluruhan, tak begitu paham konteksnya. Pertanyaanku dalam hati sepanjang hari ini. Mungkinkah ada unsur memaksa, dipaksa atau terpaksa dari pihak ALLAH terhadap diri-Nya, keilahian-Nya yang penuh kuasa sekaligus penuh kasih, rahim.dan murah hati? Tak terpikir atau tepatnya tak dapat kucerna. Menjelang akhir hari ini, tiba-tiba ada godaan dalam pikiranku “malas baca dan renung ulang dan berbagi di sekolah ini, toh tidak wajib, demikian godaan itu. Lagi pula, rasanya agak sulit dengan kata memaksa yang kurang kupahami. Aneh, meski kucoba abaikan dan melakukan yang lain tiba-tiba saja tertarik untuk membaca, merenung dan menulis. Saat hendak menulis, muncul semacam jawaban pencerahan atas rasa penasaranku dengan kata memaksa Dia untuk memberikan diri-Nya. Seperti ini kira-kira jawaban atas rasa penasaranku sejak pagi.”
Kasih dan kebaikan-Nya semata-mata yang mendorong Dia untuk memberikan diri-Nya keoada ciptaan. Sebab Allah sendiri hakekat-Nya adalah kasih, melulu hanya kasih semata-mata. Kalau kata memaksa ditulis Faustina dlm BHF 240 itu untuk SAYA. Saya merasakan suatu rasa hangat menyentuh hati saya, saya sangat terharu dan merasa tercerahkan. Mulailah dengan lancar terpampang jelas dalam benakku.Benar, adanya, tulisan ini untuk aku. Sebab dalam banyak hal kebaikan, kadang kala jika bukan karena kasih dan kebaikan yang mendorongku untuk melakukan sesuatu, minimal ada sesuatu yang memaksa aku untuk melakukannya. Seperti kisahku ini, terasa ada yang memaksa sebab aku telah tergoda untuk tidak melakukannya. Mengertilah aku, bahwa sungguh Allah memberikan diri-Nya kepada ciptaan karena cinta semata-mata.
Aku? Belum tentu memberikan diriku karena cinta. Belum tentu juga terdorong oleh cinta akan Allah lalu saya bergegas memberikan diri bagi yang lain. Teringatlah aku akan banyak pengalaman hidup yang “terpaksa’ dilakukan karena tidak ada pilihan lain, karena takut, karena malu, karena macam-macam hal lain, karena tidak tahu, tidak enak hati, karena balas budi, karena ada harapan tersembunyi atau perhitungan tertentu. Benar adanya. Allah sudah berbahagia dalam diri-Nya dan sama sekali tidak membutuhkan suatu ciptaan pun. Kasih dan kebaikan-Nya “Terpancar, terdorong keluar dengan sendiri-Nya untuk memberikan diri.
Renungan tema hari ini, bagiku sungguh suatu anugerah pencerahan akal budi dan hati, sekaligus memaparkan kepadaku, siapa diriku sebagai ciptaan di hadapan Allah. Kalau Allah saja setia memberikan diri-Nya setiap saat dengan kemurahan hati yang tak dapat dipahami ( rahmat ekaristi, semua sakramen, berbagai anugerah,dll), mengapa saya berdiam diri, tidak tergerak hati atau sulit memberikan diri? Penuh perhitungan, untung rugi?
Dorongan kuat dalam diriku usai renungan ini : “Bangkit dan berjalanlah! Bangun dan pergilah, engkau Kutunggu untuk membantu-Ku melakukan apa yang Kukehendaki demi kebaikan jiwa-jiwa. Tiba-tiba teringat lagu sekolah minggu yang seolah bernyanyi dalam hatiku. Yesus tak punya tangan lagi, tangan kita lah yang jadi tangan-Nya. Yesus tak punya kaki lagi, kaki kitalah yang jadi kaki-Nya. Yesus tak punya mata, mulut, telinga lagi, mata , mulut dan telinga kitalah yang jadi mata mulut dan telinga-Nya.
Hatiku dipenuhi sukacita, di tengah deru angin kencang disertai hujan rintik-rintik di malam ini, aku sudahi renungan ini dengan hati yang penuh sukacita. Terima kasih Sang.Guru Agung Yesus Kristus Kau andalanku..terima kasih Faustina untuk cintamu. Ajarlah aku untuk terus belajar memberikan diri-seperti-Mu sampai akhir.*hm
Recent Comments