Yesus, Kehidupanku, aku merasakan dengan baik bahwa Engkau sendiri sedang mengubah diriku menjadi diri-Mu, di dalam relung jiwaku tempat indra tidak lagi menangkap banyak.
Ya Juru Selamatku, sembunyikanlah aku sepenuhnya dalam lubuk Hati-Mu dan lindungilah aku dengan sinar-Mu terhadap segala sesuatu yang bukan Engkau. Aku mohon kepada-Mu, ya Yesus, biarlah kedua sinar yang telah memancar dari Hati-Mu yang maha rahim itu terus-menerus menyegarkan jiwaku. BHF 465
Merenungkan doa Faustina ini, hatiku tertuju pada kalimat terakhir ini , agar kedua sinar dari Hati-Mu yang maha rahim itu terus-menerus menyegarkan jiwaku.Aku merenung, apa arti “disinari” dan “disegarkan” oleh Yesus?
Dua sinar yang keluar dari Hati Yesus itu bukan sekadar simbol, tetapi sungguh aliran rahmat yang hidup. Sinar yang menyentuh jiwa, secara tetap dan terus-menerus.
Aku mulai mengerti, jiwaku ini sering lelah. Lelah oleh pikiran, lelah oleh pergumulan, lelah oleh kecemasan…bahkan kadang lelah oleh diriku sendiri yang kurang paham, kurang sadar, kurang kehendak dan kemauan baik yanh sungguh-sungguh. Dan sering aku mencoba menyegarkan diri dengan banyak cara, antara lain istirahat, kesibukan, bahkan healing tipis-tilis dengan aktivutas bersama atau kreativitas harian, berkebun, menanam, merangkai bunga, dengan piaraan yang lucu doggy atau catty, membaca buku kesukaan, beres-beres, bahkan melakukan kunjungan keluarga, menghadiri undangan pesta umat di lingkungan, namun semua itu tidak pernah benar-benar menyentuh kedalaman jiwaku. Tidak ada yang dapat menyegarkan jiwa secara dalam. Berbagai aktivitas positif yang dilakukan memang baik untuk memanfaatkan waktu dan mencegah aku dari hal-hal yang tidak berkenan. Tetapi jiwa tetap kering dan layu .
Aku diingatkan kembali dgn doa Faustina bahwa hanya satu yang sungguh dapat menyegarkan jiwa: yakni rahmat yang mengalir dari Hati Yesus. Dua sinar itu. Sungguh memiliki daya dan kuasa besar untuk memyentuh, mengubah. Aku boleh merasakan transformasi jiwa, transformasi hidup bukan karena usaha-usahaku tapi karena rahmat yang mengalir dari kedua sinar ilahi yang sungguh aku imani, menyembuhkan, memulihkan, membebaskan dan menyelamatkan.
Aku imani sebagai kasih dan kerahiman-Nya yang tak terbatas, yang menembus hati dan jiwa. Kasih yang menghangatkan jiwa yang layu, kering oleh berbagai-bagai beban hidup. Ketika kedua sinar itu menyentuh jiwaku, aku tidak hanya merasa lebih tenang, tetapi juga dipulihkan dari dalam.Jiwaku seperti diberi napas baru. Aku sudah tahu, jika hatiku lelah, stop sibuk dengan aktivitas lahiriah, yang bisa jadi godaan utk menutup diri dan tidaknmemberi ruang pada rahmat ilahi. Aku belajar saat jiwa butuh kesegaran, segera duduk manis menatap gambar YEA, berdialog, diam, hening dan membiarkan jiwaku dijamah dengan lembut.
Aku merenung…seberapa sering aku sungguh membuka diriku pada sinar itu? Kadang memandang sekilas saja, kadang di saat lain, rasanya waktu terlalu cepat berlalu untuk sekedar duduk berlama-lama. Faustina tidak hanya meminta…tetapi ia memohon agar sinar itu terus-menerus menyegarkan jiwanya.Artinya ini bukan pengalaman sesaat. Ini adalah relasi yang terus hidup. Aku pun rindu, bukan hanya sesekali merasakan kehadiran Tuhan, tetapi hidup dalam aliran rahmat-Nya setiap hari.
Tuhan Yesus, sinari jiwaku. Sembuhkan apa yang terluka…segarkan apa yang lelah, hidupkan kembali apa yang mulai layu di dalam diriku. Aku percaya penuh ketika aku membuka hati, kedua sinar itu tidak pernah berhenti mengalir menembus jiwaku. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments