MINGGU BIASA XIV “
Za. 9:9-10; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; Rm. 8:9,11-13; Mat. 11:25-30.

Liturgi Minggu ini menyingkapkan wajah Allah yang penuh kelembutan dan kasih. Zakharia menubuatkan Raja yang datang dengan rendah hati, Mazmur memuji Allah yang penuh kasih setia, Paulus menegaskan hidup baru dalam Roh, dan Yesus mengajak kita untuk menemukan kelegaan dalam kelembutan hati-Nya.

Ketika Israel mengalami penghakiman dan penghancuran yang amat dahsyat, nabi Zakharia tampil secara amat berani. Ia mengarahkan umat terpilih untuk mendengarkan nubuat tentang pemulihan dalam warta kedatangan raja yang dinantikan. Raja yang akan datang itu adalah penyelamat yang adil dan jaya. Namun, berbeda dengan harapan, gambaran, dan keinginan orang-orang Israel pada umumnya, Zakharia menegaskan bahwa raja yang akan datang itu bukanlah raja yang penuh kegagahan dan kegemerlapan. Ia adalah raja yang sangat sederhana, lemah lembut dan rendah hati. Ia tidak menggunakan kekuasaan dan kekuatan fisik atau peperangan untuk meneggakkan kerajaannya. Ia tidak mengendarai kuda yang cepat dan tangkas. Ia juga tidak menyandang perlengkapan perang dan mengerahkan pasukan perang. Sebaliknya, Ia menunggang keledai, hewan yang dianggap bodoh dan lamban yang hanya cocok untuk menjadi pemikul beban. Oleh karena itu, nabi Zakharia mengajak setiap orang yang percaya kepada penyelenggaraan Allah untuk bergembira dan bersukaria. Sebab sang raja terurapi itu ialah sosok yang tidak menakutkan dan tidak membuat siapa pun kehilangan kebebasan di hadapannya. Ia justru membuat semua orang yang datang kepadanya mengalami sukacita, damai, ketenangan dan kelegaan batin.

Dalam perikop yang amat singkat, Matius melukiskan bagaimana Yesus tampil menyampaikan penegasan yang amat cemerlang dan mendasar tentang identitas diri-Nya. Secara terang benderang Yesus menandaskan bahwa diri-Nya adalah Putera Tunggal Bapa. Antara diri-Nya dan Bapa terjalin persekutuan hidup yang sempurna dan utuh: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku”. Antara diri-Nya dan Bapa terjadi pengenalan yang sungguh mendalam dan sempurna: “tidak seorang pun mengenal Putera selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Putera. Pada pengenalan yang mendalam dan sempurna tentang Bapa inilah, Yesus menegaskan bahwa hanya diri-Nyalah yang mampu menyatakan siapakah Bapa itu kepada Putera-Nya itu berkenan menyatakannya.

Pertanyaan menarik untuk dicermati adalah kepada siapa sajakah Putera itu berkenan menyatakan siapakah Bapa itu? Secara manusiawi jawabannya tentu sangat terang dan jelas, yaitu mereka yang dianggap bijaksana, cerdik pandai, dan terpelajar. Namun Yesus justru menegaskan hal yang sebaliknya. Mereka yang berkenan adalah orang-orang yang dianggap kecil, rendah, miskin, bodoh dan tidak mengerti apa-apa.
Lalu, siapakah mereka itu? Mereka itu adalah semua orang! Siapa saja yang secara sederhana dan rendah hati mau membuka diri dan hatinya pada tuntunan dan bimbingan sang Putera Allah. Ia sendiri menegaskan: “….belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati….jiwamu akan mendapat ketenangan!”.

Dengan cara itu, Yesus menegaskan bahwa hanya diri-Nyalah yang dapat memberikan kepada siapa pengetahuan yang baik dan benar tentang Allah, Bapa-Nya. Oleh karena itu, Ia memiliki kuasa dan kewibawaan mengundang semua orang yang mencari kebijaksanaan sejati untuk datang kepada-Nya. Kepada semua yang datang kepada-Nya, Ia menjanjikan jaminan kesegaran dan istirahat kekal dalam sekolah kebijaksanaan-Nya.
Rasul Paulus menegaskan demikian: “ Saudara-saudara, kamu tidak dikuasai oleh hawa nafsu, melainkan oleh Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.…., jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup”.
Manusia zaman ini terlalu tinggi hati, congkak, dan sombong, pongah, dan kelewat percaya diri. Ia tergila-gila dan menggantungkan kepercayaan sepenuhnya pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolgi. Dengan demikian, jiwanya menjadi tumpul terhadap nilai-nilai spiritual dan iman. Ia menutup diri terhadap daya dan tuntunan Roh Allah.

Sebagai orang beriman, setiap kita dituntut untuk mencermati arus zaman ini. Jangan membiarkan diri kita terkontaminasi oleh kecongkakan, kesombongan dan arogansi dunia ini. Sebab, “ Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati”. (1 Ptr 5:5, Yak 4:6*

Siapakah aku di hadapan Allah yang aku imani itu? Apakah aku telah membiarkan hidupku sepenuhnya dituntun oleh Roh Kristus? Atau sebaliknya aku terlalu mengandalkan kekuatan diriku saja? Sejauh mana aku telah membuka diriku seutuhnya untuk datang dan belajar kepada Yesus sang Guru Kebijaksanaan yang lemah lembut dan rendah hati itu? Apa wujud kelegaan dan kesegaran yang telah aku timba dari Sang Guru Kebijaksanaan itu?
Hari ini kita diteguhkan untuk meneladani Kristus yang lembut dan rendah hati, percaya pada kasih setia Allah, dan hidup dalam Roh yang membebaskan. Dengan demikian, kita menemukan kelegaan sejati dan damai yang kekal.

Yesus mengundang setiap kita: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikulah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab, kuk yang Kupasang itu enak dan ringanlah beban-Ku”.
Tuhan memberkati. RD AMT