SABTU, PEKAN BIASA XIII “
Am 9:11-15; Mzm 85:9.11-12.13-14; Mat 9:14-17.

Liturgi hari ini menyingkapkan dua hal penting: janji Allah untuk memulihkan umat-Nya, dan ajaran Yesus tentang hidup baru yang tidak bisa disatukan dengan cara lama. Bacaan ini mengajak kita untuk percaya pada pemulihan Allah dan berani hidup dalam kebaruan Kristus.
Pada akhir pewartaanya, Amos menyatakan seruan dalam prespektif yang sangat positif dan membawa harapan. Amos menandaskan bahwa Allah mampu melakukan karya penyelamatan bangsa Israel dari kehancurannya. Sebab, Allah menghendaki keselamatan bukan kebinasaan. Sejak awal mula, Allah menghendaki manusia baik adanya.

Murid-murid Yohanes pembaptis yang menganggap praktek mati raga, seperti puasa adalah hal yang penting, mempertanyakan sikap para murid Yesus yang tidak berpuasa. Yesus memberikan jawaban yang sangat tegas melalui gambaran tentang kain dan anggur. Yesus menunjukkan betapa pentingnya “saat” atau “momen” yang harus dihadapi. Setiap murid-Nya harus selalu mencermati saat atau momen yang ada. Sebab, tawaran rahmat Allah selalu terjadi dalam saat atau momen yang ada. Kalau momen atau saat itu lewat, kesempatan rahmat Allah juga akan berlalu.

Bagaimana aku telah memanfaatkan saat atau momen tawaran rahmat Allah itu di dalam setiap peristiwa hidupku? Apakah aku telah membuka diriku seutuhnya bagi tawaran rahmat Allah?
Hari ini kita diteguhkan bahwa Allah selalu memulihkan umat-Nya, membawa damai dan keadilan, serta mengajak kita hidup dalam kebaruan Kristus. Mari kita membuka hati untuk pembaruan, sehingga hidup kita menjadi tanda kasih Allah di dunia.
Mari membuka diri terhadap saat atau momen tawaran rahmat Allah yang selalu ditujukan kepada kita setiap saat.
Tuhan memberkati. RD AMTT