Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga dengan kebajikan yang tidak terperikan, berilah agar kami selalu mengikuti teladan keluarga-Mu yang suci. AMIN

“…dengan kebajikan yang tak terperikan.”  

Bagi para suster yang telah lama hidup dalam Kongregasi, mungkin masih teringat bahwa dalam versi doa yang lama digunakan ungkapan “dengan kebajikan yang tak terkatakan.” Sekitar tahun 2003, ungkapan tersebut diperbarui menjadi “dengan kebajikan yang tak terperikan.”  Perubahan itu tampaknya sederhana. Namun semakin direnungkan, justru kata “tak terperikan” mengajak kita masuk lebih dalam ke dalam misteri kehidupan Keluarga Kudus.

Mengapa doa ini tidak mengatakan “dengan kekudusan yang tak terperikan”? Mengapa bukan “dengan kasih yang tak terperikan”? Mengapa justru menggunakan kata kebajikan? Semakin lama aku merenungkannya, semakin kusadari bahwa doa ini sesungguhnya sedang mengajarkan jalan menuju kekudusan. Kekudusan tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Kekudusan bertumbuh melalui kebajikan.

Ia dibangun oleh keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari: memilih sabar ketika mudah marah, tetap jujur ketika ada kesempatan berbuat curang, mengampuni ketika hati terluka, tetap setia ketika mulai lelah, bekerja dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan tekun, serta terus mengasihi tanpa menuntut balasan. Begitulah kebajikan dibentuk. Bukan dalam satu peristiwa besar, melainkan dalam ribuan tindakan sederhana yang dilakukan dengan cinta kepada Allah.

Semakin lama aku merenungkan bagian doa ini, semakin kusadari bahwa doa KKS sungguh sangat bijaksana. Doa ini tidak berkata, “dengan kekudusan yang tak terperikan.” Sebab kekudusan adalah buah. Yang membentuk buah itu adalah kebajikan. Kebajikan-kebajikan itulah yang tampak dalam kehidupan sehari-hari Keluarga Kudus di Nazaret.

Kasih Maria kepada Putranya. Kesetiaan Yosef terhadap tanggung jawabnya. Ketaatan Yesus kepada orang tua-Nya. Kesederhanaan hidup mereka. Kerja keras mereka. Keheningan mereka. Kesabaran mereka. Saling menghormati. Saling melayani. Hidup yang selalu terbuka terhadap kehendak Allah. Semuanya adalah kebajikan. Kebajikan yang hidup, yang nyata, yang dapat dilihat dan dirasakan oleh satu sama lain dan orang-orang lain. Karena kebajikan-kebajikan itu dihidupi setiap hari, kehidupan Keluarga Kudus menjadi kudus.

Injil memang tidak banyak menceritakan kehidupan Nazaret. Tidak ada mukjizat-mukjizat besar selama tiga puluh tahun kehidupan Yesus di sana. Tidak ada khotbah yang menggemparkan. Tidak ada sorotan banyak orang. Yang ada hanyalah kehidupan keluarga yang sederhana, sebagaimana kehidupan keluarga sederhana lainnya. Namun justru dalam kesederhanaan itulah bertumbuh kebajikan-kebajikan yang tak pernah habis untuk direnungkan. Mungkin inilah sebabnya doa KKS menyebutnya “kebajikan yang tak terperikan.” Bukan karena kita tidak mampu menyebut nama-nama kebajikan itu. Melainkan karena kekayaan hidup Keluarga Kudus tidak pernah dapat dilukiskan secara utuh oleh kata-kata manusia.

Semakin direnungkan, semakin tampak keindahannya. Semakin dihayati, semakin kita menemukan kedalaman yang baru. Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri. Bukankah hidup religius juga dibangun dengan cara yang sama? Jarang sekali seseorang menjadi kudus melalui satu keputusan besar.  Sebaliknya, kekudusan dibangun oleh kesetiaan menjalani hal-hal kecil setiap hari. Bangun tepat waktu. Hadir dalam doa komunitas. Menyapa saudari dengan ramah. Memaafkan ketika terluka. Menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab. Mengendalikan emosi. Mengucapkan terima kasih. Meminta maaf. Memberi maaf. Mendengarkan dengan sabar. Melayani tanpa mencari pujian. Semuanya tampak sederhana. Namun bila dilakukan setiap hari demi kasih kepada Tuhan, perlahan-lahan semuanya berubah menjadi kebajikan.

Dan kebajikan yang terus dipupuk itulah yang akhirnya membentuk kekudusan. Di sinilah aku menemukan hubungan yang begitu indah antara Keluarga Kudus, identitas spiritualitas KKS, dan khazanah  warisan Mgr. Vitus Bouma. Selama ini kita sering menyebut iman, kebijaksanaan, ketekunan, kesederhanaan, keberanian, semangat pelayanan, penghargaan terhadap martabat manusia, pembinaan kader, dan kesetiaan sebagai warisan rohani beliau. Bukankah semuanya itu adalah kebajikan? Ternyata Mgr. Vitus Bouma tidak hanya mengagumi Keluarga Kudus. Beliau berusaha menghidupi kebajikan-kebajikan yang bertumbuh di Nazaret.

Dan kini, sebagai Suster Dina Keluarga Kudus, kita dipanggil untuk melanjutkan warisan yang sama. Bukan pertama-tama dengan melakukan karya-karya besar. Melainkan dengan menumbuhkan kebajikan-kebajikan Keluarga Kudus dalam hidup kita sendiri, lalu menghadirkannya di tengah keluarga-keluarga yang kita layani. Sesungguhnya, inilah inti perutusan KKS. Kita tidak hanya dipanggil mendampingi keluarga. Kita dipanggil menghadirkan dan menumbuhkan kebajikan-kebajikan Keluarga Kudus di dalam setiap keluarga yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Karena keluarga tidak menjadi kudus hanya karena semua anggotanya beriman. Keluarga menjadi kudus ketika iman itu tampak dalam kebajikan-kebajikan yang dihidupi setiap hari. Mungkin inilah rahmat yang tersembunyi dalam bagian ketiga doa harian KKS. Tuhan tidak meminta kita melakukan hal-hal yang luar biasa. Ia terlebih dahulu mengundang kita untuk setia membangun kebajikan-kebajikan kecil setiap hari. Sebab dari kebajikan yang sederhana itulah lahir kekudusan. Dan dari keluarga yang dipenuhi kebajikan-kebajikan itulah dunia akan kembali menemukan Nazaret.