“Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga, dengan pemberian yang tidak terperikan, berilah agar kami selalu mengikuti teladan keluarga-Mu yang suci, Amin.

“…yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga…”  Sesudah menyebut nama Tuhan Yesus Kristus , doa harian KKS tidak langsung mengajukan permohonan. Doa ini terlebih dahulu mengajak kita mengenangkan sebuah karya agung yang telah dilakukan oleh Kristus, yakni  “…yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga…”

Semakin lama aku memikirkan kalimat ini, semakin aku menyadari bahwa Tuhan Yesus sebenarnya dapat memilih banyak cara untuk melaksanakan karya penyelamatan-Nya di dunia ini. Ia dapat langsung tampil sebagai Guru Agung, mewartakan Kerajaan Allah, atau menunjukkan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan sejak masa muda-Nya atau bahkan bisa saja tampil sebagai raja agung. Namun, bukan jalan itu yang dipilih-Nya.

Selama kurang lebih tiga puluh tahun, Yesus memilih tinggal di sebuah rumah sederhana di Nazaret, bersama Maria dan Yosef. Di rumah Nasaret, Ia bertumbuh sebagai seorang anak seperti anak-anak bias apada umumnya. Di sanalah Ia belajar bekerja dari Yosef di bengkel kayu. Di sanalah Ia mengalami kasih sayang keibuan Maria yang penuh kehangatan kasih sayang. Di sanalah Ia hidup dalam doa, kesederhanaan, ketaatan,kesalehen dan kerja sehari-hari. Mereka hidup hidup sebagaimana keluarga – keluarga pada umumnya.

Tiga puluh tahun kehidupannya berlangsung dalam suasana yang tampaknya biasa saja. Namun justru di sanalah Allah sedang mengerjakan sesuatu yang luar biasa. Apa yang sangat luar biasa itu? Ia telah menyucikan kehidupan rumah tangga.  Sejak saat itu, rumah tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal manusia. Rumah menjadi ruang kehadiran Allah. Meja makan menjadi tempat syukur belajar. Pekerjaan menjadi ungkapan terima kasih kepada anggota keluarga. Percakapan sarana menjadi membangun kehidupan. Keheningan ruang menjadi mendengarkan kemauan Bapa. Dan hubungan sehari-hari menjadi jalan menuju kekudusan.

Sangat tepat, jika Mgr Vitus Bouma, saat membangun Kongregasi ini disimpan dan memilih Keluarga Kudus sebagai pelindung.karena itulah samai hari ini Kongregasi Suster Dina Keluarga Kudus tetap setia dan tekun memelihara khazanah semangat Keluarga Kudus Nazaret sebagai pelindung dan teladan hidup. Tentu bukan semata-mata karena Yesus, Maria, dan Yosef hidup bersama sebagai sebuah keluarga, tetapi terutama karena melalui kehidupan merekalah Allah menampilkan bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama setiap anak manusia belajar menerima, belajar mencintai, belajar mengampuni, belajar bekerja, berlajar berdoa, bertumbuh, berkembang dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya.

Semakin aku berpikir, semakin aku terinspirasi dengan doa harian indah ini, yang semakin menarik perhatianku. Dalam doa ini tidak dikatakan:   “Tuhan Yesus Kristus, yang menyucikan kehidupan rumah tangga…”  Tetapi dengan sangat sadar berkata:  “…yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga.”  Kata “telah” mungkin tampak sederhana. Namun idealnya, justru di dalam kata kecil itulah tersimpan rahmat yang begitu besar. Kata ‘telah” menyatakan bahwa karya Kristus sudah lebih dahulu terjadi.

Yesus tidak sedang menunggu kita untuk mulai menguduskan keluarga. Namun, melalui hidup-Nya di Nazaret, Ia telah melakukannya terlebih dahulu. Dengan kasih-Nya kepada Bunda Maria dan Bapa Yosef; dengan ketaatan-Nya sebagai seorang anak; dengan kesetiaan-Nya menjalani kehidupan sehari-hari; Ia telah menjadikan keluarga sebagai jalan menuju kekudusan.

Kesadaran ini mengubah cara pandangku terhadap seluruh kerasulan KKS. Ketika mendampingi keluarga, mendidik anak-anak, membangun sekolah, mengunjungi umat, membina komunitas, melayani opa opa di panti, atau menghadirkan suasana kekeluargaan dalam setiap karya, sesungguhnya kami tidak sedang memulai sebuah karya baru. Kami hanya melanjutkan karya yang telah lebih dahulu dimulai oleh Kristus sendiri.

kadang-kadang tanpa sadar kita merasa bahwa segala sesuatu bergantung pada kemampuan kita. Kita ingin membangun keluarga yang lebih baik, sejahtera jasmani rohani, kita ingin mendidik generasi muda dengan sungguh-sungguh, dalam karya-karya pendidikan kita di sekolah dan asrama, kita ingin memperbaiki hubungan, menghadirkan kasih, dan menciptakan suasana penuh damai.

Namun doa ini mengingatkan kita bahwa Kristus telah lebih dulu hadir. Ia telah lebih dulu menguduskan kehidupan keluarga. Ia telah lebih dahulu menunjukkan jalan. Ia telah terlebih dahulu menaburkan kasih dan menebar damai. Tugas kita bukan menggantikan karya-Nya, melainkan mengambil bagian dalam karya yang sudah dimulai-Nya.

Di dalamnya aku menemukan penghiburan yang begitu besar. Aku tidak berjalan sendirian. Saya tidak memulai dari titik nol. Saya hanya melanjutkan jejak kaki Kristus yang telah lebih dulu melintasi jalan Nazaret. Inilah rahmat yang tersembunyi di bagian kedua doa harian KKS. Setiap kali saya mengucapkan kalimat ini, saya diingatkan bahwa panggilan saya bukan sekadar melakukan sesuatu bagi keluarga-keluarga. Panggilanku adalah mengambil bagian dalam karya Kristus yang telah menguduskan kehidupan keluarga. Dan selama Kristus tetap menjadi pelaku utama karya itu, saya dapat melangkah dengan tenang, penuh harapan, dan penuh kegembiraan. Karena segalanya telah dimulai oleh Kristus, disucikan oleh Kristus. Bersama Kristus aku berjalan dan berjuang agar kekudusan itu semakin tampak dalam kehidupan sehari-hari yang sederhana.

Tuhan Yesus Kristus yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga dengan kelimpahan yang tidak terperikan, berilah agar kami selalu mengikuti teladan keluarga-Mu yang suci, Amin.